T R E D I C I

1164 Kata
SELAMAT MEMBACA! ☆☆☆ Suara dentingan yang ditimbulkan oleh sendok dan piring yang saling bersentuhan menghiasi suasana ruang makan keluarga Zea pagi ini. Zea harus menanyakan alasan mengapa Ray menyuruh dirinya untuk menjauhi Raefal. Padahal, Zea yakin Ray tidak pernah mengenal Raefal sebelumnya. Zea sampai tidak bisa tidur karena memikirkan hal tersebut sepanjang malam. Dan pagi ini, ia harus menanyakan apa maksud dari perkataan Ray tadi malam. "Papa?" Panggil Zea akhirnya. Ray hanya menatap Zea tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. "Hm ... kenapa semalam Papa bilang aku harus jauhin Ra-" "Tidak sopan berbicara saat sedang makan, Zea." Potong Ray dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Zea menunduk dan akhirnya ia kembali melanjutkan sarapannya. Rasanya sekarang Zea ingin menangis melihat sikap Ray seperti itu. "Mas, kenapa seperti itu dengan Zea? Lagian aku juga bingung kenapa semalam kamu tiba-tiba menyuruh Zea untuk menjauhi temannya? Me-" "Zemira, sejak kapan kamu berani melawan apa yang aku perintahkan? Aku bilang tidak sopan berbicara saat sedang makan, seharusnya kamu bisa mencontohkan hal yang baik untuk Zea." Ray memotong ucapan Zemira begitu saja. Sejujurnya Zemira juga tak mengerti mengapa Ray bersikap seperti itu. "Mas, aku tanya baik-baik. Memangnya kamu mengenal siapa teman Zea itu? Aku yakin kamu belum pernah bertemu dengannya." "Tidak usah banyak bicara. Habiskan saja sarapan kalian." Ray mengucapkan kalimat tersebut dengan tegas. Mereka pun kembali melanjutkan sarapan. Setelah Zea menghabiskan sarapannya, ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan segera pamit kepada Zemira dan Ray. "Papa tahu yang terbaik untuk kamu, Zea." Ucap Ray saat Zea baru saja meninggalkan meja makan. Zea terdiam beberapa saat, ia menarik napasnya dalam-dalam. Setelah itu, tanpa ada kata yang terucap ia benar-benar pergi meninggalkan kedua orang tuanya. *** Di tempat yang berbeda, Raefal masih terbaring nyenyak dalam tidurnya. Padahal, matahari sudah menyapanya dari balik jendela. Bunyi alarm yang kelima kali, akhirnya berhasil membuat Raefal membuka kedua bola matanya perlahan-lahan. Ia melihat jam yang sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Raefal segera bangkit dari tempat tidurnya untuk mandi dan bersiap-siap ke sekolah, karena ia yakin hari ini dirinya akan datang terlambat. Namun, langkah Raefal terhenti karena kepalanya terasa sangat sakit. Rasa mual juga tiba-tiba menyerang dirinya. Raefal berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang sangat lambat, hal tersebut membuat Raefal tak tahan menahan rasa mual yang teramat sangat dan akhirnya ia memuntahkan isi perutnya sebelum sampai di kamar mandi. Huek! huek! Rasa mual itu tak kunjung usai menyerang dirinya, Raefal terus memuntahkan semua isi perutnya sampai Raefal hanya memuntahkan cairan bening. Tubuhnya pun sekarang terasa sangat lemas. Akhirnya Raefal kembali berdiri tegak, rasa mualnya sudah mulai menghilang. Namun, rasa sakit di kepalanya justru semakin bertambah sakit dari sebelumnya, sehingga membuat Raefal menjambaki rambutnya sendiri dengan sangat kencang. Tak lama kemudian, Ratna datang menghampiri Raefal dan ia terkejut melihat banyak cairan muntah Raefal yang berceceran di lantai. "Ya Alllah ... sayang kamu kenapa?" Tanya Ratna sambil mengusapi punggung Raefal. Raefal tak menjawab, ia hanya mengerang kesakitan karena sakit di kepalanya semakin tidak karuan. "Sayang ..." Ratna menangis, ia tidak sanggup melihat Raefal seperti itu. "Mah, sakit ... kepala Raefal sakit." Raefal mengadu, kemudian Ratna menuntun Raefal untuk kembali ke atas tempat tidurnya. "Hari ini kamu ngga usah sekolah dulu, ya? Istirahat saja. Nanti kita ke dokter." "Ngga usah ke dokter. Raefal istirahat aja, Mah." "Yakin kamu kuat?" Raefal mengangguk lemah. "Mama panggil Bi Uti untuk bersihin kamar kamu dulu, ya? Mama juga mau telpon wali kelas kamu dulu. Sebentar ya, sayang?" Ratna mengecup kening Raefal setelah mengucapkan kalimat tersebut. Setalah lima belas menit berlalu, akhirnya Ratna kembali sambil membawakan semangkuk bubur serta beberapa obat. "Raefal makan dulu, ya? Supaya cepat sembuh." Ratna menyodorkan satu sendok bubur yang langsung dilahap