Bertahan

1193 Kata
Mengetahui jika Daren akan langsung bekerja siang ini, Kayra pun berpikir kembali. Ia memutuskan untuk pulang sendiri dan menghadapi sikap ibu dan kakaknya di rumah nanti. Hanya dia yang tahu bagaimana cara menghadapi sang ibu. Ia juga tidak mau merepotkan suaminya apalagi ini adalah hari pertamanya bekerja. "Apa kamu yakin pulang sendiri?" tanya Daren sedikit khawatir. Kayra pun mengangguk. "Iya, Mas gak usah khawatirkan aku. Semarah apapun ibu atau Kak Jia, aku pasti bisa hadepin mereka." "Hmm, syukurlah kalau begitu. Kamu hati-hati di jalan ya, Neng. Kalau ada apa-apa kamu cepat telpon mas." "Iya, Mas. Kalau gitu aku pulang ya!!" Kayra pamit. Sepeninggalan istrinya, Daren langsung masuk ke dalam sebuah ruangan luas di sana berikut Darma. Ini memang hari pertamanya bekerja, wajar saja jika Daren masih harus banyak belajar dari orang di sekitarnya terutama kepada mertuanya sendiri. "Bagian itu kalian angkut ke truk container sebelah sana dan pisahkan barang apa saja yang seharusnya diangkut." Seorang pria bertubuh tinggi itu lantas mendekat ke arah Darma. "Dan untuk Anda Pak Darma, tolong bantu yang lain angkut semua barang ke dalamnya." Dengan cepat Darma mengiyakan. "Baik, Pak Radit." Daren yang masih bingung akan pekerjaannya, mendengar Darma jika beliau memanggil pria itu dengan sebutan yang sering ia dengar. Di sana Daren pun melihat apa yang dilakukan Darma setelah pria itu memberi perintah. 'Hmm, jadi itu yang namanya Radit?' gumam Daren dalam hati. Sudah sering ia mendengarnya dari mulut ibu mertua. Bahkan, Elisa sering membandingkan dirinya dengan pria tersebut. "Hei kau, kenapa diam saja, cepat bantu, barang harus segera selesai siang ini," perintah pria itu dengan nada tinggi. Berbeda dengan nada suaranya terhadap Darma. "B-baik, Pak." Daren pun menuruti perintah atasannya yang tak lain ialah pria bernama Radit. "Bagaimana? Apa sudah selesai semua?" "Hampir, Pak." "Baiklah, kalau begitu cepat selesaikan. Jangan lupa bagian yang lain harus kau kejar juga." "Baik, Pak, akan segera saya selesaikan semua." "Ah ya saya lupa, apa perusahaan GAMA sudah mengirim barang baru?" "Belum, Pak. Mereka masih mempertimbangkannya lagi setelah perusahaan ini bermasalah," lanjut pria bernama Radit. Pria berpakaian rapih itupun terlihat berpikir. "Hmm, baiklah, pokoknya kwalitas kita jangan sampai turun lagi, jika tidak, kita akan lebih sulit lagi untuk masuk ke perusahaan GAMA." Sejak tadi Daren mendengar apa yang mereka bicarakan. Sambil mengangkut barang, Daren memperhatikan wajah mereka berdua dan mencoba untuk mengingatnya. Dia tak boleh lupa dan setelah ini Daren mesti bertanya apa-apa saja yang ingin ia ketahui, tentunya kepada sang paman ataupun tangan kanan nya. "Daren, sebaiknya konsentrasi lah saat bekerja. Kalau tidak mereka pasti akan memarahimu," kata Darma saat setelah ia melihat Daren seperti sedang memikirkan sesuatu. Daren tersenyum dan berkata, "Baik, ayah. Oya, ada yang ingin aku tanyakan sama ayah." "Soal apa? Apa itu soal Pak Radit?" Darma terkekeh. Menantunya ini punya rasa penasaran juga. Ya, dia tahu apa yang Daren pikirkan saat ini. Apa lagi ini menyangkut orang yang selalu istrinya bandingkan. "Jadi, dia itu Pak Radit yang suka sama Kayra?" tanya Daren kemudian. Sekali lagi Darma terkekeh. "Dia tidak menyukainya, hanya saja ibumu ingin Kayra dekat dengan Pak Radit. Entahlah, ayah juga gak paham lagi sama sikap Elisa." "Mmm ... tapi ... sepertinya Pak Radit itu menghargai ayah dari pada pekerja yang lainnya, apa itu karena ayah adalah ayah Kayra?" "Haha, kau ini. Jangan berpikir seperti itu, mungkin saja Pak Radit melihat ayah sudah tua. Sudah sepantasnya anak muda lebih menghargai orang yang lebih tua darinya, bukan?" Daren mengangguk-ngangguk. "Lalu, pria yang satunya lagi ..." "Oh itu, beliau adalah Pak Soni dan Pak Soni ini putra dari pemilik perusahaan ini." Daren terdiam. Ia memikirkan kedua orang tersebut. Darma pun kembali menepuk pundak Daren, mencoba untuk menyadarkannya. "Jangan terlalu