AIR mata turun begitu deras dari sepasang netra berwarna biru milik gadis di depannya. Tangisan pilu yang berhasil membuat Victor panik melihatnya. “Chloe, what happen?” Kedua tangan Victor terulur berusaha menjangkaunya, namun posisi Chloe teramat jauh. Kepala Victor menunduk melihat tempatnya berdiri di kelilingi kawat berduri yang bilamana dirinya nekad melangkah pasti akan membuat telapak kakinya tertusuk besi. Panik mulai menguasai Victor saat dirinya sadar tidak bisa pergi mendekati gadisnya yang sedang menangis. “Victor hikss…” Tangis Chloe semakin menjadi-jadi. Mengundang kegelisahan Victor yang bingung harus menggunakan cara apa agar sampai di tempat Chloe. Tidak ada jalan lain selain halaman yang dipenuhi kawat berduri. Lalu Victor terdiam saat menemukan satu-satunya cara unt

