Takdir tetaplah takdir

1980 Kata

Astaga! Diva hanya geleng kepala, “jadi aku diajak kesini hanya ditinggal tidur? Dasar!” Diva lalu melangkah masuk ke dalam kamar Jonathan. Ia melihat ke sekeliling kamar Jonathan. Kamar itu terlihat sangat rapi, padahal itu adalah kamar cowok. Lebih tepatnya kamar yang jarang Jonathan pakai, karena keseharian Jonathan di apartemennya. Makanya kamarnya rapi, karena ada pembantu yang membersihkan dan merapikan kamarnya. Sepertinya Diva lupa deh. Diva duduk berjongkok di tepi ranjang. Ia menatap wajah tampan Jonathan yang tengah terlelap dalam tidurnya. Apalagi saat melihat bulu mata Jonathan yang lentik. Membuat semua orang iri saat melihatnya. Tak terkecuali Diva. “Kalau tidur gini kamu begitu menggemaskan. Apalagi bulu matamu yang panjang dan lentik itu. Aku bahkan sempat iri. Bulu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN