(Farran Hafaza)
Jonathan sudah sejak tadi merhatiin gue yang berdiri gelisah di sudut kamar. Tapi dia gak melakukan apapun apapun apalagi nanya. Dia gak tahu aja kalau gue sebenernya pengen cerita tapi pengen ditanya dulu. Ribet ya?
“Tanya kek, Jo.” Akhirnya gue protes duluan.
Gue tahu sikap gue udah mirip kaya betina yang lagi nyari perhatian. Caper banget dari tadi mondar mandir di depan Jonathan. Tapi gak dilirik sama sekali. Malah cape sendiri.
Jonathan mengangkat sebelah alisnya. “Mau gue tanya apa emang? Lo udah pinter, cerdas malah. Gue gak bisa nanya lo tentang pelajaran. Yang ada gue yang kelihatan b**o nanya sama orang pinter.”
Ya Tuhan…
Konteksnya gak kesana sama sekali.
Tapi kok bisa sih gue pinter? Maaf, kadang gue emang narsis.
“Gue kayanya bakal mati dalam waktu dekat.”
Mendadak Jonathan menegakan punggungnya. Dia meletakan HP yang sejak tadi dia pegang. “Lo kenapa emang? Jangan nakut-nakutin deh.”
“Beneran, Jo. Bentar lagi gue bakal mati.”
“Jangan dong! Ntar gue kabur kemana kalau lo gak di rumah ini lagi.” Dia menatap penuh permohonan. “Jangan mati dulu ya. Plis.”
Gue menggeleng. “Gue bakal mati cepet, Jo.”
“Emang lo kenapa? Sakit?” dia mendadak mendekat. Pertama menempelkan punggung tangannya di kening gue. Sesaat dia mengernyit. Kemudian dia malah menempelkan keningnay dengan kening gue.
“s**l! Ngapain lo!” gue berjingkat menjauh. Jijik dengan kelakuan Jonathan yang kadang-kadang gak bisa disembuhkan walaupun di rukiyah Ustadz Farid yang lagi viral di youtube itu.
“Gue kan lagi ngecek suhu tubuh lo.” Jonathan nyengir. “Tapi lo aman-aman aja suhu tubuhnya gak tinggi.”
“Bukan badan gue yang sakit.” Gue berdecak. “Tapi ini…” gue nyengir sambil menyentuh d**a sebelah kiri.
Jonathan mengernyit. Seolah bilang maksud L?
“Chiara minta gue sama dia gak ketemu beberapa hari, Jo.”
Kernyitan di kening Jonathan makin dalam.
“Gue bakal mati perlahan-lahan gara-gara nahan kangen, Jo. Gimana nih?”
Ucapan gue seketika mendapat hadiah pukulan ringan di kepala.
“Jo!” pekik Kaline yang baru masuk ke dalam kamar gue. Dia membawa sekresek jiwa toast dan kopi. “Lo apain kepala calon orang sukses?” teriaknya.
“Maaf, gue sedang berusaha menyadarkan dia karena mendadak bego.” Jonathan nyengir. Tangan yang sebelumnya dia gunakan untuk mukul kepala gue beralih menjadi mengusap-ngusap kepala gue. Seolah kepala gue adalah tembikar langka yang akan pecah meskipun dengan guncangan kecil.
“Awas ya gue lihat lo pukul Farran lagi!” Kaline melayangkan tatapan tak ramah pada Jonathan.
“Iya.” Jonathan mendekat. Mengambil alih kresek dari Kaline dan langsung mencari pesanannya. “Cheezy Chrispy Chicken Mentai!!!” teriaknya antusias.
Gue bergabung dan mengambil pesanan gue. Lengkap sama kopi s**u dengan es yang amat sangat banyak.
”Emang lo kenapa?” tanya Kaline. Dia menatap gue.
“Gapapa?”
“Katanya dia bakal mati perlahan gara-gara nahan kangen. Prett… baru gitu doang udah mau meninggal aja.” Ejek Jonathan.
Aku memutar bola mata. Dia gak tahu aja seberat apa nahan kangen. Sehari-hari aja gue harus nahan buat gak nyapa dia. Sehari-hari aja gue harus nahan buat gak nyamperin Chiara. Dia gak tahu aja rasanya pacaran sama cewek yang dipantau 24 jam sama keluarganya. Gue harus ekstra hati-hati.
Jonathan mana ngerti.
“Emang Chiara kenapa? Kok tiba-tiba.”
“Gara-gara ketahuan gue anter pulang, ayahnya makin protektif sama dia.”
Kaline dan Jonathan saling tatap. Berikutnya mereka menatap gue prihatin lalu mengusap-ngusap pundak gue.
“Yang sabar.”
Ngeselin.
***
Saat Chiara bilang gue dan dia gak bisa ketemu beberapa hari ini, itu artinya gue harus bener-bener tahan lihat dia tiap hari. Gue harus tahan bersikap seolah kita bener-bener orang asing. Adik kelas dan kakak kelas yang gak terlalu akrab. Biasanya gue minta Kaline atau Jonathan ikut gue ketika nyamperin dia, tapi kali ini gak bisa.
Ketika Chiara bilang ayahnya sedang mencari tahu siapa cowok yang anter dia pulang waktu itu. Hari itu juga gue merasa seluruh sekolah lagi mengawasi gue. Gue ngerasa CCTV di seluruh sudut SMA Bumi Nusantara cuma mengikuti gerak-gerik gue. Bahkan saat gue ke toilet pun gue merasa gue diikuti.
Gue paranoid. Bener-bener paranoid.
Semua mata kayanya memperhatikan setiap langkah yang gue ambil. Gak terkecuali satpam yang selalu jaga di pos.
Lagi-lagi gue berpikir tentang seberapa nekad gue macarin anak cewek dari seorang pensiunan TNI.
“Jo, gak ada yang merhatiin gue kan?” gue berbisik ke Jonathan. Dia hendak menoleh ke kiri-kanan depan-belakang. Namun segera gue balikan kepalanya.
“Jangan noleh kemana-mana. Makin mencurigakan.” Bisik gue.
“Justru lo yang kaya gini tampak mencurigakan.” Jonathan balas berbisik.
“Ada Chiara.” Bisik gue, seketika menegakan punggung dan berusaha jalan kaya biasa. Dia menoleh ke gue sepersekian detik. Gue pun melakukannya.
Anehnya gue gak bisa bersikap biasa.
“Jangan jalan kaya robot, b**o!” bisik Jonathan.
“Ya atuh gimana?”
***
“Gue gak tahan, Jo.” Setelah tiga hari gak ketemu Chiara, gak saling tegur sapa gue pun mengatakan itu. Saat ini gue dan Jonathan sedang berdiri di depan kelas. Menatap lapangan yang sedan penuh dengan anak kelas 10 yang lagi olahraga. Salah satunya ada kelasnya Chiara.
“Ya terus gimana?” Jonathan memutar bola mata. “Risiko pacaran diam-diam ya kaya gitu.”
“Terus gimana biar gak kaya gini lagi?”
“Apa lagi?” Jonathan menatap gue bosan.
Gue faham kenapa dia kaya gitu. Tiap hari gue hampir mengeluhkan hal yang sama. Kangen lah, gak tahan lah pengen nyapa. Dan lain sebagainya.
“Kecuali lo ngaku kalau pacarnya Chiara ke ayahnya.”
Gue menggeleng cepat. “Ide buruk.”
“Gimana sih? Lo kan nanya sama gue apa solusinya. Gue jawab gitu biar aman. Daripada pacarana diem-diem terus kaya sekarang. Deg-degan tiap hari takut ketahuan kan?”
Gue diam.
“Jadi cowok gentle, Ran.” Jonathan menepuk pundak gue. “Minta izin pacaran sama Chiara ke ayahnya.”
“Bisa ditembak mati di tempat gue sama dia.”
“Yaudah.” Balas Jonathan. Dia angkat tangan. “Gue udah ngasih saran tapi lo gak mau ikutin.”
“Tapi resikonya itu lho, Jo.”
“Lo mana tahu apa yang akan terjadi kalau lo gak memberanikan diri menghadap Pak Adi.”
“Gue udah takut duluan.”
“Yaudah, silakan berkangen-kangen sendirian. Mati… mati sekalian.”
***
Gue terlalu takut mati. Maksudnya takut mati karena terlalu kangen sama Chiara. Akhirnya sore-sore gue mengarahkan motor gue ke perumahan tempat cewek gue tinggal. Gue tahu rumah Chiara waktu anter dia pulang. Walaupun waktu itu gue cuma nganter dia nyampe depan kompleks tapi dia bilang kalau rumahnya gak terlalu jauh dari pintu masuk. Rumah yang gerbangnya warna kuning.
Gue melajukan motor gue pelan-pelan. Melihat-lihat dengan perlahan. Mencari rumah dengan gerbang kuning. Hingga akhirnya gue menemukan rumah itu. Rumah Chiara gak terlalu besar, cuma satu lantai dan bercat putih tulang. Ada pos satpam kecil di samping gerbang. Gue berhenti di seberang gerbang.
Gak ada satpam yang bertugas. Setengah nekad gue turun dari motor, masih menggunakan helm, bukan karena males lepas, tapi buat pertahanan diri sebenernya. Siapa tahu kan tiba-tiba gue dilempar batu bata dari dalem.
Apalagi Chiara belum tahu siapa mata-mata yang memergoki gue anterin dia pulang. Bisa jadi orang punya gambar gue dan serahin ke Pak Adi. Cari aman biar wajah gue gak kelihatan.
Gue berjinjit agar bisa melihat ke halama depan rumah. Tampak sepi. Kayanya gak ada orang. Gue bergeser dan berjinjit lagi, pengen lihat lebih jauh rumah cewek gue. Setidaknya gue pengen mastiin dulu jalan mana yang bisa gue jadikan untuk kabur ketika gue menghadap ke ayahnya Chiara nanti.
Bukk…
Mendengar pintu mobil di tutup gue menoleh. Dan baru sadar kalau jeep putih berhenti tak jauh dari gerbang. Ada Chiara di dalam mobil, sedang menatap gue penuh kepanikan. Namun, yang buat gue harus kabur saat ini bukan kepanikan Chiara, tapi Pak Adi yang berjalan ke arah gue.
“Hey! Siapa kamu!”
Gue berlari menuju motor dan secepat kilat melajukannya.
Pak Adi masih berusaha mengejar gue. “Hey! Hey!! Berhenti di sana! Hey!! Berhenti!”
Untungnya dia gak bisa ngejar gue. Kepanikan yang gue rasa saat ini buat gue gas motor gila-gilaan.
Gue hampir ketahuan.
***