Keesokan harinya aku sudah sampai di rumah orang tuaku di Jakarta. Tapi aku menahan diri untuk tidak menemui Shara yang tinggal di dekat rumahku. Semua itu kulakukan untuk menjalankan rencanaku dengan lancar. Dan saat menjelang malam tiba, aku dan kedua orang tuaku, sudah siap dengan pakaian formal kami. Penampilanku malam itu sangat sempurna. Aku yakin, gadis mana pun akan terpana akan ketampananku, termasuk Shara. Jantungku berdetak tidak karuan sejak tadi, deg-degan karena sebentar lagi aku akan menemui wanita yang kucintai. Beberapa kali, aku berusaha menetralkan kegugupanku saat menjelang pertemuan dengan Shara. "Erick..." Mama memanggilku dari luar kamar. "Masuk aja Mah." Sahutku dari dalam kamar. "Eh anak Mama tampannya." Mama tersenyum tipis melihatku. "Cuma makan malam sama

