Hulya bersenandung riang dengan tangan yang masih melipat mukenah dan sajadah yang ia & vian gunakan.
Krekkk...
Suara pintu terbuka
“Sudah selesai angkat telfonnya mas?” vian masih bengong dengan tatapan yang sulit hulya artikan, wajah vian nampak pucat disertai keringat di pelipisnya. Membuat asumsi hulya mengatakan suaminya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
“mas ada apa? Apa yang sedang terjadi hingga mas terlihat tegang seperti ini?” hulya yakin pasti ada sesuatu yang telah terjadi
“hulya, mas akan ceritakan semua yang terjadi. mungkin ini akan menyinggung perasaanmu, tapi mas sudah berjanji tidak akan menutup suatu apapun padamu. Sepahit apapun kenyataan itu”
Deg...
‘Ada apa ini? bahkan pernikahan aku & mas vian baru tadi pagi. Kenyataan pahit apa yang akan aku ketahui Rabby?’ batin hulya bermonolog
“InsyaAllah mas, apapun yang akan mas ceritakan nantinya hulya akan berusaha memahaminya. Sekalipun itu kenyataan pahit” ungkapnya pada vian dengan jantung yang bergemuruh
“dengarkan penjelasan mas, jangan pernah menjeda atau mengucapkan apapun sampai mas benar-benar selesai” tegas vian, hulyapun mengiyakan dengan anggukan kepala.
“sebelum mas mengkhidbahmu, mas memiliki hubungan dengan seorang wanita bernama bella. Kami pacaran hampir 2 tahun, Tapi mama Papa sangat tidak menginginkan aku bersamanya. Terlebih mama yang selalu bersih keras menginginkan kamu sebagai menantunya. Saat itu Aku memang mencintai bella, bahkan sangat. Namun disisi lain aku lebih mencintai mama, dia wanita pertama yang aku cintai. Pantang bagiku untuk mengecewakann apalagi sampai melukainya. Dalam keadaan ragu aku pun mengiyakan tawaran mama untuk mengkhidbahmu, saat itu pula aku menyelesaikan urusanku dengan bella. Aku pikir dia akan baik-baik saja, karna aku tau dia pasti akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku. Bahkan 10 lelaki Seperti diriku pun aku yakin dia sanggup. Tapi aku tidak percaya, setelah aku mengatakan hubungan kami berakhir... Ternyata dia depresi. Sampai tadi saat dia mengetahui pernikahan kita, dia nyaris menghabisi nyawanya. Beruntung Art nya menemukan dia sebelum urat nadinya putus hingga dia selamat walau kini dia terbaring lemas dirumah sakit karna mengeluarkan banyak darah. Barusan yang menelfonku papanya bella, dia menginginkan aku datang kerumah sakit karna bella terus mengigau namaku”
Sungguh hati hulya seperti teriris, bagaimana bisa ternyata dirinya adalah penghancur hubungan masa lalu suaminya dengan orang yang sangat dicintainya. Bahkan pernikahannya pagi tadi membuat malapetaka untuk bella. Bagaimana dia harus menyikapi keadaan ini, air sudah tergenang di pelupuk matanya.
“Mungkin jika hulya berada diposisi mbak bella, maka hulya akan melakukan hal yang sama mas. Maafkan hulya yang telah menjadi penghalang cinta kalian” wajahnya tertunduk & pipinya sudah mulai basah karna air mata yang lolos dari pelupuk “pergilah mas, temui mbak bella. Saat ini dia sangat membutuhkan kehadiranmu” tangan kekar vian terulur mengusap air mata hulya
“aku memang akan menemuinya, tapi tidak sendiri. Aku ingin pergi bersamamu hulya”
“jika mendengar pernikahan kita saja membuatnya nyaris kehilangan nyawanya, bagaimana dengan kehadiran kita mas? Hulya yakin hanya akan menambah insecure padanya, pergilah Mas! Hulya akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kita semua mas” ucapnya menahan perih di hati.
“kamu yakin dengan keputusanmu untuk tidak ikut ke rumah sakit?” Hulya mengangguk dihiasi senyum ketir diwajahnya.
“terima kasih hulya, mas janji tidak akan membuatmu berprasangka” sekali lagi hulya mengangguk
“kabari hulya setelah sampai di rumah sakit mas” pintanya pada vian yang saat ini berjalan menuju garasi mobil. Membuat vian kembali memutar badannya untuk memeluk serta mencium kening hulya.
Mobil vian telah keluar dari pekarangan rumahnya, hulya segera menutup pintu. Dibalik pintu hulya menghempaskan tubuhnya, memeluk tubuh ringkihnya. Seketika itu pula pecah tangisnya, malam pertama pernikahan harus ditinggal suami menemui mantannya? Sakit rasanya, apalagi mengetahui bahwa yang menginginkan dirinya & Pernikahan yang baru tadi pagi dilaksanakan bukan suaminya melainkan mama mertuanya. & mirisnya disini seakan-akan hulya yang jahat, mengambil paksa vian dari bella.
Hulya memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu, setelah mendapat pesan dari vian bahwa telah sampai di rumah sakit, akhirnya hulya kembali ke kamar.
Tubuhnya lelah, tapi matanya sulit untuk terpejam. Awal pernikahannya saja sudah seperti ini, bagaimana kelanjutannya nanti? Kejutan apalagi yang bakal dia temukan?
“Rabby, kuatkan hati hamba dalam menghadapi segala ujian dari-Mu” hulyapun berusaha mengatupkan kedua kelopak matanya
___
“Assalamualikum om, tante” vian memasuki kamar delima no 5.
“wa’alaikumussalam warahmatullah, akhirnya kamu datang juga nak vian” dewi, mama bella menuntun vian masuk lebih dalam lagi ke kamar rawat anaknya.
“lihatlah vian, bagaimana dia menderita setelah kau tinggalkan. Betapa terpuruknya dia menanggung hidup tanpamu, hingga dia berpikir untuk meninggalkan dunia fana ini” ucap bachtiar, papa bella
Vian menatap tubuh mungil bella yang terbaring lemas diatas brankar, ngilu hatinya melihat perempuan yang masih dicintainya seperti itu.
“bella sayang, bangun nak. Coba lihat siapa yang datang?” dewi mencoba membangunkan bella dari alam mimpinya
Mata sayu bella menangkap kehadiran orang terkasihnya berdiri dihadapannya “vian, benarkah itu kamu? Peluk aku vian, jika itu memang dirimu” pinta bella merengek
Vian menghapus jejak air matanya sendiri, mencoba menahan diri untuk tidak memeluk bella “maaf bella, aku sudah punya istri. Aku sudah tidak bisa lagi memberikan perhatian lebih padamu, aku harus menjaga perasaannya. Sekali lagi maafkan aku” vian menunduk
“kalau begitu, jadikan aku sebagai ISTRIMU juga vian” sengaja bella menekankan kata ‘Istrimu'
“aku tidak bisa bella” ucap vian menunduk
“kenapa tidak bisa vian? Kamu hanya cukup mengucapkan ijab kabul, maka setelahnya kita sudah resmi jadi suami istri bukan?”
“tapi menikah bukan hanya tentang melafalkan ijab kabul bella, aku baru saja melakukan ijab kabul tadi pagi, aku tidak mungkin melakukannya lagi. Aku tidak ingin memoligami kamu & dia, aku bukan rasulullah yang mampu bersifat adil pada istri-istrinya”
“kami yakin kamu bisa vian, kami mohon dengan sangat nikahilah bella. Andaikan kamu menyuruh kami untuk mencium kakimu maka akan kami lakukan asal kamu mengabulkannya. Kami juga tau kalian masih saling mencintai bukan? Biarkan kami yang akan mengurus semua perlengkapannya” ucap dewi meyakinkan
‘aku memang masih mencintainya, tapi aku tidak ingin mengecewakan istri sholihahku di rumah’ batin vian bermonolog
“atau kalau tidak aku lebih baik mati saja” bella sudah meraih pisau buah di nakas sebelah brankarnya & diarahkannya pada perut datarnya. Sontak membuat semua orang kalang kabut, dengan susah payah vian merebut benda tajam itu hingga tidak sadar tangannya sudah berlumuran darah. Bella telah ditenangkan oleh papanya, sedangkan dewi berusaha bersujud di kaki vian agar vian mau menikahi bella segera.
Rasa iba & kasian pada bella dan keluarganya membuat vian mengiyakan.
“tapi ijinkan saya untuk meminta restu pada istri saya”
“aku tidak mau kamu pergi sebelum kita resmi menjadi suami istri vian, & aku yakin istrimu tidak akan mengijinkan kamu menikah denganku. Jadi percuma & aku juga tidak akan membiarkanmu keluar dari ruangan ini” handphone vian pun dirampas oleh bella.
___
“sudah 2 hari kamu tidak pulang mas, semoga keadaan disana baik-baik saja & semoga kamu tidak mengecewakanku” sepeninggal vian hulya tak bisa merasakan kehidupan yang tenang, hulya terbayang-bayang masa depan rumah tangganya akan suram.
“naudzubillahimin dzolik, jauhkan segala pikiran burukku Ya Allah. Wa laa yauduhu hifduhuma wa hual ‘aliyul adzhim (diulangnya 3x)”