Bab. 46 HURT 3

1878 Kata

Senja tampak indah di ufuk barat, mentari pun akan tenggelam seolah lelah menyinari bumi. Dari balik jendela, Mela menatap dengan sendu. Dedaunan yang berjatuhan dibelai Sang Bayu. Seperti cintanya yang berguguran, tetapi terbelenggu oleh sebuah benang merah yang mengikatnya. Mela tidak menyalahkan siapa-siapa, meskipun semua berawal karena perbuatan Kevin. Wanita itu mencoba untuk menerima takdir yang telah digoreskan kepadanya, meskipun begitu sakit dan perih. Andai Mela punya sayap seperti burung. Ingin rasanya dia terbang jauh dan tidak akan kembali lagi. "Mel, kamu yang sabar ya! Mas sedang berusaha membawa kamu pergi dari rumah ini," ujar Reno sambil menghampiri wanita itu. "Iya Mas, tidak apa-apa," jawab Mela dengan suara yang bergetar. Reno tahu jika Mela berusaha untuk tetap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN