Esoknya di hari Rabu pagi, ayah Hiroto kembali datang ke markas sendirian. Setelah meminta Nobu-san tuk memanggil putranya, mereka berdua mengobrol di sofa dekat ruang kantor administrasi. “Ayah, aku tidak keberatan kau datang menjenguk, tapi tetangga bakal curiga kalau kau sering ke sini. Mereka cuma tau aku pergi ke kampung, kan?” kata Hiroto. “Maaf, ya. Namun, Ayah janji ini yang terakhir. Ayah ingin kita menjenguk Jun hari ini,” tutur Takahiro-san dengan pakaian santai ala bapak-bapak. “Bagaimana, ya ...,” gumam remaja itu. “Selamat pagi, Takahiro-san.” Hiroto dan Ayahnya sama-sama tersentak di tempat, kaget mendapati pria yang memakai topeng kucing bermata sipit sudah berdiri dan memunculkan wajah dari samping kepala Hiroto. “Axel—bukan, Ro-roku-san!” seru Hiroto. “Pagi juga, H

