C I N Q U E

854 Kata
SELAMAT MEMBACA! ☆☆☆ Peluh keringat terus menetes dan mengalir membasahi wajah tampan Raefal. Dengan lihai, Raefal terus mendribble kemudian menshooting bola berwarna orange itu hingga bola tersebut masuk ke dalam ring dengan sempurna. Raefal akhirnya berhenti, ia sudah latihan sejak satu setengah jam yang lalu. Raefal menuju pinggir lapangan, kemudian entah datang darimana, Zea sudah berada di hadapannya dengan senyum yang begitu lebar dan memberikan sebotol air mineral kepada Raefal. Walau sempat terkejut beberapa saat, Raefal akhirnya menerima minuman yang diberikan oleh Zea. "Kamu capek, ya?" Tanya Zea dengan wajah polosnya. Raefal berhenti meneguk minumannya, kemudian ia menatap Zea. "Capek, tapi dikit. Ini sih belum seberapa, Ze." Zea membuka mulutnya lebar-lebar, "Serius cuma dikit capeknya? Kalau aku jadi kamu sih udah tepar tak berdaya kayaknya." Ucap Zea mendramatisir. Raefal tertawa, kemudian ia mencubit pipi Zea. Sepertinya mulai saat ini, hobi Raefal bertambah satu. Yaitu, mencubit pipi Zea. "Alay banget, sih!" Raefal tertawa dan membuat Zea juga ikut tertawa. Namun, di detik berikutnya tawa Zea terhenti. Air mukanya seratus delapan puluh derajat berubah dari detik sebelumnya. "Raefal?" Panggil Zea berusaha membuat Raefal berhenti untuk tertawa. Raefal pun berhenti tertawa dan ia menatap Zea dengan bingung, mengapa ekspresi Zea jadi seperti itu? "Kenapa, Ze?" "Itu," Zea menunjuk hidung Raefal, "hidung kamu berdarah. Kamu ngga apa-apa?" Tanya Zea khawatir. Raefal langsung memegang hidungnya. Dan benar saja, bercak darah kini telah menempel di jari telunjuknya. Raefal termenung beberapa saat. Namun, detik berikutnya Raefal kembali menunjukkan senyumannya. "Ngga apa-apa. Mungkin gue kelamaan main basket, jadi mimisan deh." Ucap Raefal diiringi dengan tawa kecilnya. Zea masih menatap Raefal dengan sorot khawatir, bahkan kedua mata Zea mulai berkaca-kaca. "Ke UKS, ya? Aku mau bersihin hidung kamu." Tanpa menunggu jawaban dari Raefal, Zea langsung menarik Raefal menuju UKS. Setelah sampai di UKS, Zea langsung menyuruh Raefal untuk duduk di atas ranjang yang ada di sana, kemudian Zea mengambil air dan tissu. Zea langsung membersihkan sisa darah yang keluar dari hidung Raefal tadi, kemudian Zea terisak. "R-raefal kenapa, sih? hiks ... hiks ..." Raefal jadi panik sendiri melihat Zea yang menangis seperti itu. Lalu, Raefal menghapus air mata Zea dengan kedua ibu jarinya. "Hey? Gue ngga apa-apa, Ze. Ini cuma mimisan biasa. Udah ah, cengeng banget, sih?" Zea berhenti menangis, "Zea takut. Zea ngga mau Raefal kenapa-kenapa." Ucap Zea dan hampir mengeluarkan air matanya kembali. Namun, Raefal dengan segera membawa Zea ke dalam dekapannya. "Udah ... gue ngga apa-apa, Ze. Gue sehat kok, sehat banget! Jangan mendrama deh, Ze." Raefal terkikik geli dan Zea langsung melepaskan pelukannya dari Raefal. "Aku bukan mau drama Raefal. Aku takut. Aku ngga mau kehilangan kamu, hiks ..."  Zea kembali terisak, membuat Raefal menggelengkan kepalanya tak mengerti. "Ya ampun, Ze ... lo kenapa sih? Lo bersikap seakan-akan gue punya penyakit dan sebentar lagi gue mau mati? L-" "Sstt! Kamu jangan bilang gitu, hiks ..."  Zea memotong ucapan Raefal begitu saja dan membuat Raefal berdecak. "Lo takut banget kehilangan gue?" Tanya Raefal dan Zea mengangguk. "Kenapa?" Tanya Raefal lagi.                   "Ngga tahu." Jawab Zea dengan polosnya. Raefal lagi-lagi tertawa, "Aneh deh. Kita baru aja kenal kemarin, tapi kenapa lo bisa setakut itu untuk kehilangan gue?" "Ngga tahu, Raefal, aku ngga tahu. Aku juga bingung sama diri aku sendiri. Dari dulu aku ngga mau dekat sama cowok manapun lebih dari teman. Tapi, saat aku lihat mata kamu kemarin untuk pertama kalinya, jantung aku langsung berdetak ngga sewajarnya. Aku mau kenal sama kamu. Aku mau dekat sama kamu. Aku mau jadi salah satu orang terpenting dalam hidup kamu dan aku ngga tahu kenapa aku bisa merasa seperti itu." Zea menarik napasnya dalam-dalam, kemudian ia menunduk dan memainkan jari-jemarinya. "Raefal ... maaf, ya? Pasti kamu risih kan sama aku? Kalau kamu ngga suka bilang aja. Aku ngga bakal ganggu kamu lagi, kok ... beneran deh ..." "Siapa bilang gue ngga suka? Gue suka kok." Raefal mengangkat dagu Zea agar gadis itu menatap Raefal dan tidak menunduk lagi. "Jangan berhenti gangguin gue, entah ini terlalu cepat atau gimana, gue ngga ngerti. Tapi ... gue juga ingin menjadi salah satu orang terpenting di dalam hidup lo, Ze." Raefal menatap Zea dan tersenyum hangat. Pipi Zea seketika menjadi merah merona."Jadi ... kita sekarang itu, umm ... apa ya? P-pacaran, gitu?" Tanya Zea dengan senyum yang malu-malu tapi mau. Raefal tertawa dan mengacak-acak rambut Zea dengan gemas, "Ya ngga lah. Ini masih terlalu cepat untuk kita. Lebih baik, coba untuk saling mengenal lebih dekat lagi ... oke?" Zea sedikit kecewa mendengar ucapan Raefal. Ya, tapi benar juga sih, mereka berdua baru kemarin saling mengenal dan tidak mungkin secepat itu untuk memberi status pacaran pada hubungan mereka, kan? "Oke deh. Aku tunggu lho, ya!" Zea mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Raefal mengernyit bingung atas ucapan dan perilaku Zea barusan. "Tunggu apa?" Zea menyengir dengan lebar, "Kamu nembak aku." Raefal kembali dibuat tertawa oleh ucapan Zea. Gadis itu memang benar-benar selalu memberikan kejutan di setiap ucapannya. “Udah ah, gue mau pulang.” Raefal beranjak dari atas ranjang lalu mulai berjalan menuju pintu UKS dibuntuti oleh Zea di belakangnya. “Raefal?” Panggil Zea saat mereka sudah berjalan di koridor menuju parkiran. “Apa?” Raefal memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Zea. “Aku mau ikut.” “Ikut kemana?” satu alis Raefal terangkat. “Rumah kamu. Boleh, kan?” “Rumah gue? Ngapain? Lagian nanti orang tu-“ “Mama sama Papa aku hari ini pulang malam. Aku malas sendirian di rumah. Boleh, ya?” Zea memasang tatapan memohon dan hal tersebut membuat Raefal hanya berdeham dan langsung berjalan meninggalkan Zea. “RAEFAL IH, TUNGGUIN!" Teriak Zea saat menyadari bahwa Raefal telah berjalan semakin jauh meninggalkannya. ☆☆☆
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN