~Adin POV~
"Adiiiinn!" aku langsung menengok kebelakang. Yap, itu suara Fizni.
"Berisik tau Fiz, pagi-pagi udah teriak-teriak!" aku meninggalkan dia yang heran atas sikapku pagi ini.
Ya Allah, maafin Adin! Adin bersikap tidak baik pada sahabat Adin sendiri.
Fizni mengikutiku dan langsung merangkul bahuku saat langkahnya telah sejajar denganku.
"Ada masalah apa? Cerita aja," dia memang selalu tahu jika aku sedang ada masalah.
"Eh! eh! eh! Bentar deh! Kamu abis nangis ya? Tuhkan pasti ada masalah! Ayo cerita Din, siapa tau aja aku bisa bantu kamu!" dia menatapku cemas.
Saat aku ingin menjawab pertanyaan Fizni, terdengar teriakan seseorang dari belakang.
"Hey! Tunggu!" kami menghentikan langkah kaki kami dan menunggu Disna.
"Good Morning friends!" sapanya sambil merangkul pundakku, kini aku berada diantara mereka.
"Shut up! Adin lagi badmood, kayanya dia lagi punya masalah deh, matanya aja bengkak gitu," Fizni memperingati Disna. Disna kaget saat melihat kondisi mataku yang bengkak.
Moodku memang sedang down pagi ini, mungkin gara-gara kejadian kemarin. Dan hal yang ku hindari ternyata terjadi, mereka melihat mataku yang sedikit bengkak.
Akhirnya kami tiba dikelas, dan kedua sahabatku mulai mengintrogasiku. Alhamdulillah, untungnya bel masuk menyelamatkanku dari mereka. Pagi ini aku benar-benar sedang tidak mau banyak bicara.
•••
Kring! Kring! Kring!
Bel istirahat berbunyi, syukurlah aku terbebas dari pelajaran yang membuat kepalaku berdenyut.
Tapi aku tidak yakin bisa terbebas dari introgasi para sahabatku.
Kulihat mereka mulai melayangkan tatapan mengintimidasi padaku.
"Ayo cerita!" tuh kan, mereka mulai memaksaku untuk bercerita.
"Oke-oke, aku akan cerita, tapi gak disini, ditaman belakang aja ya?" Aku tidak ingin ada yang mendengar masalah ini selain mereka.
Mereka setuju, dan kami langsung menuju taman belakang. Kami memilih tempat yang cukup sepi, yaitu dibelakang pohon beringin yang ada disana.
Serem kan? tidak juga.
"Jadi?" mereka menatapku meminta penjelasan.
Perlahan aku menghembuskan napas panjang, aku menatap mereka sedih.
"Aku dijodohin," hanya itu yang keluar dari mulutku, aku menunduk.
Sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Tapi pertahananku jebol, air mataku lolos begitu saja.
"Apa? Kok bisa? sama siapa??" Fizni menjitak kepala Disna, disela tangisanku, aku tersenyum kecil melihat kelakuan mereka, tapi tidak membuat moodku kembali baik.
"Nanya itu satu-satu, kasihan Adin tau!" Disna mengusap kepalanya yang terkena jitakan sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya ih maaf!" mereka pun kembali menatapku.
"Jelasin serinci-rincinya!" mereka menatapku menunggu penjelasan dariku, mungkin memang lebih baik aku bercerita pada mereka, supaya bebanku tidak terlalu berat.
"Jadi gini, kemarin kan bunda nyuruh pulang cepet pas kita kerja kelompok. Pas nyampe sana, bunda udah sama cowok di ruang tamu, aku juga gak tau dia siapa, setelah ngobrol-ngobrol sedikit, gak lama orang tuanya dateng. Ayah juga tumben pulangnya cepet, dari pertama juga aku emang udah mikir pasti ada yang gak beres. Terus ayah bilang, kalo cowok itu mau lamar aku. Aku bener-bener kaget, terus aku nolak karena emang aku kan masih sekolah. Tapi kata ayah, mereka cuma mau aku sama dia tunangan dulu, nanti kalo dia udah lulus kuliah baru kita nikah. Ternyata orangtuanya sama orangtuaku sahabatan dari kuliah dan menjodohkan aku sama dia sejak aku kecil," jelasku panjang lebar, air mataku tidak juga berhenti keluar saat bercerita, kedua sahabatku memelukku memberi kehangatan kepadaku.
"Kamu yang sabar ya, kita pasti do'ain yang terbaik buat kamu," Fizni mengusap punggungku.
"Aku gak bisa nolak Fiz, Dis. Aku gak mau durhaka sama ayah, bunda!" aku semakin terisak, dan pelukan merekapun makin erat.
"Aku udah belajar buat ikhlas, tapi yang sekarang aku pikirin, kenapa sih cowok itu dingin banget? Bukan aku berharap lebih, ketemu aja baru sekali, cuma jadi terasa berat aja gitu ngadepinnya." semua yang ada dalam benakku aku keluarkan. Aku memang selalu terbuka dengan sahabat-sahabatku.
