๐Ÿ’œ S-E-P-U-L-U-H ๐Ÿ’œ

663 Kata
Fattan sudah membicarakan perihal masalah pekerjaannya kepada Pak Bayu, atasannya. Mengingat saat ini hampir seluruh job desc Fattan sudah pria itu kerjakan sehingga Pak Bayu mengizinkannya untuk bekerja di luar kantor. Katanya, yang penting saat masih jam kerja bisa dihubungi. Dengan senyum yang mengembang Fattan mengucapkan terima kasih kepada atasannya itu. "Kalau ada yang perlu untuk direvisi, saya siap, Pak. Di mana pun dan kapan pun," ucap Fattan dengan penuh semangat. Pak Bayu mengangguk dia menepuk bahu Fattan pelan. "Pekerjaanmu sudah bagus semuanya. Nanti saya minta tolong untuk disatukan aja ya, laporan kamu dengan laporan tahun-tahun sebelumnya." "Baik, Pak." "Ya sudah, kamu boleh pergi sekarang." "Baik, Pak. Terima kasih banyak ya." Sesampainya di luar ruangan Pak Bayu, Fattan langsung mengecek ponselnya. Niat awalnya dia ingin mengecek penerbangan Jakarta-Yogyakarta untuk hari ini, tetapi niatnya seketika terlupakan begitu melihat pesan dari Yanti. Yanti Aku udah di depan apartemen kamu Hari ini jadi kan? Fattan terdiam beberapa saat. Sungguh, dia baru teringat perihal janjinya dengan Yanti. Fattan Tunggu sebentar Aku OTW Beberapa saat kemudian, Fattan sudah berada di depan apartemennya. Yanti berada di sana dengan menampilkan wajah kesalnya. Bagaimana tidak kesal, perempuan itu menunggu hampir dua jam. "Maaf ya. Jalanan macet," ucap Fattan lebih dahulu memberitahukan alasan keterlambatannya. Yanti hanya berdeham. Fattan membuka apartemennya lalu mempersilahkan Yanti untuk masuk ke dalam. "Ga usah masuk. Kita langsung pergi aja. Jangan kelamaan, acara keluarga aku takut keburu selesai." Fattan menoleh ke arah jam tangan. Saat ini pukul sepuluh pagi. Kalau dia ikut acara keluarga Yanti, bisa-bisa dia pulang malam hari dan pastinya tidak keburu untuk menyusul Gretha. Takutnya malam nanti, kejadian seperti semalam kembali terulang. "Kayanya aku enggak bisa ikut acara keluarga kamu," ucap Fattan berterus terang, "soalnya ada hal mendesak yang harus aku urus." Wajah Yanti seketika menjadi memerah padam. Dia terlihat begitu teremosi. "Gila ya. Aku nunggu hampir dua jam loh, Fat. Seminggu kemarin aku juga udah bilang dan kamu bersedia buat ikut, tapi tiba-tiba kamu gagalin begitu aja," ucap perempuan itu dengan menggebu-gebu. "Habisnya gimana. Urusan aku mendesak. Masa depan seseorang ada di tangan aku." "Urusan siapa? Gretha kan? Dia terus. Nikahin aja dia sekalian. Enggak usah berusaha meluluhkan hati aku buat balikan lagi sama kamu," seketika air mata Yanti terjatuh, "kamu enggak ga pernah berubah. Gretha selalu menjadi prioritas utama, sedangkan pasangan kamu menjadi yang kedua setelah dia." Fattan terdiam, masih terkejut dengan Yanti yang tiba-tiba menangis. "Aku cape menjalin hubungan yang kaya gini. Gretha terus. Kepentingan dia terus. Seolah dunia kamu cuma diisi oleh dia." "Yanti," panggil Fattan pelan, "aku belum bilang ini kepentingan siapa. Kamu udah ngomel-ngomel aja." Kedua alis Yanti mengerut. "Emangnya bukan Gretha?" tanyanya. "Ya, emang, Gretha sih. Dugaan kamu benar." "Ya, emang selalu dia di dunia kamu." "Tapi keadaan dia benar-benar mendesak. Aku ga bisa ceritain ini sekarang. Intinya masa depan dia di tangan aku." Yanti menarik napasnya lantas mengelap air matanya dengan kasar. "Kamu selalu bilang urusan dia selalu mendesak. Waktu itu dia kelaparan di malam hari, sampai kamu rela membatalkan kencan kita, kamu beralasan itu urusan mendesak." "Kalau kelaparan bisa meninggal," balas Fattan berusaha membela diri. "Waktu itu juga, kamu enggak jadi jemput aku cuma karena ngurusin kran di apartemen Gretha yang rusak. Kamu juga beralasan itu urusan mendesak," ucap Yanti kembali mengingat-ingat kejadian di masa lalu. "Ya kan kalau krannya enggak bisa ketutup. Bisa banjir apartemen dia. Barang-barangnya ru-" ucapan Fattan seketika terputus saat Yanti mendekatkan tangannya tepat di depan wajah pria itu. Memberikan isyarat agar pria itu terdiam. "Dia terus yang kamu bela," Yanti menunjukkan ke arah lorong yang diujungnya terdapat lift, "sekarang pergi. Urus urusan mendesak dia. Kita selesai. Enggak usah hubungin aku lagi. Cari perempuan lain yang sabar buat menghadapi kamu dan sahabat kamu. Atau nikahin aja Gretha." "Enggak gitu, Yan. Aku masih mau balikan sama kamu. Aku masih tetap harus berusaha." "Tapi aku tetap enggak mau. Cape. Ngebatin." Fattan menatap Yanti lekat kemudian mengangguk. "Aku pamit. Jaga diri baik-baik." Yanti berdeham. "Jaga Gretha baik-baik. Kalau bisa, jagain juga anaknya nanti. Cucunya sekalian."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN