Akio yang tadinya memburu dipinta oleh Nobu-san untuk pergi ke tempat Kazan dan Enma. Dia mendapati dua iblis dalam tubuh manusia sedang bertarung dengan tangan dan kaki di udara dari atap rumah tempatnya berdiri. “Dasar i***t, harusnya kau pancing dia agar bertarung di tempat lain, bukan di tengah pemukiman penduduk begini,” dumalnya sembari menarik keluar panah dan pelemparnya dari tabung kayu di pinggang. “Apa teman-teman yang kemarin membawamu pergi itu sudah muak juga padamu sampai kau pergi sendiri? Tadinya aku mau pamer tentara juga, tapi tak seru, kan,?” cela Enma, terus menerus memberi pukulan dan cakaran yang selalu ditepis Majin. Majin terdiam. Tentara? “Tentara apanya, tidak usah menyombongkan diri pada hal yang belum tentu kau punya.” Enma menukik alis. “Bangkit!” Satu ib