dipikirkan. Ini tempat kerja, bukan tempat untuk melamun," cetusnya lagi. Daren tersenyum. Lantas, ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Menjadi seorang pengangkut barang adalah pengalaman pertamanya. Biasanya Daren bekerja langsung ke lapangan produksi dan berinteraksi langsung dengan para pekerja di lapangan. Sekarang terbalik, dirinya seolah menjadi seorang penyalur pertama sebelum bagian produksi. Perusahaan tempat Daren bekerja sekarang ialah perusahaan Textil berikut garmen yang menyatu di bidang tertentu. Dari mulai pembuatan kain hingga dijadikannya sebuah busana. Namun, perusahaan itu tidak sebesar perusahaan GAMA. Bisa dibilang perusahaan ini dibawah GAMA, sangat bawah. *** Hari sudah hampir gelap, jam kerja pun telah selesai. Daren dan Darma pun bersiap untuk pulang. Mereka berdua keluar dari gudang bersama. Bip, bip!! Sebuah mobil berhenti tepat saat mereka berjalan. Mereka pun berhenti, menunggu orang di dalam mobil itu keluar. "Loh, Pak Radit," seru Darma. Beliau tak percaya jika Radit akan keluar dan berjalan ke arahnya. "Pak Darma, sudah lama saya tidak mengantar Anda, apa Anda ada waktu sebentar, ada yang ingin saya sampaikan," ucapnya tanpa melihat jika Daren ada di sana juga. Darma mengerutkan keningnya. "Sampaikan? Soal apa ya kalau boleh saya tahu?" Di sana Daren hanya diam, mendengar apa apa saja yang pria itu inginkan. "Hmm, begini, sudah lama saya kepikiran tentang putri Bapak yang bernama Kayra. Ah, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membahas semuanya. Kalau bisa, pekan depan apa bapak ada waktu?" tanya Radit lagi. 'Ada maksud apa pria ini ingin bertemu dengan ayah mertuaku dan lagi, untuk apa dia bertanya soal Kayra' gumam Daren dalam hati. Sebentar, Darma menoleh ke arah Daren dan kembali berbicara. "Oh, tentu, saya ada waktu untuk itu." Pria itu terlihat senang, ia tersenyum lebar dan berkata, "Syukurlah kalau begitu. Pekan nanti saya ke rumah bapak untuk membahas sesuatu." "Oh, baik, Pak," lanjut Darma. "Kalau begitu saya permisi." Pria itu pamit dengan sopan. Baru kali ini Daren bertemu sekaligus tidak mengerti akan niat seseorang yang terlihat baik-baik seperti itu. Padahal hatinya sudah geram ingin membalas perkataan pria tadi. Tetapi, ia juga tidak mengerti kenapa ayah mertuanya menyetujui jika Radit akan berkunjung ke rumahnya. 'Siapa kau sampai berani ingin membahas tentang Kayra, istriku. Rupanya kau cari mati atau kau ingin merasakan bagaimana cara aku menghadapimu, Bung!! Oke, kita lihat saja nanti' "Kita pulang," lanjut Darma. Kali ini pun Darma berhasil menyadarkan Daren dari lamunannya. Ingin sekali ia bertanya. Akan tetapi Daren hanya akan melihat, sejauh mana Radit mencari masalah dengannya. Pulang dari tempat kerja, Daren tidak melihat Elisa ataupun Jia ada di rumah. Rumah nampak sepi. Lantas, Daren pun memutuskan untuk segera masuk ke kamarnya yang ada di lantai atas dan menemui Kayra. Di sana Kayra sudah tertidur pulas. Daren sedikit lebih lega, ia bersyukur tidak terjadi apa-apa terhadap istrinya. Melihat Kayra tertidur pulas, dirinya teringat akan seseorang yang hendak ia hubungi. Daren pun berjalan menuju balkon atas agar Kayra tidak mendengar obrolannya dengan seseorang tersebut. Telpon pun tersambung. "Anakku, ada kabar apa sampai kau menghubungiku malam-malam?" tanya seseorang di dalam sambungan telepon itu. Tentu, Daren pun menceritakan tentang semua yang terjadi hari ini termasuk mengenai pekerjaan yang ia geluti hari ini. "Ternyata kau punya kabar terbaru, paman senang akan hal itu. Paman harap kamu terus mendalami mereka, siapa tau kau dapat jawaban lain dari orang di sekitarmu," lanjut sang paman. "Baik, Paman, aku akan menemuimu setelah aku mengumpulkan semuanya." Puas berbincang dengan sang paman, Daren pun menutup telepon nya. Begitu terkejutnya dia saat tahu Kayra ada di sana dan berjalan ke arahnya. "Kamu udah pulang, Mas, barusan kamu teleponan sama siapa? Apa itu pamanmu?" 'Apa Kayra mendengar semuanya?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN