Dering ponsel yang berulang kali membuat Aaron menghentikan aktivitasnya. Pria itu sedang berolahraga di gym pribadi di mansionnya. Ia kemudian meraih ponselnya dan memeriksa notifikasi di ponselnya. “Diaz, lo adalah kartu As buat gue.” Aaron tersenyum licik, ia kemudian pergi ke kamar mewahnya. Sesampai di kamar bergaya klasik yang dihiasi beberapa patung dewi wanita, Aaron mendorong sebuah lemari dan ruangan rahasia terpampang dari balik lemari itu. Aaron kemudian masuk lagi ke dalam salah satu ruangan yang gelap, dan hanya dipenuhi lampu berwarna merah. Ia kemudian mencetak dengan gesit seolah itu adalah keahliannya. Kemudian hasil foto yang dikirim oleh seseorang itu dan menggantungnya berjejer di dalam ruangan gelap itu. Puas dengan hasil karyanya, Aaron menyalakan lampu di dalam

