"Niel, jawab!" paksanya. Dan entah kenapa mulutku seakan terkunci, tak bisa digunakan untuk berbicara.
"Cukup sebutkan namanya saja gak apa-apa. Gue juga mungkin gak kenal mereka," katanya lagi.
"Nggak perlu, Shel. Emang mau lo apain?" tanyaku.
"Menurut lo?" tanya Shela balik.
"Gak tahu," jawabku.
"Hm. Gak kok. Gue gak akan ngelakuin apa-apa ke mereka," katanya.
Aku tahu dia bohong. Mana mungkin seorang Shelania Putri Artasyah, si perempuan kejam yang sering berbuat onar di sekolahan itu cuma akan diam saja jika dia tahu siapa orang yang telah menjahati aku. Seratus persen aku tidak percaya kalau dia cuma akan diam.
"Jangan melakukan apa-apa, ya. Biarkan aja!" pintaku lembut.
"Iya, Niel. Lagian kenapa sih kalau gue bales mereka seperti apa yang mereka lakuin ke lo?" tanyanya.
"Gue bisa dianggap sebagai seorang pecundang yang bisanya cuma minta perlindungan kepada kaum perempuan," jawabku.
"Mana mungkin, Niel. Mereka berantem sama lo aja lo yang menang. Mana mungkin mereka akan bilang kayak gitu," ucap Shela.
"Kenyataannya seperti itu, Shel," ucapku.
Nampak betul kalau Shela sedang menahan emosinya. Sumpah, aku melihat ada kesungguhan dari raut wajahnya itu. Ia seolah-olah sangat membenci orang yang telah membullyku. Andai saja kala itu aku bisa lebih berani dalam menyikapinya, mungkin saja aku tak perlu melibatkan Shela dalam kebencian itu.
"Udah, jangan dibahas, ya. Terima kasih atas maksud baiknya. Tapi gue mohon jangan melakukan apapun. Ini urusan gue. Biar gue sendiri yang urus," kataku.
"Kenapa orang seperti lo harus ada banyak orang yang membenci sih, Niel?" tanyanya. Aku cuma tersenyum singkat.
"Kalau misal gue bukan anak orang kaya, mungkin gak sih posisi gue juga akan sama kayak Lo? Dibenci, dicaci maki, dibully atau juga disakiti," kata Shela lagi.
"Gak akan," jawabku cepat dan yakin.
"Kenapa gitu?" tanyanya.
"Karena lo Shelania, bukan Daniel Mahendra," jawabku. Saat itu dia yang terdiam.
Dia adalah perempuan yang teramat sangat istimewa. Setahuku saat itu, dari golongan perempuan anak orang kaya, dia lah yang paling mengerti tentangku dan mau menerimaku. Kemudian disusul oleh April yang juga melakukan hal yang sama.
Tapi aku akui, Shela benar-benar keren. Jika kebanyakan orang menganggap anak orang kaya itu akan lebih suka bergaul dengan orang dari keluarga yang sepadan dengan dia, aku tegaskan hal itu tidak berlaku untuk Shela. Sifat Shela berbanding 180 derajat dari mereka. Shela benar-benar luar biasa. Entah kenapa di setiap narasi yang aku tulis, aku selalu ingin memuji Shelania.
"Apa bedanya, Niel?" tanya Shela.
"Banyak," jawabku.
"Contohnya?"
"Biarpun lo seandainya adalah anak dari orang yang kurang berada, tapi mana mungkin ada orang yang berani membully lo, Shel," ucapku.
"Jelas ada. Buktinya aja lo juga ada," kata Shela.
"Itu gue," kataku.
"Terus apa bedanya lo sama gue?" tanya Shela lagi.
"Gue cowok, lo cewek," jawabku.
"Itu gue juga tahu, Niel. Maksudnya apa bedanya. Kenapa Lo dibully dan gue tidak?" tanya Shela lagi.
"Karena gue udah jadi kenyataan dan Lo masih berandai-andai. Makanya beda," jawabku mencoba membuat dia kesal agar pertanyaan demi pertanyaan tak lagi ia lontarkan.
"Ih. Kok lama-lama lo jadi nyebelin sih, Niel," ucap Shela. Aku cuma tersenyum kecil.
"Makanya udah. Jangan dibahas lagi!" pintaku.
"Lebih baik kita pulang. Gue juga udah mau masuk jam kerja nih," lanjutku.
"Hm. Ya udah deh. Gue ngikut aja," kata Shela. Aku senyum.
