Bab 7. Bekas Luka Misterius

1212 Kata
Terjadi kekacauan di kantin, pecahan gelas kaca ada di mana-mana, makanan berserakan di lantai. Beberapa orang pun terluka akibat lemparan batu. “Pengawal!” teriak Rama. Beberapa pengawal dengan sigap melawan orang asing tadi. “Akh!” “Sera awas!” Rama melihat ke belakang, seseorang melempar batu ke arah Sera. Dengan sigap Rama memeluk Sera, agar lemparan itu tak mengenai tubuh Sera. “s**t!” Rama menahan perih di bahunya saat batu itu mengenai bahunya, lemparan itu sangat kuat membuat bahu Rama terluka. “Rama!” Mata Sera terbelalak kaget saat batu itu mengenai bahu Rama. Ia tak habis pikir Rama mengorbankan dirinya demi Sera. Sera masih berada di dekapan Rama, ia menutup telingga saat mendengar barang jatuh, bunyi kaca di pecah, suara tangisan, dan teriakan karyawan yang masih ada di kantin. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Rama, sambil melihat wajah ketakutan Sera yang ada di dekapannya. “Ayo sembnyui dulu.” Rama menuntun Sera untuk bersembunyi di bawah pantry, kebetulan mereka tak jauh dari pantry. “Kenapa pendemo itu bisa masuk?” tanya Sera tak habis pikir melihat beberapa pendemo yang masuk dan membuat kekacauan di kantin perusahaan. “Tidak tau, kita tunggu saja situasi mereda,” balas Rama, sambil melihat keadaan sekitar, ia takut nanti orang itu datang. “Rama ka—“ Sera menghentikan ucapannya, saat menyadari ia dan Rama begitu dekat. Sedikit saja mereka bergerak maka bibir mereka akan bertemu. Bahkan Sera bisa merasakan hembusan napas Rama yang mengenai wajahnya. “Apa?” tanya Rama, tak menyadari posisi mereka, bahkan tangan Rama masih bertengker manis di pinggang Sera. “Tidak ada,” balas Sera, jantungnya berdetak begitu kencang. Baru pertama kali ini Sera merasakan persaaan yang mengebu-gebu seperti itu. ***** Terlihat Sera dan Rama berada di ruangan Rama, Rama sedang memarahi beberapa satpam, dan ada pengawalnya juga. “Maafkan kami Tuan, kami lalai dalam menjalakan tugas,” kata salah satu dari mereka. Rama masih diam tak menjawab perkataan satpam itu. “Kalian sudah melakukan kesalahan yang fatal!” tekan Rama pada setiap perkataannya. “Maafkan kami Tuan.” Mereka semua berlutut agar mendapat permintaan maaf dari Rama. “Ngeri banget ya,” batin Sera, baru pertama kali ini menyaksikan secara langsung kemarahan Rama. Biasanya ia hanya mendengar gosip saja. Rama menatap tajam ke arah mereka semua, Rama benar-benar marah atas apa yang terjadi hari ini. Ia tak habis pikir dengan pengawanya yang lalai sehingga beberapa pendemo masuk dan membuat beberapa orang di kantin terluka termasuk Rama. “Kalian semua di pecat!” ucap Rama dengan nada dingin dan datarnya. Mata Sera terbelalak kaget saat Rama mengatakan hal itu, sungguh ia tak terima keputusan Rama. Seharusnya Rama cari tau dulu apa yang terjadi, baru memutuskan sesuatu. “Ram—“ Sera menutup mulutnya, ia tak mau ikut campur masalah Rama. Tapi yang dilakukan Rama sudah keterlaluan. Mereka semua sudah pergi dan tinggallah Sera, Rama dan juga Evan di ruangan Rama. “Mereka semua membuatku marah saja,” kata Rama sambil meninju meja kerjanya, bahkan Rama tak memperdulikan luka dibahunya yang sudah mengering. “Saya akan cari tau Tuan,” kata Evan, lalu pamit undur diri. “Apa mereka semua pergi, lalu aku?” Ketakutan tiba-tiba saja muncul di benak Sera. Ia melihat ke arah Rama, masih sama Rama masih dikuasai amarah. “Apa lihat-lihat!” Rama sudah duduk di hadapan Sera. “Ehh, enggak,” ucap Sera, tersadar dari lamunannya. Sera baru sadar kalau bahu Rama terluka ulahnya. Ia hampir saja melupakan hal itu. “Rama,” panggil Sera, setelah beberapa menit mengumpulkan keberanian akhirnya Sera berbicara. “Hmm,” balas Rama, sambil memeriksa