Senin malam, Hiroto kembali menemui Enma. Kini mereka berada di tepi sungai cetek yang berbatu. Langit masih sama, menunjukkan senja warna jingga kemerahan macam lautan api di langit. Warna itu memantul di permukaan sungai, membuatnya menjadi sungai darah. Hiroto memakai jaket hitam longgar milik Kazan dengan simbol bunga lonceng dipunggung. Enma seperti biasa hanya memakai celana ala samurai saja, tidak memakai pakaian atasan. Mereka berdua duduk di bebatuan bersebelahan. Laki-laki itu menarik napas. “Kenapa belakangan ini aku selalu bertemu denganmu?” Enma ikut menarik napas. “Itu karena pengaruh rantai ini, makanya cepat lepaskan.” “Aku tidak tau cara melepaskannya. Rantainya terlihat tak memiliki ujung ....” “Bisa. Kau hanya perlu merasa kalau aku bukan ancaman.” Hiroto mengerut

