Setelah konfrontasi sengit dengan Aidan di ruang rapat, Anisa kembali ke mejanya. Ia mencoba berkonsentrasi pada blueprints dan revisi yang harus ia lakukan, tetapi pikirannya terus berputar pada kata-kata Aidan dan dinginnya tanggapan Aidan terhadap amplop cokelat. Anisa memang benar-benar belum fit. Meskipun ia bersikeras bersikap profesional dan menolak sarapan, tubuhnya memberi perlawanan. Ia merasakan kepalanya pusing yang berdenyut, akibat stres emosional dan penyakit tipus yang belum pulih total. Anisa menyentuh pelipisnya melalui kerudung. Tapi Anisa cuma bisa diam dan menikmati sensasi sakit kepala itu. Ia tidak akan mengambil obat di kantor, tidak akan minum air hangat, dan yang terpenting, ia tidak akan menunjukkan kelemahannya kepada siapa pun—terutama Aidan. Ia tahu, sat