dokumen yang ada di depannya. “Bahumu apa tidak sakit?” tanya Sera dengan hati-hati, takut perkataannya akan membuat amarah Rama meledak. “Tidak apa-apa,” balas Rama, ia tak terlalu memperdulikan luka di bahunya itu. “Kalau boleh, biar aku obati,” kata Sera, ia masih menatap wajah Rama. Rama menatap Sera saat Sera megatakan hal itu, ia tak menyangka ada yang mau mengobatinya. Biasanya tak ada yang menawarkan bantuan padanya. “Kota P3K ada di laci,” tunjuk Rama, ke arah laci meja. Beberapa detik akhirnya Sera sadar, kalau Rama memperbolehkan dirnya untuk mengobati luka pria itu. Sera pun senang Rama merespon niat baiknya. “Bisa buka bajumu?” tanya Sera, ia kesusahan mengobati Rama jika Rama masih memakai baju. Rama pun membalikkan badannya menghadap ke arah Sera, Sera saja kaget saat Rama tiba-tiba membalikkan badannya. Sera mengeser duduknya agar tak terlalu dekat dengan Rama, ia takut Rama tak nyaman. Rama melihat ke arah Sera, entah kenapa Rama selalu ingin dekat dengan Sera. Bahkan Sera menyentuhnya ia tak marah, berbeda dengan wanita lain, sedikit saja wanita itu menyentuhnya ia akan mengamuk. “Buka,” kata Rama, ia terlihat santai mengatakan hal itu. “Apa Rama gila menyuruhku membuka baju pria itu,” batin Sera. Ia tak mengerti dengan sikap Rama padanya, mana Rama yang anti wanita yang ia kenal. Sera rasa itu hanya gosip belaka. “Apa?” tanya Sera, tak mengerti apa yang dikatakan Rama. “Tolong buka bajuku, tanganku sibuk,” kata Rama memperlihatkan dokumen yang masih ada di tangannya. “Aku?” tanya Sera, ia tak percaya apa yang ia degar barusan. “Hmm,” balas Rama sambil membaca dokumen yang ada di tangannya. Dengan berat hati akhirnya Sera memilih untuk menuruti kemauan Rama. Perlahan Sera membuka kancing baju Rama, ia tak melihat wajah Rama saat melakukan hal itu. Terlalu canggung jika menatap wajah Rama. Jujur saja Sera tak pernah sedekat ini dengan lawan jenis, Sera tak pernah pacaran. Tak sengaja Sera melihat beberapa luka jahitan di d**a Rama, ia ingin menyentuh luka itu. Namun, tangannya ditahan oleh Rama. “Aduh!” Sera terlonjak kaget saat Rama tiba-tiba menehan tangannya. “Maafkan aku,” kata Sera langsung meminta maaf, Sera tak tau kenapa dia meminta maaf. Refleks saja ia meminta maaf ke Rama. Rama tak mengatakan apapun, dan masih menahan tangan Sera. “Kamu tau konsekuensinya menyentuh kulitku?” tanya Rama dengan nada tajam dan menusuk. Sera baru ingat akan hal itu, ia segera meminta maaf, karena telah melakukan kesalahan. “Maafkan aku, maaf …” lirih Sera memejamkan matanya. “Aku tak akan melepaskan orang itu!” tekan Rama pada setiap perkataannya. “Cepat obati lukaku! Lelet sekali!” kata Rama lalu dengan cepat membuka kancing baju yang tersisa. Menunggu Sera, sampai besok mungkin tak akan selesai. Rama pun membalikkan tubuhnya agar Sera dengan mudah mengobati lukanya. “Plin plan banget jadi orang,” batin Sera, tak mengerti dengan Rama. “Luka apa itu? pasti sakit banget,” batin Sera, masih mengingat beberapa jahitan di d**a Rama. “Tahan sedikit.” Tak memperdulikan luka itu lagi, Sera langsung saja mengobati luka Rama. Perlahan Sera membersihkan luka Rama, ia ngilu sendiri saat kapas itu menyentuh luka Rama. Tapi Rama, pria itu terlihat biasa saja dan tak merasakan sakit. “Sakit?” tanya Sera, ia takut ia terlalu kuat menekan luka Rama. “Tidak,” balas Rama. “Nenek meminta kita menginap di rumah,” kata Rama, memberithukan hal penting kepada Sera. “Baiklah,” balas Sera. Tiba-tiba, bunyi pintu dibuka pun terdengar. “Ram—“ Wanita itu menghentikan ucapannya saat melihat Rama tak memakai baju dan ada Sera di samping Rama. Pikirannya bercabang-cabang saat melihat hal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN