Bab 4 - Lovely Zihan

1419 Kata
Zihan memelototi Zidane yang tengah asyik mencurahkan segelas wine di balik mini bar miliknya. Zidane tak peduli pada pelototan Zihan. Toh memang tugasnya untuk menjaga Zihan dari makhluk apa pun kan? “Zidane!” “Apa sih cantik?” Zidane menoleh dan mendekati Zihan yang duduk di balik mini bar, dan ia di hadapannya, menatap Zihan dengan intens. Zihan tertunduk tanpa sadar, tatapan Zidane sungguh mengintimidasi. “Cantik? Sekilas, lo kayak cowok normal tahu gak.” Zihan menyambar segelas wine yang baru satu teguk Zidane minum. Sialan. Zidane sering lupa bahwa di mata Zihan ia adalah seorang gay.   “Cukup kali ini aja ya, gue gak mau lo ikut campur urusan pribadi bahkan percintaan gue. Tugas lo itu cuma jaga gue dari fans, penjahat, Aaron, dan lainnya!” “Yang tadi gue lakuin juga termasuk jaga lo, Miss Zihan yang cantik.” “Diaz bukan orang jahat! Lo gak perlu jaga gue dari dia. Lagian dia pacar gue!” “Dia tunangan orang. Putusin aja, cari yang single oke?” Zihan meletakkan gelasnya, kemudian berdiri dan memajukan badannya agar wajahnya dekat dengan wajah Zidane. Zihan pun berbisik ke Zidane, “Lo itu bodyguard gue. Inget!” Zidane bergidik ngeri, Zihan membisikan itu tepat ke samping telinganya. Usai berbisik seperti itu, Zihan hendak pergi namun dengan cepat Zidane menahan pinggang Zihan, keduanya hanya terhalang minibar, dengan tinggi keduanya yang lumayan, mini bar itu tak dapat menghalangi kedekatan keduanya. Zidane menatap Zihan, begitu pula sebaliknya. Zihan menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, membuat Zidane semakin mendekatkan wajahnya pada Zihan. Fokus Zidane adalah bibirnya Zihan. Plak! Zihan menepuk dahi Zidane, membuat Zidane melepas pelukannya pada Zihan. Zidane membuang muka, salah tingkah dan tak lupa mengumpat pada dirinya sendiri karena lagi-lagi hampir lepas kontrol. “Gue masih normal!” sungut Zihan kemudian pergi, sementara Zidane hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Kalimat Zihan terdengar lucu baginya. *** Menjadi bodyguard Zihan ternyata cukup melelahkan. Setelah istirahat beberapa hari, Zihan kembali beraktivitas. Seperti saat ini, Zidane hanya bisa menunggu sambil terus mengawasi gerak-gerik Zihan yang tengah asyik berpose untuk tas merek ternama keluaran terbaru. Yang bikin Zidane bingung, kenapa pakaian yang digunakan oleh Zihan begitu terbuka? Padahal fokus utama pemotretan itu adalah tas bermerek itu. Zihan beberapa kali menaikkan baju sabrinanya yang terus turun, baju itu terlihat longgar. Zidane pun memanggil fashion stylistnya agar dapat memperbaiki baju yang dikenakan oleh Zihan. “Lo fashion stylistnya?” tanya Zidane pada seorang pria yang sedang memilih beberapa kostum yang harus Zihan kenakan. “Yup. Ada apa?” “Lo bisa lihat, baju Zihan tidak pas dengannya. Bisa lo perbaiki?” Fashion stylist itu terkekeh, kemudian sibuk memilih baju lagi. Zidane kemudian menarik kerah baju fashion stylist itu. “Lo perbaiki, atau gue seret Zihan pergi dari sini!” “Apa-apaan nih hah! Lo Cuma bodyguard! Itu memang sengaja seperti itu karena nilai jual seorang model ya tubuhnya! Kalau tidak mau terbuka, silahkan berhenti jadi model!” Pria itu melepas cengkeraman Zidane. Melihat kegaduhan itu, Zihan segera menghampiri Zidane. Wajah Zidane memerah karena menahan emosi. Ia kemudian melepas kemeja yang dikenakannya dan menutup bagian atas tubuh Zihan. Zihan terdiam. Ia merasa sangat terlindungi dengan perlakuan Zidane barusan. Ia memang tidak salah memilih bodyguard. Tapi, dengan tempramen Zidane yang seperti ini apakah semuanya akan berjalan lancar? Ah, Zihan menarik nafas panjang. Berharap asistennya dapat kembali hari ini juga. Ya, asistennya sedang cuti dua minggu dan sudah banyak kekacauan yang terjadi selama beberapa hari ini. “Zidane, kontrol emosi okay?” Zihan berdiri di hadapan Zidane, ia melepas kemeja dan mengembalikannya kepada Zidane. “Yang difoto tasnya, kenapa d**a lo yang dipamerin?” Zihan terdiam. Sesungguhnya ia juga tak nyaman dengan kostum ini. Tapi, hanya ini yang ia punya. Hanya ini yang ia punya untuk menghasilkan uang. Ia tak seperti Darrel kakaknya yang punya otak cerdas sehingga bisa menjalankan bisnis keluarga. “It’s okay Zidane. Lama-lama lo juga akan terbiasa. Ini baru segini Zidane. Minggu depan gue ada pemotretan bikini terbaru. Nanti gue akan pakai bikini. Lebih parah dari ini. It’s okay ya.” Tanpa sadar, Zihan mengelus kepala Zidane. Beberapa pasang mata di sekitar lokasi pemotretan takjub dengan apa yang mereka lihat. Zihan Laurens dan bodyguard tampannya tampak seperti sepasang kekasih. Tak lupa pula, mereka mengabadikan momen itu dengan ponsel mereka. Zidane menarik nafas panjang. Ia kemudian keluar dari lokasi pemotretan, lebih baik ia menunggu di mobil sejenak dari pada emosinya meledak dan lokasi pemotretan itu hancur seketika.  Baru saja Zidane menghempaskan pantatnya di kursi kemudi, ia melihat Diaz masuk ke dalam gedung pemotretan bersama dengan seorang gadis cantik yang terlihat sangat elegant.  Zidane segera masuk kembali dan benar saja, Zihan terpaku menatap keduanya. Gadis cantik itu merangkul erat lengan Diaz. Zidane melihat gadis cantik itu tampak mengatur fashion stylist dan fotografernya, dari situ Zidane tahu bahwa gadis itu adalah pemilik majalah yang memilih Zihan menjadi model untuk produk terbaru ini. Apa gadis itu sengaja datang ke sini agar Zihan melihat kedekatan keduanya? Apa gadis itu tahu bahwa Diaz memiliki hubungan dengan Zihan? Hmm menarik. Zidane berdiri tersandar di belakang sambil menyaksikan drama yang ada di hadapannya. “Sayang, gimana baju ini? Bagus?” tanya gadis itu. Diaz mengangguk. Diaz terus menatap Zihan yang tengah berpose. Pakaian yang dikenakan oleh Zihan sungguh menggoda Diaz. Andai saja Rachel tidak ada di hadapannya saat ini. Ia pasti sudah berlari menghampiri Zihan dan memeluk gadis itu. “Kalau yang ini?” tanya Rachel lagi. Ia tak sadar mata Diaz sedang mengaggumi Zihan, dan Zihan yang memberikan senyum manisnya pada Diaz. Zidane hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Untuk Zihan ya? Kalau untuk dia, pakaian apa pun cocok untuknya.” Puji Diaz, Rachel kemudian memalingkan wajah Diaz agar menatapnya. Tanpa ragu ia mencium bibir Diaz, Diaz terkejut dan mendorong Rachel. Zihan menatap itu tanpa kedip. Rachel kemudian menatap Zihan sinis dan memeluk Diaz lagi. Seolah memberi tanda bahwa Diaz adalah miliknya. Zihan kemudian pergi meninggalkan frame foto yang telah susah payah disetting oleh kru sedemikian rupa agar sesuai dengan