Sudah setengah jam Jonathan mengelilingi komplek, tapi sampai sekarang, ia belum menemukan si tukang martabak. Astaga! Kemana lagi gue harus mencari tu tukang martabak. Kenapa juga Diva ngidamnya jam sigini. Jonathan merasakan getaran di saku celananya. Ia lalu mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya di jam segini. Biasanya Jonathan akan langsung tersenyum saat mendapatkan telpon dari si penelpon, tapi kali ini ia menghela nafas panjang, karena bingung mau berkata apa saat ia menjawab panggilan itu. Tapi, Jonathan tak ada pilihan lain selain menjawab panggilan itu. Kalau gak dijawab salah, karena pastinya si penelpon akan mulai mengkhawatirkannya. “Ya, Sayang,” sahutnya saat panggilan itu mulai tersambung. “Sudah dapat belum martabaknya? Kenapa kamu lama sekali?”

