Bab 22. Teman Lama Malam harinya, ketika Lita sudah tertidur, Rendy berpindah tempat ke sofa ruang tengah. Dia duduk di sana sambil mengangkat kaki lurus lalu bersandar pada pembatas sofa. Ketika badannya sedikit merosot dan kepala sudah bersandar, Rendy kembali membuka ponselnya. Dia penasaran dengan acara pesta ulang tahun itu. “Ck! Kenapa nggak diangkat sih!” decak Rendy. Dia mencoba beberapa kali, tapi panggilannya tidak satu pun yang terjawab. Panggilan yang ke lima masih juga tidak ada jawaban, Rendy benar-benar kesal. Dia sudah mengangkat tangan hendak melempar ponsel itu, namun urung ia lakukan dan berakhir dengan erangan dengan tangan mengepal. “Siapa yang harus aku hubungi kalau begini?” Membayangkan apa yang sang istri lakukan di sana, membuat kepala Rendy terasa pening. Me