Shela memang gadis yang hampir sempurna. Cantik dan baik menjadi prioritas utama kenapa aku bisa mencintainya. Namun saat itu ada satu hal yang membuatku minder ketika aku mengemban status sebagai pacarnya. Yaitu tentang dia yang anak orang kaya. Perbedaan harkat dan martabat serta keadaan ekonomi membuatku bingung dan minder untuk selalu dekat dengannya. Itu bukan masalah keluarganya. Kalau soal keluarganya, saat itu aku tahu bahwa mereka benar-benar telah menerimaku. Hanya saja kunci permasalahannya adalah terletak pada diriku sendiri dan ketakutanku jika nantinya orang-orang akan menilai yang tidak-tidak tentangku. Entah menilai aku hanya ingin memanfaatkan Shela ataupun semua hal buruk yang lainnya.
Aku agak bosan menjalani hari-hariku waktu itu. Lebih tepatnya bosan dan tidak menyenangkan. Ditambah lagi jika tanpa Shela atau April di satu hariku pada saat berada di sekolahan. Sumpah, tak ada mereka rasanya sekolahan itu benar-benar seperti neraka. Karena sang Bidadari yang biasanya memberikan suasana surga ke aku tidak ada, jadilah itu hanya seperti neraka. Ya meskipun aku juga tak tahu seperti apa dan se-mengerikan apa neraka yang sebenarnya, tapi aku gambarkan saja penderitaan ku itu seperti sedang berada di neraka walaupun sejatinya juga jauh lebih dahsyat penderitaan di neraka yang sesungguhnya.
Waktu itu kalau tidak salah ada acara class meeting. Sekolahan ku mengadakan lomba antar kelas yang mana setiap kali kegiatan itu tercipta, hal paling mendasar yang sering terjadi adalah berjumpanya seseorang dengan seseorang pula dari kelas lain.
"Itu Shela. Temui aja!"
Aku terkejut mendengar suara perempuan yang berasal dari arah belakangku. Pandangan yang sejatinya aku fokuskan ke Shela yang berada jauh di depan sana, pada akhirnya pun harus teralihkan dengan segera memandang ke arah suara yang datang.
Kukira kata-kata itu bukan untukku. Makanya itu jujur saja aku sempat merasa cemburu dan takut. Takut jika kata-kata itu untuk seorang laki-laki yang bukan aku, dan laki-laki itu suka sama Shela. Perlu diketahui bahwa dulu aku benar-benar seorang pencemburu yang hebat meski jarang aku tampilkan.
"April," ucapku pelan setelah tahu siapa yang bilang seperti itu ke aku.
"Temui dia!" perintahnya lagi.
Aku yang mendapatkan perintah seperti itu darinya pun kembali menengok tempat Shela berada dan Shela pun masih berada di sana. Namun beberapa saat kemudian, aku kembali menatap April.
Senyumnya yang mempesona itu seolah-olah telah ia gunakan untuk menggantikan kata "iya". Dulu itu aku benar-benar parah. Dikarenakan ada banyak orang, aku tak sedikitpun punya keberanian walau cuma hanya untuk mendekati Shela. Padahal sebenarnya aku sangat menginginkannya.
"Jangan nyesel kalau nanti ada yang lebih dulu. Lihat aja sebentar lagi," ucap April tanpa memandangku. Ia pun berlalu pergi.
Aku cuma bisa diam. Aku bingung sembari mencerna kata-kata dari April. Kulihat Shela masih ada di sana. Bersama salah seorang temannya yang kalau tidak salah bernama Rosa. Ah, entah juga. Aku tidak begitu mengenal temannya itu. Bisa dibilang juga tidak kenal. Hanya tahu nama dan orangnya saja. Tapi beberapa saat kemudian, Rosa pergi entah mau ke mana dan meninggalkan Shela sendirian di sana.
"Ah, iya. Gue harus ke sana. April mungkin benar. Kalau aku tidak segera menemui dia, bisa saja akan ada laki-laki lain yang menemui dia terlebih dahulu. Secara gue tahu kalau kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk mencari pacar, termasuk bagi para laki-laki. Ya, gue gak bisa membiarkan pacar gue diincar oleh laki-laki lain," batinku.
Aku melangkah lebih dekat dengan posisi Shela. Meski begitu dia masih belum melihat kehadiranku. Dan saat itu jugalah kesialan harus menimpaku. Apa yang April ucapkan benar-benar terjadi.
Seorang lelaki datang menghadap di hadapan Shela. Tampan sih, dan juga lumayan keren. Cuma aku tidak tahu namanya siapa. Intinya aku tahu bahwa dia punya ketertarikan ke Shela dan sangat ingin memilikinya.
"Siapa dia? Mau apa dia? Kalau gue tetap maksa ke sana, bisa-bisa gue berantem sama dia. Kalau beneran berantem, gue bisa aja buat malu Shela. Ah, lebih baik gue tetap berada di sini," batinku.
Kutatap pergerakan si lelaki itu yang sudah memulai pembicaraan. Sungguh sebenarnya aku sangat ingin mendekat. Tapi sebuah keharusan memaksaku untuk tetap berada di tempat dan melihat semuanya hanya dari kejauhan.
"Hei Shel," sapa lelaki itu. Aku bisa mendengar dan melihatnya dengan sangat jelas.
Dan lewat sapaannya itu pula aku bisa menyadari bahwa sejatinya lelaki itu sudah mengenal Shela. Hanya saja aku tak mengerti seperti apa hubungan mereka berdua.
"Apa?" tanya Shela.
"Hm ... Nggak, nggak apa-apa," jawab si lelaki. Kulihat Shela cuma diam saja seolah tak suka.
"Oh ya, lo nanti ikut lomba basket, kan?" tanyanya kemudian.
"Kenapa emang?" tanya Shela balik. Sungguh nada bicaranya sangat berbeda ketika dia sedang berbicara denganku.
"Ya nggak apa-apa. Cuma nanya aja. Emang gak boleh, ya?" jawab sekaligus tanya si lelaki.
"Nggak," jawab Shela dengan kejamnya.
Aku tertawa saat Shela bilang seperti itu. Rupanya seperti itu sifat asli dia ketika berhadapan dengan seorang lelaki. Aneh sekali. Bahkan ketika bersamaku, aku tak pernah sekalipun Shela bersikap seperti itu ke aku.
"Ya udah. Gue boleh duduk di situ, nggak?" tanyanya sambil menunjuk.
"Ya duduk aja. Nggak ada yang ngelarang," jawab Shela.
Dengan senyum genitnya, si lelaki pun segera duduk di samping kanan Shela. Akan tetapi tepat ketika dia duduk, Shela malah berdiri seolah ingin segera pergi dari tempat itu.
"Eh, Shel. Mau ke mana?" tanya lelaki itu.
"Kenapa?" tanya Shela balik.
"Kan gue udah duduk di sini nemenin lo. Kok lo malah mau pergi, sih?"
"Memangnya gue minta lo temenin? Gak kan? Dan kalau lo mau duduk di situ, ya udah duduk aja," ucap Shela.
"Ya ampun, Shel. Lo jadi cewek gak peka banget, sih."
"Gue peka kok. Tapi maaf. Gue udah punya pacar. Dan gue gak mau buat dia cemburu," kata Shela.
Aku yakin dia sedang membahasku waktu itu. Siapa lagi yang dia anggap sebagai pacarnya kalau bukan aku. Dan saat itu, aku telah melihat perbedaan sikap Shela terhadap lelaki lain dan juga terhadapku. Itu sangat berbeda jauh.
Untungnya si lelaki yang tak kuketahui namanya itu memilih untuk mengalah. Terlepas dari apa dia tahu pacar yang Shela maksud itu adalah aku, aku akui dia adalah orang yang bisa menerima dengan ikhlas. Sebenarnya aku agak sedikit kasihan padanya ketika Shela pergi meninggalkannya. Dia duduk sendirian sambil merenung. Hembusan napas panjang yang menandakan kekecewaannya juga dapat kulihat dengan jelas. Setelah itu dia juga pergi dari sana.
Waktu itu aku tak tahu siapa dia. Tapi yang pasti, Shela telah menolaknya mentah-mentah. Di satu sisi, apa yang dilakukan Shela tidaklah salah. Ia hanya ingin menjaga perasaanku dan juga ingin membuat lelaki itu agar tidak terlalu berharap. Jujur aku malah terharu dengan apa yang ia lakukan. Tapi di sisi lain, dengan ia melakukan hal semacam itu, ia seperti gadis yang sombong yang tidak mau menghargai orang yang mencintainya. Mungkin cuma itu letak kesalahannya. Dan menurutku, itu jauh lebih baik daripada ia harus menghancurkan perasaanku dan juga memberi harapan untuk lelaki itu lalu menghancurkannya sehancur-hancurnya.