"Bagaimana?" Tanya Fachri. Saat tidak ada lagi tamu yang datang untuk bersalaman dengan mereka berdua. Sehingga ia bisa memastikan keadaan Arin. Apakah masih nyeri atau tidak. "Sepertinya aku bisa bertahan sampai acara ini usai. Setelah ini, kita langsung ke hotel. Aku mohon carikan aku alasan agar kita bisa ikut dengan Via ke hotel. Ini jika ditahan sampai pagi, aku bisa mati kesakitan," bisik Arin. Menggenggam tangan Fachri, yang sedari tadi tidak pernah mau melepaskan genggamannya. "Kamu tenang saja. Aku akan berusaha mencari alasan agar ikut dengan Via. Percayalah." Fachri mengusap pucuk kepala Arin. Selalu saja begitu saat pria itu ingin menenangkan Arin dari rasa gelisah. Arin pun mengangguk. Sebelum memberikan kode kepada Fachri untuk bersikap biasa. Saat ada tamu yang mulai

