Setelah Salsa tidak terlihat lagi, saat itu juga Tian mendesah berat. Ia memejamkan mata dam mencengkeram sandaran kursi kuat-kuat dan rahang pun mengeras. Setelah menghela napas lagi, kemudian Tian beranjak dari ruang makan. Tian melangkah cepat menuju kamarnya di lantai atas. Namun, sesampainya di sana, Tian mendapati kamarnya terkunci dari dalam. Beberapa kali Tian memutar knop pintu, tetap tidak terbuka. "Maria! Kamu di dalam?" Tian mengetuk pintu beberapa kali. Tidak ada sahutan dari dalam sana meski beberapa kali Tian memanggil nama istrinya itu. Saat Tian ingin mendobrak pintu itu, tiba-tiba suara di dalam sana menyahut. "Maaf, aku ingin sendiri." Tian tertegun beberapa detik. Dia kemudian yakin kalau Maria sedang marah. Namun, Tian bukan tipe pria yang mau mengalah. "Ini kama

