BAB 12

1757 Kata
(Chiara Aylin) Mendekat ragu-ragu ke arah kamarnya Kak Barly selalu memberikan perasaan yang tak aman buatku. Dia adalah orang paling maung di rumah ini. Sedikit-sedikit emosi. Ayah sering menceramahinya, terkait betapa buruk perangai Kak Barly yang terlalu mudah tersulut emosinya. Namun Kak Barly gak mendengarkannya. Aku menatap pintu kamar Kak Barly. Tak berani masuk. Jariku menelusur coretan spidol berbentuk kapal selam yang aku gambar yang katanya aku yang menggambarnya. Aku mungkin masih balita saat itu karena aku gak ingat kapan aku menggambarnya. Gak ingat juga karena ini Kak Barly marah besar padaku. Ketus dan emosian begitu Kak Barly orangnya rapi. Tak seperti kamar Kak Bastian atau Kak Baskara, kalau kamar Kak Bima sedikit rapi sih menurutku. Tak peduli aku yang akan kelihatan gak punya kerjaan karena cuma berdiri di depan kamar kakak keduaku sambil memainkan jari di pintunya. Herannya, Kak Barly gak menghapus coretan masa kecilku di pintu kamarnya. Tadi kak Renata menitipkan pesan untuk Kak Barly. Pesannya bukan ucapan yang bisa aku titipkan atau di ketikan melalui chat. Aku berpikir begitu. Dengan mengirimkan chat itu artinya aku meninggalkan jejak digital disana. Ini sesuatu yang harus aku sampaikan langsung. Tapi bagaimana caranya? Mengetuk pintu kamar Kak Barly aja aku tak berani. Mungkin nanti saja aku bilang setelah makan malam. “Ngapain kamu?” Baru saja aku memutar tubuh hendak menuju kamarku. Kak Barly lebih dulu membuka pintu kamarnya. Menatap dengan tatapan malas seperti biasa. “Eng…enggak.” Padahal aku tinggal bilang kalau Kak Renata menitip pesan. Ngobrol dengan Kak Barly lebih sulit daripada ngomong ke ayah. “Yaudah sana!” usirnya. Tuh kan, dia ketus banget. “Jangan berdiri di depan kamar orang kaya gitu. Gak sopan.” Aku gak banyak tingkah aja dia kata-katai. “Kok bisa Kak Renata betah pacaran sama Kak Barly.” Ketusku pelan. Hilang minat untuk bicara dengan kakak ketusku ini. Lebih baik pergi ke kamar dan rebahan. Akan tetapi, Kak Barly menarik tas gendongku membuat aku tertarik ke belakang dan menabrak punggungnya. “Ngomong apa lo?” Tanganku menepis-nepis sampai akhirnya pegangan Kak Barly di tasku terlepas. Aku memutar tubuh. Menatapnya sebal. “Jadi orang tuh jangan sok bener terus. Emang kakak siapa? Tuhan?” Kak Barly menaikan sebelah alisnya. “Renata minta lo nyampein itu?” Sekarang malah giliran aku yang menaikan alis. Padahal aku gak bilang mau menyampaikan pesan dari Kak Renata. Kak Barly menghembuskan napas. “Gue udah tahu Renata. Dia pasti bakal nitip sesuatu bahkan ke orang yang gak dia kenal sekalipun.” Aku berdecak. “Dia minta aku nyampein ini.” “Apa?” “Kakak salah faham. Bukan dia yang mau jalan sama Koni. Ibunya yang maksa Kak Renata nemenin dia ke rumah sakit.” Kak Barly masih menatap aku dengan sebelah alisnya yang terangkat. Gak pegel apa itu alis gitu terus. Aku mendengus. “Kenapa gak denger penjelasan dari Kak Renata dulu sih?” “Jangan ikut campur. Lo masih kecil.” “Aku bukannya ikut campur. Cuma menyampaikan pesan aja Kak. Ikut campur dimananya coba.” Protesku. Kenapa tiba-tiba dibilang ikut campur. Gak jelas. “Lagian kenapa sih Kak Barly sinis terus ke aku. Salah aku apa sih?” Aku menunjuk gambar naga di pintu Kak Barly. “Kalau karena coretan itu, aku minta maaf. Aku bisa hapus itu sekarang juga kalau itu yang buat Kak Barly se-sensi ini.” “Lo pikir karena gambar receh lo?” “Ya terus?” Bicara dengan Kak Barly memang gak pernah berakhir baik. Selalu berakhir dengan bersitegang seperti ini. Aku heran, kenapa di mata Kak Barly aku selalu saja buat masalah. Kenapa apapun yang aku lakukan seolah mampu membuat tensi darahnya naik seketika. “Gue udah gak suka sama lo sebelum lo lahir.” Muka kesalku berangsur berubah. Aku mengerjap. Terhenyak mendengar apa yang diucapkan Kak Barly. Tempramen atau apapun itu aku pikir gak pantas buat dia bilang seperti itu. Sesuatu yang panas mendadak terasa di pelupuk mata. Bibirku pun terasa hangat. Dan dadaku sesak. Kak Barly yang tak pernah memikirkan ucapannya apakah menyakiti itu tak memperdulikan aku yang hampir menangis karena ucapannya. Dia masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu tepat di depan wajahku. Aku meangis. “Kenapa aku yang salah?” *** Aku gak tahu maksud Kak Barly bilang seperti itu. Dia memang selalu sinis dan kejam ketika bicara. Terlepas dari siapapun lawan bicaranya. Tapi yang dia bilang itu sangat keterlaluan. Aku gak baik-baik aja. “Udah” Kak Farran menepuk punggungku. Dia gak menanggapi apapun sejak tadi, hanya diam mendengarkan. “Omongan kakak kamu jangan terlalu kamu denger.” Dari wajahnya dia seperti berusaha ikut simpati dengan apa yang terjadi padaku. Kak Farran berusaha mengerti sesakit apa aku ketika dengar yang Kak Barly bilang. “Aku tuh emang udah ngerasa sejak dulu kalau ada sesuatu sama Kak Barly. Tapi kemaren kan kau gak salah. Aku cuma nyampein pesan dari Kak Renata. Malah dibilang ikut campur. Emang aku ikut campur ya kaya gitu?” “Enggak kok. Kamu gak ikut campur.” Kak Farran menggenggam tanganku. “Dia kan lagi kalut. Dia ngira pacarnya khianatin dia. Orang emosi itu kadang gak mikir apa yang dia omongin.” “Padahal aku cuma mau bantu aja.” “Iya kamu emang mau bantu. Dan udah bagus kamu bantuin mereka biar cepet nyelesaian masalahnya.” Kak Farran mengusap rambutku. Dia tersenyum gemas. Entah kenapa kadang aku merasa kalau Kak Farran memperlakukan aku seperti ke binatang peliharaannya. Dia suka sekali elus-elus kepalaku. Cubit pipiku. Tentunya sambil senyum-senyum gak jelas seperti ini. Padahal yang aku ceritakan sangat serius, karena akibat dari apa yang Kak Barly bilang buat aku gak mood seharian ini. Tadi pagi bahkan aku lesu banget. Aku menepis tangannya. “Kamu kenapa sih gak serius gitu nanggepin cerita aku?” tannyaku kesal. “Aku nanggepin kamu serius lho.” Jawab Kak Farran tanpa dosa. Lalu senyum itu kembali muncul. Tangannya juga kembali mengelus rambutku. Aku tepis lagi tangannya. “Jangan elus-elus terus.” “Kan biar kamu tenang.” Katanya. “Aku gak bisa sehari aja gak elus kepala kamu.” “Emang aku kucing. Di elus-elus terus.” “Kamu bukan kucing. Kamu pacar aku. Ini cara aku nunjukin rasa sayang.” Aku dibuat menahan senyum karenanya. Pipiku mungkin juga sudah semerah tomat sekarang. “Apa sih.” Ucapku sok ketus sambil ku tepis tangannya. Kak Farran tertawa. “Chi.” Panggil Kak Farran tiba-tiba setelah terjadi keheningan karena aku harus membalas pesan dari Haru. “Ya.” Sahutku sambil mengetik balasan untuk Haru. “Aku gak mau sembunyi-sembunyi lagi.” Kak Farran menatapku dari samping. Suaranya mendadak serius. Membuat aku yang baru setengah jalan membalas pesan dari Haru yang menceritakan kekesalannya akan Kak Bima yang ditemuinya di koridor. Curhatan Haru seketika gak menarik. Aku menatap Kak Farran bertanya-tanya apa maksudnya. Kak Farran menggeleng. “Aku gak mau sembunyi-sembunyi lagi pacarana sama kamu.” Keningku mengernyit. “Bukannya sebelumnya kita udah sepakat ya?” “Emang.” Kak Farran mengangguk. “Tapi gak bisa gini terus kan, Chi?” Sebenarnya ada apa dengan Kak Farran hari ini. Kenapa dia tiba-tiba mengatakan sesuatu yang sebelumnya sudah disepakati. Aku meminta dia