D U E

854 Kata
SELAMAT MEMBACA! ☆☆☆ Suasana kantin SMA Cakrawala menjadi sangat ramai dan ricuh saat Adit dan Raefal menginjakkan kedua kaki mereka di depan pintu kantin. Adit memang sudah biasa mendapatkan hal-hal semacam ini. Pasalnya, ia memang seorang kapten basket di SMA Cakrawala. Jadi, ia sudah terbiasa melihat para gadis yang memekik kegirangan ketika bertemu dengan dirinya. Di tambah lagi, sekarang dirinya pergi ke kantin bersama Raefal. Anak baru yang sudah berhasil menarik perhatian siswa dan siswi di sekolah ini. Tapi mungkin para siswilah yang lebih menunjukkan ketertarikan mereka kepada Raefal. Hm, ya iyalah, yakali cowok suka sama cowok. Adit mengajak Raefal untuk menuju tempat biasa ia duduk bersama teman-teman yang lainnya di kantin. Ternyata meja tersebut masih kosong dan itu berarti teman-temannya yang lain masih di dalam kelas. Namun, beberapa saat kemudian sang kapten futsal yang tak lain adalah teman Adit menghampiri meja Adit dan Raefal. Ia tak sendiri, melainkan ada dua orang gadis yang ikut bersamanya. Raefal menatap gadis yang sedang digandeng oleh teman Adit itu, ternyata gadis itu adalah gadis yang tadi mengajaknya untuk berteman di kelas. Jadi ... dia sudah punya kekasih? Raefal menghela napasnya, entah mengapa ia merasa sedikit sulit untuk bernapas saat melihat tangan mungil Zea berada dalam genggaman tangan teman Adit yang tak lain adalah Bara. "Siapa nih, Dit? Anak baru?" Tanya Bara setelah ia duduk berhadapan dengan Adit dan Raefal. Adit mengangguk, "Iya. Dan kayaknya dia bakal ikut tanding di turnamen bulan depan." "Dia anak basket juga?" Tanya Bara lagi. "Dia mantan kapten basket di sekolah lamanya." Ucap Adit dengan jelas membuat Bara menganggukan kepalanya. "Oh ... good luck deh buat kalian," Bara tersenyum, kemudian ia mengulurkan tangannya pada Raefal, "Bara Nugraha." Raefal menyambut uluran tangan Bara dengan senang hati, "Raefal Julian." "Adit, kita kan udah kelas dua belas, memangnya masih boleh ya ikut turnamen kayak gitu?" Kini Zea yang bertanya. "Itu turnamen terakhir buat angkatan tahun ini tanding, Ze. Setelah turnamen itu, baru kita benar-benar fokus untuk persiapan ujian nanti." "Oh ... gitu, iya ngerti." Zea menganggukkan kepalanya dan ia kini beralih menatap Raefal yang duduk di sebelah Adit. "Raefal?" Panggil Zea dengan suaranya yang begitu lembut. Raefal mengangkat kepalanya kemudian menatap Zea dengan lekat, "Kenapa?" Bukannya menjawab, Zea malah terus menatap Raefal tanpa berkedip. "Kok jantung aku deg-degan banget, ya?" Ucap Zea begitu pelan. "Ze?" Bara menepuk pelan bahu Zea, membuat Zea berhenti menatap Raefal yang kini sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Zea menoleh ke arah Rayta yang sedari tadi anteng dengan segelas jus mangganya, "Tata ... kayaknya aku punya penyakit jantung deh." Rayta langsung tersedak mendengar ucapan Zea. Zea pun panik karena Rayta tidak berhenti terbatuk, "Aduh Tata ... aku yang sakit, kok kamu yang batuk, sih?" Ucap Zea kesal. Padahal kan ia yang sakit, mengapa malah Rayta yang terbatuk? Setelah batuk Rayta berhenti, ia langsung melempar tissu tepat di wajah Zea, "Makanya, kalau ngomong jangan sembarangan!" Rayta mendengus kesal. Zea cemberut, "Ih Tata ... aku ngga sembarangan, kok. Aku beneran punya penyakit jantung. Soalnya pas aku tatapan sama Raefal aku deg-degan. Jantung aku tuh kayak mau copot gitu rasanya." Zea menjelaskan apa yang tadi ia rasakan dan hal itu sukses membuat Rayta, Adit dan Bara membolakan matanya tak percaya bahwa Zea akan berucap seperti itu. Sedangkan Raefal, kini dirinya yang tersedak oleh minuman kaleng yang sedang ia teguk tadi. Zea kembali panik, "Aduh ... Raefal ngga apa-apa kan?" Tanya Zea, namun Raefal tak menjawab karena ia masih terbatuk. "Ih! Kalian kenapa pada aneh, sih? Aku yang sakit tapi kalian yang batuk-batuk!" Zea terus menggerutu dengan kesal. "Ze, lo jangan bercanda. Lo ini masih muda, masa iya punya penyakit jantung?" Kini giliran Bara yang bertanya sambil menatap Zea tak mengerti. "Kenapa pada ngga percaya sih sama aku? Tau ah, aku mau ke UKS aja!" Setelah itu, Zea benar-benar pergi meninggalkan mereka berempat. "Zea emang gitu, aneh. Biarin aja, nanti juga baik sendiri." Rayta menyengir, merasa tak enak pada Raefal atas sikap Zea barusan yang pergi begitu saja meninggalkan mereka. "Itu anak kenapa ngga berubah ya? Ngeselin banget dari kelas sepuluh." Kini Adit yang bersuara. "Zea emang ngeselin, Zea emang aneh. Tapi ... semua itu yang bikin gue suka sama dia sejak pertama kali gue lihat dia." Dan kali ini sang kapten futsal alias Bara yang bersuara "Tapi ... Zea itu terlalu sulit untuk gue gapai. Gue ngga tahu kenapa dia ngga pernah bisa bales perasaan gue selama ini. Hatinya sangat sulit untuk gue tembus." Bara kini beralih menatap Raefal, "Tatapan yang Zea berikan untuk Raefal itu berbeda. Cara Zea menatap lo, itu sama kayak cara gue menatap Zea. Tatapan penuh kekaguman, tatapan penuh cinta. Dan tadi Zea bilang dia deg-degan saat dia natap lo. Lagi ... itu sama kayak gue yang selalu merasakan debaran yang berlebihan saat gue menatap Zea." Bara menghembuskan napasnya pelan."Gue harap lo ngerti. Jaga Zea, jangan pernah sakiti dia. Gue sayang dia, tapi gue bukan bahagianya dia. Gue ... gue nyerah. Tolong bahagiain Zea, karena gue tahu, lo juga memiliki perasaan yang sama dengan Zea." Setelah mengucapkan kalimat yang cukup panjang itu, Bara pergi meninggalkan mereka bertiga yang kini menatap Bara dengan tatapan tak percaya.  "Itu Bara yang ngomong?" Tanya Adit dengan bodohnya. "Kenapa jadi kayak ftv gini, ya?" Kini Rayta yang bertanya dengan tampang polosnya. "Ekhem ..." Raefal berdeham, lalu ia memundurkan kursinya dan berdiri, "Gue balik ke kelas duluan." Raefal juga meninggalkan Rayta dan Adit. Rayta dan Adit saling berpandangan, "Kenapa jadi gini?" Ucap mereka bersamaan. ☆☆☆
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN