Pria itu tidak berkata apa pun dan tetap melangkah dengan tegas, tapi lembut. Seolah ia tengah membawa sesuatu yang sangat rapuh atau seseorang yang sangat berharga. Dominic menundukkan tubuhnya, lalu meletakkan Aveline perlahan di atas tempat tidur besar berlapis linen halus seputih salju. Untuk sejenak, Dominic menatapnya. Aveline tampak begitu kecil di atas ranjang itu. Tapi bukan karena tubuhnya mungil, melainkan karena aura yang kini mengelilingi gadis itu, yaitu sebuah kesedihan lama yang akhirnya menemukan jawabannya. Sebuah kehilangan yang kini telah bertemu tempat pulangnya. Dominic lalu duduk di sisi ranjang. Ia menatap wajah gadis itu, menyesap setiap detailnya dalam diam. Jari-jarinya yang besar namun lembut mengusap pelipis Aveline, lalu rambutnya yang tersibak perla

