Malam telah larut di Seoul. Anisa berada sendirian di kamar hotelnya yang "biasa saja," jauh dari lantai atas tempat Aidan beristirahat dalam kemewahan. Setelah seharian menahan dingin, lapar, dan tekanan emosional, kini tubuh Anisa mulai menunjukkan reaksi. Badannya terasa tidak enak, suhu tubuhnya sedikit naik, dan ia mulai menggigil. Efek dari suhu AC pesawat yang ekstrem, ditambah dengan stres yang menumpuk, mulai menyerang daya tahan tubuhnya.
Dalam keterbatasan, Anisa hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Ia membuka tas tangan yang dibawanya dari Indonesia, mencari obat pereda demam dan flu yang memang selalu ia siapkan. Keterbatasan uang menjadi perhatian utama. Anisa tahu ia tidak bisa dengan mudah membeli obat-obatan di Seoul, apalagi meminta bantuan Aidan yang pasti akan menanggapi permintaannya dengan cibiran atau keengganan. Ia meminum obat seadanya, berharap pil itu cukup kuat untuk meredakan penyakitnya.
Selain sakit fisik, Anisa juga dilanda kecemasan. Ia sedikit takut untuk keluar dari kamar. Lingkungan Seoul yang asing, perbedaan bahasa, dan statusnya yang tidak jelas di mata Aidan membuatnya merasa rentan. Ia khawatir jika Aidan melihatnya berkeliaran, ia akan kembali mendapat teguran atau perlakuan merendahkan.
Anisa hanya bisa berbaring, meringkuk di bawah selimut tipis, dan memejamkan mata. Kamar itu terasa sunyi dan asing, kontras sekali dengan kamar hangat di rumahnya atau kelas ceria di TK. Dalam kesendirian yang dingin itu, Anisa kembali mencari kekuatan dari dalam, memohon kesembuhan dan ketabahan agar besok ia bisa kembali menghadapi Aidan tanpa menunjukkan kelemahannya.
****
Pagi itu, sebelum matahari terbit di Seoul, Aidan dan Kenny sudah bersiap meninggalkan hotel untuk urusan pekerjaan yang mendesak. Saat melewati lobby yang masih sepi, Kenny sempat menoleh ke belakang, merasakan kecemasan yang menggantung.
Sebelumnya, Kenny memang sudah mencoba menyarankan kepada Aidan agar setidaknya memberi tahu Anisa atau meninggalkan pesan kepada staf hotel untuk menyiapkan makanan atau sekadar memastikan kondisi Anisa. Kenny merasa iba karena tahu Anisa tidak mendapat jatah makanan di pesawat dan kondisinya terlihat memburuk. Namun, Aidan dengan cepat menolak usulan tersebut. Ia berkata dengan nada meremehkan bahwa Anisa bukan siapa-siapa di sini, dan tidak perlu diratukan atau diberi perlakuan istimewa seperti layaknya istri sejati.
Namun, ketika waktu keberangkatan tiba, Anisa sama sekali tidak memberikan kabar. Tidak ada pesan, dan kamar Anisa tidak merespons panggilan telepon. Ketidakhadiran Anisa yang benar-benar tanpa jejak ini memicu sedikit kepanikan pada Aidan. Bukan karena khawatir akan keselamatan Anisa, melainkan karena ia tidak suka rencananya terganggu atau ada urusan yang tidak terkontrol. Ia merasa terganggu, karena Anisa seharusnya bersikap profesional dan melaporkan keberadaannya, meskipun ia menyebutnya 'staf'.
Aidan mencoba menghubungi lagi, namun teleponnya hanya berdering hampa. Ia mendengus kesal, menyuruh Kenny untuk meninggalkan pesan darurat kepada resepsionis jika Anisa muncul. Ia tidak bisa membuang waktu hanya untuk mengejar istrinya.
Di sisi lain, di kamar yang sunyi, Anisa sebenarnya sudah jauh lebih baik. Berkat obat sederhana yang ia bawa dari Indonesia, demamnya mereda, dan badannya kembali bertenaga. Ia memang hanya berdiam diri di kamar. Anisa tidak merasa perlu untuk memberitahu Aidan tentang keadaannya. Baginya, ketidakhadiran komunikasi adalah kesepakatan diam-diam yang justru memberinya kedamaian. Ia tidak ingin mencari masalah atau memicu peremehan lebih lanjut dari Aidan, sehingga ia memilih untuk menanti dengan sabar, melakukan ibadah sunyi di kamarnya yang sederhana, jauh dari urusan bisnis suaminya.
***
Malam kembali menyelimuti Seoul. Aidan dan Kenny kembali ke hotel setelah seharian penuh dengan meeting yang menegangkan. Begitu mereka melangkah ke lobby, fokus Aidan yang biasanya hanya tertuju pada pekerjaan, kini beralih pada satu hal yang mengganggunya sejak pagi: ketidakhadiran Anisa.
Saat menerima kunci kamar dari resepsionis, Aidan menoleh pada Kenny.
"Kenny," panggil Aidan dingin, menggunakan bahasa Inggris yang biasa ia gunakan untuk urusan profesional. "Go ahead and ask the concierge if my employee has left her room at all today. She didn't respond to my calls this morning. Has she been holed up in there for half a day?"
Kenny terdiam, terkejut mendengar pertanyaan Aidan. Ekspresi wajahnya menunjukkan kebingungan dan rasa tidak nyaman yang besar. Ia benar-benar kaget karena Aidan masih secara terang-terangan menyebut Anisa istrinya yang sah sebagai "karyawan" (employee), bahkan setelah mereka menyelesaikan semua urusan bisnis. Bagi Kenny, ini adalah penghinaan publik yang ekstrem terhadap Anisa. Ia juga khawatir karena Aidan menunjukkan sedikit kepedulian yang ia balut dengan nada kesal, sebuah pertanda yang tidak biasa.
Kenny berusaha menutupi keterkejutannya dan segera menuruti perintah Aidan. Ia mendekati concierge untuk menanyakan pergerakan Anisa. Tak lama kemudian, Kenny kembali melapor kepada Aidan bahwa benar, Nyonya Besar (sebutan yang Kenny gunakan dalam hati) tidak meninggalkan kamarnya sama sekali sejak Aidan pergi di dini hari.
Setelah Kenny pergi, Aidan bergerak menuju lift, tujuannya jelas: kamar Anisa. Meskipun ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya ini murni didorong oleh tanggung jawab dan kekhawatiran akan dicela keluarga, nyatanya ada dorongan yang lebih mendasar dan mengganggu yang tidak ia pahami.
Aidan tiba di depan kamar Anisa di lantai bawah, kamar "standar" yang ia pesan. Ia mengetuk pintu dengan ketukan formal dan tegas, bukan ketukan seorang suami, melainkan seorang atasan yang menuntut kehadiran bawahannya. Tidak ada jawaban.
Aidan mengetuk lagi, kali ini lebih keras, dan segera menggunakan kunci kartu duplikat yang ia miliki sebuah tindakan yang menunjukkan betapa ia selalu memastikan dirinya memegang kendali penuh.
Saat pintu terbuka, Aidan menemukan kamar itu remang-remang. Anisa terlihat meringkuk di atas tempat tidur, wajahnya masih sedikit pucat namun tampak jauh lebih tenang daripada kemarin. Ia duduk tegak saat menyadari Aidan masuk tanpa permisi.
Aidan melangkah masuk, memindai kamar yang sederhana itu dengan tatapan menilai. Kemudian, matanya tertuju pada Anisa.
"Kenapa tidak menjawab panggilanku? Kau tahu aku tidak suka rencanaku terganggu," tuntut Aidan dingin, langsung ke pokok masalah.
Anisa menatapnya tanpa gentar, matanya menunjukkan kelelahan yang nyata namun juga ketegasan. "Ada apa?" balasnya singkat.
Aidan tidak menjawab pertanyaannya, melainkan kembali meremehkan. "Kau tidak memesan makanan sama sekali. Apa kau berniat membuat masalah di sini?"
"Saya sudah minum obat dan kondisinya jauh lebih baik. Saya tidak ingin merepotkan," jawab Anisa, suaranya pelan tapi jelas. Ia tidak menyebutkan kelaparan atau kedinginan yang ia alami.
Aidan terdiam sejenak, tatapannya menyapu pil obat yang tergeletak di nakas dan kemasan obat yang bertuliskan Bahasa Indonesia. Ada kesadaran singkat mengenai betapa terisolasinya Anisa, tetapi ia segera menepisnya. Ia tidak menunjukkan simpati sedikit pun, apalagi meminta maaf.
"Jangan ulangi lagi. Lain kali, jika ada masalah, beritahu Kenny. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi hal remeh seperti ini," kata Aidan sebagai penutup, kembali menegaskan jarak dan status Anisa sebagai beban.
Tanpa menunggu balasan dari Anisa, Aidan langsung berbalik dan meninggalkan kamar, menutup pintu dengan tegas. Anisa kembali meringkuk di bawah selimut, menyadari bahwa satu-satunya alasan Aidan datang adalah untuk memastikan ia tidak akan menimbulkan masalah. Kehadiran Aidan hanya meninggalkan hawa dingin yang lebih pekat di kamar itu.