Furuta membuka mata sambil memekik takut. Napasnya tersengal, manik hitamnya menyisir ruangan hampa di sekitar. Dirinya terheran mendapati diri sedang duduk di kursi dari beton tanpa rantai atau borgol. “Aaah, akhirnya kita bertemu.” Furuta mengangkat wajah, terkaget melihat sosok mengerikan Majin tak jauh dari hadapan. “Si-s-si-siapa—“ “Aku iblis yang masuk ke ragamu, manusia.” Remaja itu meringkuk memeluk diri. “I-iblis?” Furuta melotot. “Tidak ... menjauh ... menjauh dariku ... pergi dariku!!!” Bentakan si pemilik badan membuat tempat mereka berada bergetar. “Aku juga menginginkan itu. Namun, aku tak bisa keluar dari sini. Aku terjebak. Dari pada membahas itu, ada yang ingin kutanyakan.” Majin menunjuk layar kotak yang tiba-tiba muncul di antara dirinya dan Furuta, menampilkan Enm

