"Bukankah kalian saling cinta?" tanya Maria lagi. "Kenapa harus putus?" "Bisa diam tidak?" tekan Tian. "Tidak usah banyak tanya!" lanjutnya lagi. Maria sontak mendengkus lalu melipat kedua tangan dan bersandar lurus ke depan. "Aku hanya tanya, kenapa harus marah. Dan lagi, kenapa juga harus di depanku saat memutuskan dia." Tian tidak peduli dengan ocehan Maria. Kalau dipikir-pikir, kenapa juga Tian mengajak Maria? Tian jadi mulai kepikiran hal itu. Sampai di kantor, Tian turun lebih dulu. Tidak seperti tadi, kini Tian membukakan pintu untuk Maria. "Menjauhlah!" pinta Maria. "Aku tidak mau digosipi orang kantor karena dekat-dekat dengan pimpinan perusahaan." "Tidak ada siapa pun di sini." Tian menarik jasnya, melonggarkan dasinya lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Maria di parkira