tema pemotretan kali ini. Ia kemudian mendekati Zidane dan mengalungkan tangannya kepada leher Zidane. “Gue capek. Ayo pulang.” Zidane yang sadar tindakan Zihan diawasi oleh Diaz membalas pelukan Zihan dan merangkul gadis itu ke ruang ganti. Zidane berdiri tersandar di depan pintu ruang ganti. Kedua tangannya di saku celananya. Diaz kemudian masuk dan menarik kerah baju Zidane. “Gue ingetin lo, Zihan pacar gue!” ujar Diaz pelan tapi mengintimidasi, Zidane tersenyum kemudian menepis cengkeraman Diaz. “Gue ingetin lo balik deh kalau lo lupa. Lo punya tunangan. Lepasin Zihan, urus tunangan lo aja. Gue bisa jaga Zihan tanpa campur tangan lo.” Zidane berdiri tegak, memberi tatapan tajam pada Diaz. “Diaz? Ngapain ke sini?” Zihan ke luar sambil membenarkan rambutnya, kali ini model cantik itu sudah mengenakan crop top tee berwarna merah yang pas di tubuhnya dan celana jeans, lengkap dengan jaket bermerek miliknya. “I’m so sorry babe, dia maksa aku ke sini. Aku gak tahu kalau kamu sedang pemotretan di sini.” Diaz membelai wajah Zihan, namun Zihan mengelak. Bayangan Diaz ciuman dengan Rachel membuat Zihan merasa jijik disentuh oleh Diaz. “Ayoo Zidane, kita pulang.” Zihan menarik tangan Zidane, cowok itu menurut. Ia sempat menoleh dan memberikan tatapan mengejek pada Diaz. Diaz meninju dinding dengan keras. Saat Zihan dan Zidane hendak pergi, keduanya berpas-pasan dengan Rachel. Rachel kemudian dengan sengaja menghadang keduanya sambil memberi tatapan sinis pada Zihan. “Bodyguard lo? Oke juga.” Ujar Rachel sambil menatap Zidane dari atas hingga bawah. “Lo dibayar berapa sama Zihan? Kerja sama gue aja, cowok kayak lo gak pantes jadi bodyguard. Gue bisa jadiin lo model bahkan artis…” Rachel yang berbicara tepat di hadapan Zidane sambil memainkan dasi Zidane di dorong oleh Zihan. “Don’t touch my bodyguard! Urus aja tunangan lo itu!” Zihan menarik Zidane yang ternganga dengan kelakuan Zihan. Apa tadi katanya? Don’t touch my bodyguard? Dan kenapa Zidane senang Zihan mengatakan hal seperti itu? Rachel tertawa melihat reaksi Zihan, entah kenapa ia sangat tidak suka pada Zihan. Ia sengaja merekrut Zihan sebagai modelnya supaya bisa merendahkannya. Ia hanya seorang model biasa. Tidak seperti Darrel kakaknya. Percuma sekali ia adalah keturunan Laurens. Begitu pikir Rachel. “Sayang? Ngapain di sini?” Rachel menghentikan langkahnya saat melihat Diaz di dalam ruang ganti. “Enggak. Aku pikir kamu di sini.” Ujar Diaz sambil menghampiri Rachel yang berdiri di depan pintu. *** Di perjalanan pulang, Zihan lebih banyak diam. Gadis cantik itu menatap luar jendela sambil melamun. “Makanya, gue bilang juga apa. Putusin Diaz.” Ujar Zidane, Zihan menarik nafas panjang. Gadis itu malas meladeni omongan Zidane. “Han?” panggil Zidane, kali ini Zihan menoleh. “Kita mau ke mana?” “Pulang.” Tak lama, ponsel Zihan berbunyi. Panggilan dari Darrel, kakaknya. “Ya? Ke sana? Ngapain? Malas ah!” Zihan mematikan panggilannya sepihak. “Ada apa?” tanya Zidane. “Darrel. Kita ke rumahnya.” Ujar Zihan malas. Darrel jarang menghubunginya, kalau tiba-tiba pria itu menghubunginya, pasti ada sesuatu yang penting. Zihan berharap, semoga kali ini ia tidak melihat pemandangan menjijikan di rumah Darrel. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN