A - AIB ITU KARTU AS-NYA DAVI

1960 Kata
           Naya berjalan menghampiri mejanya dengan wajah semerawut. Semua teman kelasnya tahu apa yang telah terjadi pada gadis itu. Dibilang ngenes, iya. Prihatin, juga iya. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan selain men-support dari belakang. Mereka hanya berharap Naya bisa tabah dalam menghadapi kakak kelasnya yang satu itu. Well, yang di hadapi sama Naya ini adalah DAVI, cowok kelewat ganteng yang paling tidak bisa dibantah apalagi dilawan. "Gue enggak ngerti lagi harus kayak gimana. Sumpah makan ati. Hiks ... pengen nangis rasanya," rengek Naya sambil menghentak-hentakkan kakinya pada lantai. Antara frustasi, kesal, dan jengah. "Dikerjain sama kak Davi lagi?" Naya memutar bola matanya menatap Ranita. "Menurut lo?"  Ranita hanya bisa menghembuskan nafasnya berat. Ia juga sebenarnya prihatin dengan keadaan sahabatnya itu. "Makin hari lo keliatan makin menyedihkan, Nay."  "Bukan menyedihkan lagi, Ran. Tapi bener-bener mengenaskan tahu gak?!" ralat Naya kesal. Ranita mengangguk membenarkan. "Tahan, Nay. Tiga minggu lagi," sambung Novitri ikut prihatin. "Gue enggak bisa bertahan lebih lama lagi!!! Davi tuh bener-bener kayak psikopat wajah malaikat! Tekanan batin gue lama-lama!" gerutu Naya. "Tuh orang pengen liat gue mati apa gimana, sih? Kesel gue!" ujarnya lagi. "Siapa yang pengen liat lo mati?" celetuk seseorang yang entah sudah sejak kapan berdiri diambang pintu sambil melipat kedua tangannya di atas d**a. Naya langsung memejamkan matanya sesaat lalu menunduk. Ia tahu milik siapa suara tegas itu. Seketika suara kelas pun menjadi hening akibat kedatangan Davi. "Nay, kak Davi tuh," ucap Novitri menyikut lengan Naya.  "Udah tahu."  "Samperin gih," sambung Ranita.  "Nyamperin dia mah sama aja nyerahin nyawa tahu, gak?!"  Davi langsung berjalan mendekati bangku Naya dan berdiri di depannya. "Lo berdua bisa pindah, gak? Gue ada urusan sama nih cewek," ucapnya sambil menunjuk Naya dengan gerakan dagu.  "I—iya, Kak. Bisa kok," jawab Ranita cepat. "Nay, kita pergi dulu, ya."  "Gue doa'in semoga lo terbebas dari semua mahluk yang mencoba bermaksud jahat," bisik Novitri.  "Gue denger!" celetuk Davi ketus. Novitri langsung menunduk dan berbalik menyusul Ranita ke arah belakang.            Davi menatap ke seluruh penjuru kelas dengan tatapan memperingatkan. Seketika semua penghuni kelas langsung kalang kabut dan berpura-pura sibuk dengan urusan masing-masing. Walaupun begitu, tetap saja mereka akan memasang telinga lebar-lebar demi mendapatkan informasi yang akurat dari sang Kakak kelas. Ia berjalan beberapa langkah kemudian duduk di samping Naya. Beberapa saat mereka hanya saling diam sampai akhirnya Davi buka suara.  "Pulang sama gue!" perintahnya pelan hampir tak terdengar. Tatapannya lurus ke arah papan tulis.  "A—apa?"  "Nggak ada pengulangan."  Naya memberanikan diri mengangkat kepalanya dan melirik cowok di sampingnya. "Ta—tapi, Kak? Sa—"  "Kenapa?" Potong Davi cepat sambil menatap gadis di sampingnya tajam. "Sa—saya ada eskul," ungkap Naya dengan nada pelan. Dari mata setajam silet itu, Naya bisa melihat ketidaksukaan Davi atas bantahannya di sana. "Gue tungguin!" tegasnya.  "Tap— iya deh Kak," ucap Naya pasrah pada akhirnya.  "Bagus!" Davi langsung bangkit dari duduknya dan melenggang pergi dari kelas Naya. Ranita dan Novitri langsung berjalan menghampiri Naya. Suasa kelas pun kembali riuh seperti biasa.  "Kak Davi bilang apa, Nay?" tanya Ranita.  "Ngajak pulang bareng," jawab Naya lemas.  "Huaaa gue nggak tahu rencana apalagi yang dia bikin buat ngerjain gue. Rasanya gue pengen mati aja," rengek Naya benar-benar frustasi.  "Sabar Nay, sabar ...." Ranita mengusap lembut punggung Naya. Berharap sahabatnya sedikit lebih tenang. "Kesabaran gue udah abis, Ran! Rasanya gue pengen ngundurin diri aja dari sekolah ini terus nyari sekolah lain. Hidup tentram, aman dan nyaman."  Bersamaan dengan itu, bel tanda waktu istirahat habis pun berbunyi. Novitri langsung bangkit dari duduknya.  "Gue balik ke kelas dulu, ya. Udah jangan terlalu di pikirin ucapan kak Davi mah. Berdoa aja supaya ada keajaiban."  "Gimana gak dipikirin, coba? Yang di hadapain tuh Davi! D-A-V-I. Cowok paling gila sejagat raya! Gue bisa napas sampe sekarang aja masih untung!" gumamnya yang masih sangat kesal.            Karena katanya, berdoa sebanyaknya pun jika urusannya sudah dengan Davi —cowok paling resek, seenaknya, dan mahal senyum— kecil harapan akan terkabul. Mau menghindar juga percuma. Mata Davi itu sudah mirip seperti buah mengkudu, banyak dan ada dimana-mana. Niat melawan pun percuma ... jauh dari kata mungkin bisa menang. Jadi, daripada buang-buang tenaga tapi tidak menghasilkan apa-apa, lebih baik pasrah dan menurut saja.           Suasana kelas langsung kondusif saat ketua PMR memasuki kelas. Naya dan Ranita yang sedang asyik mengobrol pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah depan. "Baiklah, eskul kali ini cukup sampai di sini karena waktu juga sudah semakin sore. Jangan lupa materi yang tadi disampaikan dipelajari lagi karena minggu depan, kita akan mulai praktek. Ok?"  "Ok Kak," jawab serempak semua anggota.  "Sebelum pulang, mari kita berdoa sama-sama dengan agama dan keyakinan masing-masing. Berdoa, mulai ...." Seketika ruangan pun hening dan semuanya pun mulai berdoa.  "Selesai. Hati-hati di jalan. Sampai ketemu minggu depan," ucapnya undur diri lalu berjalan keluar kelas. Satu persatu, para anggota PMR pun ikut keluar kelas hingga menyisakan Naya dan Ranita.  "Gimana, nih?" tanya Naya cemas.  "Gimana apanya?"  "Ada tanda-tanda Kak Davi, gak? Kok firasat gue nggak enak, ya?"  "Emang sejak kapan firasat lo enak kalau berhubungan sama Kak Davi?"  "Belum pernah, sih ...."  "Ya udah buruan balik, yuk?"  "Lo jalan duluan, ya? Liat keadaan sekitar."  "Iya-iya." Ranita lalu berjalan lebih dulu ke arah pintu. Pandangannya langsung tertuju pada lapangan dan tempat parkir. Karena biasanya, Davi memang selalu ada di sana sekedar untuk bermain basket sepulang sekolah atau nongkong di parkiran. "Kak Davi enggak ada di lapangan, Nay. Motornya juga gak ada di parkiran," lapor Ranita.  "Aman, dong?"  "Aman-aman," timpal Ranita. Pandangannya masih terfokus ke arah parkiran.  Naya langsung menghampiri Ranita di ujung pintu. "Ya udah buruan balik, yuk? Sebelum kak Davi nongol tiba-tiba."            Dengan cepat Ranita mengangguk. Ia langsung berbalik dan betapa terkejutnya Ranita saat melihat sosok yang barusan di carinya sedang bersandar dengan santainya pada tembok.  "E—eh ada kak Davi ..." ucap Ranita sambil menebar senyum. Berusaha untuk tidak terlihat kaget. "Kenapa nyariin gue?" tanyanya sambil melirik ke arah Renita.  "Eh? I—Itu ...."  Mampus gue! Harus jawab apaan ini? umpat Ranita dalam hati.  Dasar Ranita dodol!!! Katanya aman, enggak ada tanda-tanda Davi. Lha ini? Tamat sudah riwayatku, Tuhannnnnn ... gerutu Naya dalam hati. "Ng—nggak kenapa-kenapa kok, Kak."  "Kan ... Kak Davinya udah ada nih, Nay. Jadi, gue balik dulu, ya. Bye, ati-ati," ucap Ranita buru-buru dan bergegas pergi. Sorry Nay, Sorry banget ...  "Kenapa? Ngarep gue lupa?" tanyanya menatap Naya intens. Ia mengubah posisinya menjadi berdiri tegap.  Maunya sih gitu, jawab Naya dalam hati.  "Yuk, buruan pulang," ajaknya sambil melirik arloji yang melingar di tangannya. "Ta—tapi ...."  "Kenapa? Enggak mau balik sama gue?" Davi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan menatap Naya dengan tatapan serius. Nah itu lo tahu! "Lo tenang aja. Gue gak bakal ngapa-ngapain lo. Gue jamin selamet sampe rumah. Kalau itu yang lo takutin," ujarnya kalem.  Ngejamin selamet sampe rumah apanya? Tipe-tipe cowok semaunya sendiri kayak lo itu, muka, ucapan, sama niat gak pernah bisa di tebak. Ngomong A, kejadiannya B, ngomong B, kejadiannya C. Gimana mau percaya? terocos Naya dalam hati. "Ck! Lama!" Davi langsung menarik tangan Naya dan berjalan melewati koridor.  Eh, eh? Apa-apaan, nih? Kok main tarik-tarik aja, sih? "Stop-stop Kak," ucap Naya lancar. Tidak terbata-bata seperti biasanya. Davi langsung berhenti dan menoleh. "Kenapa?"  "Em ... Itu, Kak ... bisa enggak? Enggak usah kayak gini? Gak enak diliat sama yang lain," ucap Naya hati-hati. Takut takut kalau Davi tersinggung. Bisa kelar hidupnya.            Davi menaikkan satu alisnya tidak mengerti. Tapi, beberapa detik kemudian ia paham apa maksud dari ucapan Naya. Di tatapnya cewek itu lekat. "Gue gak peduli!" tegasnya tanpa sedikitpun ada celah bisa di bantah. Ia kembali menarik Naya dan berjalan menuju gerbang utama.            Selama melewati koridor, mata Naya disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya ingin kabur saat itu juga. Ada yang menatapnya horror, sinis, bahkan seolah ingin memakannya hidup-hidup. Latar belakang dari semua itu tidak lain karena mereka sama sekali tidak ikhlas, cowok setingkat Davi dekat dengan cewek model Naya. Sudah kecil, imut lagi. Meskipun mereka juga tidak memungkiri jika Naya punya wajah manis yang lumer. Tapi, kembali lagi pada prinsip kalau manis saja tidak cukup untuk bisa menjadi pendamping Davi.            Akhirnya, Naya bisa bernapas lega karena sudah terbebas dari tatapan semua menyebalkan itu. Rasanya ia ingin mencekik mereka satu persatu kalau hukum pidana tidak berlaku di negara ini. Kayaknya, hidup gue bakal makin berantakan setelah ini, keluh Naya dalam hati.  Davi melepaskan genggamannya. "Lo tunggu di sini. Jangan kemana-mana. Jangan coba-coba kabur atau gue bakal bikin waktu kesepakatan kita bertambah jadi 6 bulan!" tegasnya tak tanggung-tanggung. Naya melongo seketika.  Apa? 6 bulan katanya? Mending main bunuh bunuhan aja yuk, Dav??? "Gue mau ambil motor ke warungnya Ceu Susi, bentar. Jangan coba kabur! Inget kata-kata gue barusan," katanya dan langsung melenggang pergi.  "Aaaaaarrrgghhtt! Dasar resek! Nyebelin! Tukang ngatur! Tukang merintah! Apa-apa seenaknya! Ke laut aja sana!!!" jerit Naya sambil mengepal kedua tangannya kesal.            Selama perjalanan, keduanya hanya saling diam. Davi seolah fokus pada jalanan, sedangkan Naya tidak berhenti berdoa dalam hati, meminta pada Tuhan untuk mempercepat waktu supaya bisa cepat sampai di rumah. Tapi sepertinya harapan Naya harus kandas karena di tengah perjalanan, Davi tiba-tiba membelokkan motornya ke sebuah warung nasi padang.  "Lho, kok kita kesini, sih?" tanya Naya refleks sambil mengernyitkan alisnya. "Gue mau makan. Terus kenapa?" tanya Davi balik sambil memarkirkan motornya.  "Kan, makannya bisa entar kalau abis nganterin saya pulang," jawab Naya cepat. Tapi, sepersekian detik kemudian ia langsung sadar dan merutuki kebodohannya itu.            Davi membuka helmnya dan menatap Naya lekat. "Pertama, gue bukan ojek pribadi lo. Kedua, jadi maksud lo gue disuruh makan sendiri, gitu? Yang bener aja! Dan ketiga, mendingan lo turun sekarang juga, temenin gue makan karena gue udah laper!" tegasnya penuh penekanan. Naya sadar, saat ini dirinya sudah membangunkan singa yang bersarang di tubuh Davi. Astaga Nay ... Lagian lo b**o banget sih pake acara ngomong gitu segala? Hancur sudah, Nay. Hancur hidup lo!!!  Tidak mau membuat cowok itu semakin murka, Naya langsung turun dari motor dan berjalan memasuki warung nasi padang tersebut. Davi memilih meja pertama di sebelah kiri dekat dengan televisi yang ada di pojok atas ruangan. Sepertinya itu adalah tempat favoritnya. "Bu, nasi padangnya dua ya," ucap Davi.  "Minumnya mau apa?"  "Yang biasa aja, Bu."  "Tunggu sebentar, ya." Dengan cepat Davi mengangguk.  "Kok pesennya dua, Kak?" tanya Naya hati-hati. Takut salah ngomong lagi.  "Kenapa? Gue enggak mau ya, lo kurus cuman gara-gara ngadepin gue. Itu konsekuensi lo yang udah—"  "Stop stop! Enggak usah di lanjutin."  Davi tersenyum tipis. "Oke."  "Tapi, saya enggak lapar," ungkap Naya kemudian. Namun, tiba-tiba saja perutnya berbunyi seolah cacing-cacing yang ada di dalamnya demo serentak minta diisi.  "Itu yang lo bilang gak lapar?"  Naya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia benar-benar malu kuadrat. Duhhh kenapa sih, nih perut kudu bunyi sekarang? Kenapa enggak nanti aja pas di rumah? Gila malu gueeee!!! Tak lama pesanan pun datang lengkap dengan dua gelas es teh manis.  "Kak, saya gak usah ikut makan, deh. Dibungkus aja, bisa? Biar saya makannya di rumah aja."  Davi berhenti mengaduk-ngaduk makanannya. Di tatapnya cewek di hadapannya dengan tatapan yang tak terbaca apa maksudnya.  "Gue gak setega itu ngebiarin cewek kelaparan. Kalau mau lo boleh nambah atau bisa pesen lagi buat dibawa pulang. Gue yang bayarin," ucapnya lalu kembali sibuk dengan makanannya. Hiks, gak gitu juga kali Dav!!! Duh nih cowok, ya! Gue minta dibungkus tuh biar gak makan bareng lo kayak gini. Berdua lagi. Bukannya saking kelaparan! Kelaparan, ya? Tapi iya, sih. Gue emang kelaperan. Hiks, miris banget sih Nay nasib lo!!! gumam Naya dalam hati sambil cemberut.  Davi melirik sekilas. "Masih enggak mau makan juga?" Seketika Naya sadar dari lamunannya.  "Perlu gue suapin?"  "Eh? Ng—nggak usah, Kak. Kalau Manu Rios yang nyuapin baru mau."  "Bilang apa?"  "Ng—nggak, Kak. Saya cuman bilang kalau saya bisa makan sendiri," ujar Naya mencoba meyakinkan Davi. Davi hanya menaikkan kedua alisnya lalu kembali menyantap makanannya.  Hiks! Ya Allah ... kapan musibah ini bakal berakhir?  *To be continue ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN