Pagi itu, Anisa terbangun dengan perasaan jauh lebih baik. Demamnya sudah turun drastis, dan ia tidak lagi merasakan sakit kepala yang hebat. Kehadiran obat dan tidur yang relatif nyenyak, meskipun di samping suaminya, berhasil memulihkan tenaganya. Ia membuka mata dan mendapati Aidan sudah tidak ada di ranjang. Anisa buru-buru bangkit, merasa bersalah. Ia melihat Aidan sedang duduk di sofa ruang tamu suite, mengenakan pakaian kasual dan sedang membaca dokumen proyek di laptop. Kecanggungan langsung menyergap. Anisa teringat semua yang terjadi semalam: tangis sesenggukan, pelukan Aidan di tengah kepanikannya, dan pengakuan jujur bahwa ia tidak membutuhkan perhatian Aidan. Anisa berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika ia keluar, Aidan sudah berdiri di dekat pintu. "P