"Sstttttt, udah-udah, sekarang liat kita!" Disna mengangkat kepalaku dan mengusap air mataku.
"Kita akan selalu ada buat kamu, apapun yang terjadi, kita siap buat jadi sandaran kamu. Mana Adin yang kita kenal? Adin yang kita kenal gak cengeng, gak mudah nangis, gak mudah putus asa!"
Mereka benar, biasanya aku tidak seperti ini, meskipun masalah yang aku hadapi lebih berat dari ini. Aku lemah cuma gara-gara masalah ini?? Astagfirullah! Ya Allah, ini bukan aku!
Aku tersenyum, bukan senyum palsu, tapi senyum kebahagiaan. Aku sangat-sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. Terima kasih Ya Allah! Terima kasih telah mengirim malaikat tanpa sayap padaku. Bunda, Disna, dan Fizni.
Mungkin aku adalah manusia paling bahagia, karena memiliki sahabat yang selalu mendukungku dalam keadaan suka dan duka.
Kami berpelukan dibawah pohon beringin dengan cuaca sejuk, terasa sangat damai. Mungkin untuk saat ini, aku bisa melupakan semua permasalahanku sejenak.
•••
Perasaanku lega sekarang. Kami berjalan menuju gerbang sekolah, karena memang sudah waktunya untuk pulang.
"Kamu tau apa aja tentang dia?" pertanyaan Disna membuat aku mengernyit. Aku sungguh tidak mengerti siapa yang sedang dia bicarakan.
"Cowok yang itu!" dia berucap tanpa suara yang aku yakini dia mengatakan 'yang dijodohin sama kamu'.
Oh! Aku baru mengerti.
"Dia itu cowok," aku menjawab tanpa dosa.
"Adin nyebelin ah!" raut wajah Fizni sangat lucu. Akupun tertawa renyah melihat pemandangan tersebut.
"Oke, oke! Dia kuliah S2, umurnya 24 tahun, namanya Alvino, panggilannya Vino. Itu aja sih yang aku tau," aku sedikit berbisik karena tidak ingin ada yang mendengar. Apalagi sekarang banyak siswa yang berjalan beriringan bersama kami.
Mereka hanya ber-Oh ria.
Kami sampai di depan gerbang sekolah, lalu terdengar ada yang memanggil namaku dari arah belakang. Aku pun berbalik.
"Non Adin! Tunggu!" teriak Pak Joni satpam sekolahku. Tumben Pa Joni manggil, aku mengerutkan alisku.
Kami mendapati Pak Joni yang ngos-ngosan setelah berlari mengejar kami.
"Ada apa pak? Kok tumben manggil? Apa ada yang penting?" aku bertanya pada Pak Joni karena raut wajahnya yang terlihat serius.
"Tadi... ada... yang nanyain non. Tapi non... belom keluar. Dia bilang... dia nunggu di.. cafe deket sekolah!" jawab pak Joni sambil mengatur nafasnya.
"Siapa Pak?" Aku kembali bertanya, karena selama ini aku tidak pernah dijemput. Kira-kira siapa ya?
"Dia seorang lelaki non, kalo gak salah namanya itu... " Pak Joni sepertinya lupa, terlihat wajah lelahnya sedang berpikir keras.
"Ah! Vino! Ya, ya, namanya Vino." aku bener-bener kaget dengan jawaban Pak Joni.
Aku dan sahabatku saling pandang.
"Kapan dia datang Pak?" pertanyaan terakhir ku lontarkan pada Pak Joni.
"Ummm, sekitar 7 menit yang lalu, gak lama juga non. Kalo gak ada yang mau ditanyakan lagi bapak permisi, masih ada pekerjaan," pamit Pak Joni.
"Eh iya pak silahkan, makasih ya pak!" aku tersenyum padanya.
"Iya non sama-sama, Permisi." Pak Joni pun meninggalkan kami bertiga yang masih mematung disana.
"Ciee, yang dijemput calon suami!" Fizni malah meledekku.
Sontak membuat siswa lain yang mendengarnya menoleh padaku. Aku hanya nyengir kuda menanggapi mereka. Untungnya mereka tidak terlihat curiga dan berlalu begitu saja.
"Apaan sih! Untung aja gak ada yang curiga, gimana kalo ada yang tau? Pasti bakal berabe!" Fizni pun akhirnya meminta maaf atas kecerobohannya itu.
Akupun hanya menanggapinya dengan anggukkan.
"Yaudah, aku duluan ya. Assalamu'alaikum," akupun pergi meninggalkan mereka sembari melambaikan tangan.
Kak Vino?? Ngapain dia jemput aku? Pasti suruhan tante Nada! Ya pasti! Aku yakin itu!
•••
To be continued...