oleh Raefal. Ratna tersenyum senang karena Raefal tak susah untuk menghabisi buburnya. Setelah itu, Ratna memberikan Raefal obat lalu membiarkan Raefal beristirahat. "Mama ..." Panggil Raefal. Ratna yang baru saja ingin membuka pintu kembali menoleh ke arah Raefal, "Ada apa, sayang?" "Nanti siang Raefal mau ketemu Bunda. Boleh, kan?" Tanya Raefal. "Kalau kamu sudah merasa sehat, boleh." Ratna tersenyum, kemudian pergi meninggalkan Raefal yang sedang berusaha menganggap semuanya akan baik-baik saja. *** Lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah. Raefal harus menunggu waktu yang lebih lama lagi untuk sampai di tempat yang ingin ia tuju. Sesuai apa yang Raefal sampaikan pagi tadi, siang ini ia akan menemui sang Bunda. Namun, perjalanannya harus terhenti untuk beberapa saat karena lampu kuning baru saja berganti menjadi merah. Seorang anak kecil mengahampiri mobil Raefal, ia mulai memainkan gitar yang sebenarnya sudah tidak layak untuk dimainkan. Ku buka album biru Penuh debu dan usang Ku pandangi semua gambar diri Kecil bersih belum ternoda Suara anak kecil itu mampu membuat Raefal menurunkan kaca mobilnya dan menatap bocah laki-laki yang mengenakan kaos hitam pendek serta celana putih selutut yang sudah terlihat sangat kusam. Pikir ku pun melayang Dahalu penuh kasih Teringat semua cerita orang Tentang riwayatku Raefal terus menatap bocah laki-laki itu, tangan Raefal juga mulai mengusap perlahan sesuatu yang berada di genggamannya sejak tadi. Kata ... mereka diriku selalu di manja Kata ... mereka  diriku selalu di timang Raefal mengangkat sesuatu yang sejak tadi berada di genggamannya itu dan menatapnya dengan hati yang bergetar hebat. Nada-nada yang indah Slalu terurai darinya Tangisan nakal dari bibirku Tak kan jadi deritanya Sesuatu yang Raefal genggam sejak tadi adalah foto dirinya bersama dengan kedua orang tuanya. Namun, Raefal tidak tahu mengapa bagian wajah sang Ayah tersobek dan hal itulah yang membuat Raefal tak mengingat sedikitpun wajah sang Ayah. Tangan halus dan suci T'lah mengangkat tubuh ini Jiwa raga dan seluruh hidup Kata ... mereka  diriku selalu di manja Kata ... mereka Diriku selalu di timang Oh Bunda ada dan tiada dirimu Kan selalu ada di dalam hatiku. Raefal menundukkan wajahnya dalam-dalam, menahan sesak yang kini menghimpit dadanya. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena Raefal sadar kini dirinya sedang berada di jalan. Ia pun mengambil beberapa lembar uang berwarna biru dari dompetnya dan ia berikan kepada bocah laki-laki itu. Lampu lalu lintas telah berubah kembali menjadi hijau dan Raefal kembali melanjutkan perjalanannya untuk bertemu sang Bunda. Empat puluh menit berada di perjalanan, akhirnya Raefal tiba di tempat yang ia inginkan. Raefal membawa banyak bunga yang sempat ia beli tadi. Raefal mulai berjalan menyusuri tanah lapang luas yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Hanna. Ya, Raefal sedang berada di tempat pemakan umum. Raefal tiba di sebuah gundukan tanah yang di tumbuhi banyak rumput hijau yang terlihat indah. Raefal langsung menaburkan bunga lalu merapalkan banyak doa untuk Hanna. "Assalamu'alaikum, Bunda ... Bunda apa kabar? Bunda senang kan berada di surga? Raefal kangen, Bunda ..." Raefal mengelus dan menciumi batu nisan yang bertulisakan Hanna Paradista binti Surya. "Bunda kangen Raefal juga, kan?" Tanya Raefal padahal ia tahu Hanna tak mungkin membalas perkataannya. Langit mulai gelap, diikuti oleh kilatan cahaya serta suara gemuruh yang terdengar begitu nyaring. Namun, Raefal masih berdiam diri, ia tak mau pergi sekarang. Ia benar-benar merindukan Hanna. Selang beberapa menit, hujan pun mulai turun membasahi tempat yang Raefal pijak saat ini. Tubuh Raefal langsung basah kuyup akibat hujan yang turun begitu derasnya. "Bunda ... Raefal ngga tahu sekarang harus bagaiamana. Raefal ngga tahu harus sedih atau bahagia, Bunda ... " Air mata Raefal mulai jatuh di bawah derasnya air hujan. Raefal menangis tersedu-sedu. Ia benar-benar tidak tahu mengapa takdir hidupnya seperti ini. Raefal ingin sekali melawan takdir hidupnya, namun ia tahu tak akan pernah bisa. "Bunda ... kenapa harus Raefal?" Tanya Raefal dengan lirih sambil memeluk makam Hanna. ☆☆☆
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN