Pagi itu, aroma hand sanitizer bercampur bau pensil warna dan bubuk glitter mengisi setiap sudut ruang kelas TK Bintang Harapan. Di sinilah Anisa, dengan jilbab panjangnya yang teduh dan gamis yang sopan, menemukan surga kecilnya. Pada usia 22 tahun, Anisa adalah figur guru yang paling disayangi; suaranya yang lembut dan sabarnya yang tak bertepi menjadikannya magnet bagi anak-anak didiknya.
Anisa tersenyum saat mengarahkan jari-jari mungil untuk menempelkan lembar origami pada kertas manila. "Anak-anak, Bu Guru bilang apa? Tempelkan semua origami di kertas yang sudah disediakan, ya. Ingat, di kertas itu ada garis tebal yang tidak boleh kalian lewatkan saat menempel," ucap Anisa dengan nada yang sangat gembira.
"Oke, Bu Anisa!" jawab anak-anak semua dengan kompak.
Dunia kecil ini terasa aman, jauh dari tatapan dingin dan kata-kata meremehkan yang sering ia terima di rumah. Di sini, Anisa adalah dirinya yang utuh, tanpa bayang-bayang mendiang kakaknya. Anisa akan menjadi dirinya sendiri saat dia ada di sekolah, menjadi pengajar untuk anak-anak didiknya. Meskipun ini pekerjaan yang selalu diremehkan suaminya, Anisa merasakan kebebasan itu nyata saat ada di sekolah ini.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 09.30 pagi, artinya anak-anak bisa bermain di luar. Anisa duduk di atas karpet penuh warna, mengawasi anak-anak di taman bermain. Ia membuka ponselnya, bukan untuk media sosial, melainkan untuk membaca satu dua ayat Al-Qur'an sebuah 'Sajadah Sunyi' kecilnya di tengah keriangan.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Pesan masuk di layar, memotong keheningan: sebuah pesan singkat dari Aidan, suaminya yang tampan, mapan, dan berwajah beku.
Mas Aidan: "Pulang sekarang, kita harus ke luar negeri. Kamu ikut saya, karena jika kamu tidak ikut akan menjadi masalah untuk keluarga saya. Dan menanyakan kamu saat saya ada di luar negeri, tapi tidak mengajak kamu."
"Deg!"
Bahkan kata-kata yang ditulis di pesan seolah-olah sudah bisa menyiratkan betapa marahnya suaminya. Anisa tidak membalas, membiarkan kursor di layar ponselnya berkedap-kedip. Kontras antara dunia ceria di balik jendela TK ini dengan rumah tangganya yang penuh kebekuan kembali menghantamnya. Anisa harus meninggalkan oase kedamaiannya dan kembali menghadapi peran sebagai "pengantin pengganti" yang diabaikan.
Anisa larut ke dalam dunianya sampai dia tersadar kembali jika ponselnya saat ini bergetar. Layar menunjukkan nama suaminya serta foto profil di mana Aidan memeluk mendiang kakaknya.
Bukankah Anisa tahu di mana letak posisi dia seharusnya? Bahkan orang yang sudah meninggal saja masih dijadikan foto profil suaminya. Anisa tahu ia tidak berhak berontak karena ia telah menyetujui pernikahan ini semua berawal dari desakan keluarga Aidan, terutama Papa Aidan yang langsung terkena serangan jantung. Dokter berkata agar memberikan kebahagiaan untuknya, dan Mama Aidan akhirnya menginginkan Anisa mengganti posisi kakaknya.
"Bu Anisa itu ponselnya bunyi, loh," ucap salah satu anak didiknya yang membuat Anisa langsung tersadar kembali.
"Iya Bu Anisa dengar kok. Kalian mainnya hati-hati ya, Bu Anisa mau angkat telepon dulu, oke sayang?" ucap Anisa dengan nada riang.
"Oke, Bu Anisa. Kita akan bermain dengan hati-hati," ucap anak-anak yang menjadi anak didiknya.
"Halo, Assalamualaikum," ucap Anisa dengan nada yang lembut.
"Bagus ya, dari tadi saya telepon kamu tidak dijawab langsung, serta saya chat kamu tidak dibalas. Anisa, kamu pikir kamu ini siapa? Kamu ini hanya bekerja di sekolah yang notabenenya adalah cuma guru honorer, jadi kamu tidak usah sok seperti sibuk dan tidak mengangkat panggilan saya!" ucap Aidan dengan nada dingin.
"Deg!"
Sakit itu yang dirasakan oleh Anisa. Bagaimanapun, ucapan Aidan ini tidak seharusnya diucapkan kepada Anisa yang notabenenya adalah istrinya. Jika Aidan memang tidak menyukai pernikahan ini, seharusnya dia menolak permintaan dari papanya, bukan malah membiarkan pernikahan ini terjadi dan seolah-olah pernikahan ini diinginkan oleh Anisa.
"Maaf, Mas, aku..." ucap Anisa yang belum selesai berbicara tapi sudah dipotong oleh Aidan.
"Pulang sekarang ke rumah! Atau saya jemput kamu paksa ke sekolah itu, dan besok lagi kamu tidak usah mengajar lagi di sana!" ancam Aidan.
"Maaf, Mas, aku masih jam kerja, jadi tidak boleh sembarangan untuk pulang," ucap Anisa yang masih sabar menghadapi ucapan sinis dari suaminya.
"Pulang sekarang atau kamu mau sekolah yang kamu ajar saat ini saya bekukan izin operasionalnya? Kamu jangan kira saya tidak bisa melakukan apa-apa ya," ucap Aidan
Anisa langsung terdiam dan melihat papan nama di sekolah TK ini. Ia tahu, sekolah ini didirikan oleh Aidan dan mendiang kakaknya dulu; secara tidak langsung, Aidan adalah pemilik sekolah.
"Tapi, Mas..." ucap Anisa.
Peringatan terakhir Aidan menusuknya hingga ke ulu hati.
"Anisa, kamu harus ingat pernikahan kita ini hitam di atas putih," peringatan Aidan seketika menambah luka di hati Anisa. "Jangan harap ada cinta di antara kita, cintaku hanya untuk kakakmu seorang!"
"Tut!" Aidan langsung menutup panggilan telepon itu secara sepihak, setelah memberikan kata-kata yang dingin dan seperti peringatan terakhir untuk Anisa.
Perjuangan hariannya baru saja dimulai. Ia harus meninggalkan oase kedamaiannya dan kembali menghadapi kenyataan.