Pagi itu, suasana di ruang rapat utama Aidan Corp. terasa mencekam. Proyek Hotel Bintang Lima di Bali proyek unggulan yang dibanggakan Aidan terancam gagal total karena klien, Tuan William, menolak mentah-mentah draf desain lobi yang diajukan tim arsitek senior. Aidan memimpin rapat dengan wajah sekeras batu, mencerminkan ketakutannya kehilangan proyek besar ini. Ia menatap deretan wajah tegang tim desainnya, lalu pandangannya jatuh pada Anita yang duduk di sudut ruangan. "Kita sudah menghabiskan waktu dua bulan, dan hasilnya nol," desis Aidan, suaranya pelan namun mematikan. "Tuan William membutuhkan minimalis dengan sentuhan tradisi Bali yang kuat. Konsep yang kalian berikan itu terlalu mainstream." Ia lalu menoleh ke Anita. "Anita," panggilnya, "desain amatir yang kau kirimkan ke