berhubungan denganku secara rahasia. Karena aku gak tahu apa yang akan dilakukan Kak Bima, ayah, dan kakak-kakaku kalau tahu aku pacaran. Selain itu aku juga khawatir dengan gosip di sekolah. Pacaran dengan orang sepopuler Kak Farran itu ngeri-ngeri sedep. Fans nya banyak. Kalau mereka tahu aku pacarana dengannya aku gak jamin besok aku bisa masuk sekolah. Haru aja salah satu fans Kak Farran gak percaya sama sekali aku pacarana dengannya. Bagaimana jika sampai gosip menyebar. Aku yakin, aku yang akan di jelek-jelekan. “Chi.” Kak Farran menggenggam tanganku. Menatapku dengan bersungguh-sungguh. “Kenapa kamu tiba-tiba pengen kaya gitu?” pertanyaan itu akhirnya lolos dari bibirku. Aku menatapnya khawatir. “Kakak aku Kak Bima, kalau kamu tahu.” Kak Farran mengangguk. Genggaman tanganku semakin mengencang. Dia meremas tangangku lembut. Aku mencoba menerka apa yang sebenarnya diinginkannya dari keinginan berbahaya yang tiba-tiba dia ucapkan. Namun, aku tak mendapatkan jawaban apapun. Aku cuma lihat dia begitu menginginkannya. “Aku bisa minta izin sama ayah buat pacarana sama kamu.” Katanya. Aku menggeleng. Itu ide yang buruk. “Hal buruk itu belum tentu buruk, Chi.” Kak Farran masih meyakinkan aku. Dan aku sekarang menangis. Aku yang masih kecil ini pasti akan dilarang habis-habisan untuk pacarana. “Biar aku yakinkan ke ayah kamu kalau aku bisa juga jagain kamu.” “Itu ide buruk Kak.” Aku tetap menggeleng. “Biarkan aku nyoba dulu, Chi.” “Ayah bukan orang yang gampang di yakinin, Kak.” “Aku tahu.” Kak Farran mengangguk. Matanya menatap ke arah lain dengan gusar. “Ngobrol sama dia waktu itu udah nunjukin seperti apa ayah kamu.” “Sulit ya pacaran sama aku?” tanyaku sendu. “Harus ketemuan diem-diem, jarang kontekan. Di saat temen-temen Kak Farran pacarana terang-terangan. Kamu nyesel ya pacaran sama aku? Diem-diem kaya gini?” Entahlah kenapa aku bisa berpikiran bahwa Kak Farran menyesal pacarana denganku. Akupun sebenarnya merasa bahwa kadang kali Kak Farran menatapku dengan tatapan yang… kalian tahu, kaya dia pengen nunjukin ke semua orang kalau aku pacarnya. Kalau situasinya mudah, Kak Bima bukan kakakku atau aku punya keluarga yang gak posesif, mungkin keadaannya lain. Tapi, apa aku harus menyesali hal yang emang sudah ditakdirkan oleh semesta? Kalau boleh jujur, aku pun kadang iri melihat teman-temanku yang pacaran di kelas, pulang sekolah bareng, pergi makan, nonton, iri juga melihat temanku yang suka senyum-senyum sendiri di kelas karena baca chat dari pacarnya. Aku yang dipantau 24 jam gak bisa melakukan itu. Ayah dan kakak-kakak mengawasiku diam-diam. Mereka gak pernah benar-benar memberikan waktu aku untuk sendiri. “Aku gak nyesel sama sekali. Aku pun gak masalah pacarana diam-diam sama kamu.” “Lalu? Kalau kamu gak masalah, kenapa?” “Kasih aku hak buat nunjukin sama ayah kamu kalau aku bisa jaga kamu juga.” Aku menatapnya dalam dan lama. “Saat kamu kenapa-kenapa aku pengen jadi orang yang juga berhak ada disamping kamu. Tanpa harus sembunyi-sembunyi.” “Chi!” Haru menanggilku. Dia baru saja masuk perpus. Dan memanggilku tanpa peduli suara bisingnya mengganggu siswa-siswi yang ada di dalam. Aku segera melepaskan tangan Kak Farran dan menggeser kursiku. Ternyum manis pada Haru yang tampak jelas sedang kesal sekali. “Gue cariin juga dari tadi.” Kesalnya sambil menjatuhkan p****t di kursi yang berhadapan dengaku. “Kenapa gak bales chat gue sih! Gue tuh lagi kesel banget tahu.” “Sorry.” Mengangkat buku dan tersenyum masam. “Keasyikan baca.” “Helehh… sok rajin banget sih.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN