"Bersikap yang bagaimana?" "Seperti ini. Seharian ini kamu membuatku pusing." "Bagaimana bisa? Kamu sendiri yang memusingkan diri." "Cukup, Maria," tekan Tian. "Baik, aku minta maaf. Aku hanya sedang lepas kontrol kemarin." Maria tertegun tidak percaya. "Tian minta maaf? Apa aku mimpi?" Batinnya. *** Bab 42 Mau Apa? Siang harinya, mereka pulang dalam satu mobil. Sebelumnya, Tian sudah menyuruh sopir kantornya untuk mengambil satu mobil yang kemarin di bawa Maria. Perjalanan yang jauh, membuat Agam yang duduk di jok belakang mulai tertidur. "Apa memang kamu sengaja menghindar?" tanya Tian. Maria yang semula masih menoleh ke belakang--memandangi Agam--kini menatap Tian. "Tidak juga." Maria kembali duduk menghadap lurus ke depan. "Aku hanya ingin menenangkan diri saja. Bukankah aku

