PART 36: TENTANG PERASAAN Bukannya mundur ke belakang, yang Aksa lakukan malah semakin merapatkan tubuhnya, dan memenjarakan Muezha dengan kedua tangannya yang mulai terulur ke depan. Membuat jantung Muezha semakin berdetak kencang. "Jadi, kapan kau akan memberiku kesempatan?" Aksa mulai menghirup aroma sampo yang menguar dari helaian rambut mantan istrinya. "Kesempatan apa?" tanya Muezha dengan susah payah. Ia lantas berbalik, menatap Aksa yang berdiri di depannya dengan jarak yang terlampau dekat, dan ... kenapa pria itu malah membahas tentang kesempatan? "Jangan berpura-pura tidak tahu, Muezha." Aksa berkata dengan suaranya yang terdengar lebih berat dari biasanya. "Aku merasa jika kedua orang tuamu sedang memberikan kesempatan untuk kita berdua, tapi kau sendiri malah belum melaku

