Jonathan tak tau harus berkata apa lagi. Semua sudah dilakukannya untuk membujuk Diva agar mau menerima lamarannya. Tapi, ia merasa semua usahanya kali ini akan sia-sia. Mungkin dirinya lah yang salah, karena telah menyembunyikan semua kenyataan ini dari Diva. Andai dulu ia mengikuti kata Dina untuk segera memberitahu Diva tentang semua kebenaran itu, semua tak akan menjadi serumit ini. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Jonathan hanya bisa pasrah dengan keputusan yang akan Diva ambil nantinya. Jonathan menghela nafas, ia lalu menutup kembali kotak beludru berwarna merah itu, setelah tak mendengar satu kata pun keluar dari mulut Diva. Jonathan berasumsi kalau Diva menolak lamarannya. Mungkin posisinya di hati Diva sudah tergantikan oleh orang lain. Bahkan ia bisa menebak siapa pria itu.

