Peristiwa yang ingin kuhindari: Acara perayaan kedewasaan putra mahkota.
Undangan berwarna merah lengkap dengan tulisan berwarna emas. Barang yang seharusnya dibuang, tidak perlu dibaca. Namun, tentu saja, bila Joseph melakukan hal tersebut maka kami sekeluarga akan dicap sebagai warga lancang. Delapan belas tahun. Usia matang bagi seorang bocah menunjukkan dirinya kini tak lagi menjadi bagian dari dunia anak-anak. Oh sudahlah, bagiku Caius tetaplah bocah meskipun usianya lebih tua daripada aku. Padahal dunia balita itu jauh lebih menyenangkan daripada dunia dewasa. Mereka tidak perlu menangisi bermacam hal. Cukup perut. Dulu kupikir jadi orang dewasa itu menguntungkan, ternyata kenyataan berbeda jauh. Rasanya aku terlalu cepat berkembang.
Kami sekeluarga; aku, Joseph, dan Inocia; bersiap menghadiri gala yang diselenggarakan pihak istana. Emily terus berkomentar betapa beruntung diriku. Ia bahkan bersemangat merias. “Aku ingin mereka melihat Nona sebagai peri mawar,” katanya kepadaku, antusias.
Peri mawar. Aku bosan mendengarnya. Percayalah, Emily. kecantikanku tak sebanding dengan kerupawanan Yuna. Pasti aku akan terabaikan dan tidak dilirik. Omong-omong, lebih baik begitu.
Gaun merah darah dipilih karena katanya menonjolkan keindahan rambutku. Jenis pakaian berpita yang akan dengan senang hati kutenggelamkan ke dasar sungai. Payet, sulaman mawar, dan mutiara merah. Semua dirancang dalam kesatuan. Padu. Riasan yang kugunakan pun tidak tebal. Hei, aku baru lima belas tahun. Remaja tidak pantas mengenakan riasan ibu-ibu paripurna. Saat selesai semua pelayan tampak puas dan gembira.
“Emily, tolong aku.”
“Kenapa, Nona?”
“Sepertinya baju ini membuatku susah berjalan.”
“Nona, jangan begitu. Kau terlihat sempurna.”
Kalau begitu coba saja kau kenakan baju ini! “Ayah dan Ibunda pasti sudah menunggu.”
“Ah, Nona. Mari segera temui mereka.”
Awalnya kuharap Inocia setuju denganku bahwa baju ini terlalu rumit.
Rumit merupakan kata sopan yang ingin kugunakan untuk menggambarkan betapa tidak hematnya mereka membelanjakan uang. Namun, begitu melihatku, wanita itu tersenyum dan memuji.
“Ayah....” Aku menatap penuh harap kepada Joseph. Semoga saja dia mau menolong dan membiarkanku memilih. Tapi, sekali lagi, dia bahkan tidak keberatan putrinya mengenakan pakaian mewah. Mewah yang sangat mubazir.
“Ayo, kita tidak boleh terlambat.”
Akhirnya tidak ada yang sependapat denganku.
Kereta kuda yang kami naiki melaju meninggalkan kediaman. Di sepanjang perjalanan bisa kulihat lampu berbentuk bunga yang berpendar—saling bersaing mendapatkan perhatian. Bunga-bunga segar terangkai di setiap jendela dan pintu. Setiap orang bersukacita; minum bir, makan daging panggang, menyalakan kembang api, dan menyanyi. Sepertinya mereka menyambut baik perayaan kedewasaan Caius.
Malam ini mungkin aku akan bertemu Nox. Surat terakhir kudapat tiga tahun lalu, setelahnya ia tak lagi mengirimiku surat. Mungkin dia sadar bahwa ada wanita lain yang ingin ia miliki. Tentu saja aku sedih, namun kesedihan yang kurasakan ini bukanlah karena cemburu melainkan hilangnya pertemanan di antara kami. Aku takut plot tragis itu masih menghantuiku. Bisa saja kemungkinan jahat datang dan memintaku memenuhi tuntutan utama:
“Jadilah antagonis sejati! Dasar kau tidak tahu diri!”
Memikirkannya saja mampu mengurangi separuh kebahagiaanku.
Tunggu sebentar. Bukankah Yuna diundang? Haha, lengkap sudah paket deritaku. Malam ini Caius akan bertemu Yuna. Mereka berdua mulai jatuh cinta, saling terikat, tamat. Selamat tinggal, Krisis. Aku tinggal menyemangati Nox. “Nox, tenang saja. Selama janji suci belum terucap, kau masih bisa menikung Caius.”
Aku, Alina versi 0.4, bersumpah tidak akan mengganggu cinta segitiga di antara mereka. Silakan bercengkerama dan memupuk cinta. Tidak ada yang menggangu kalian. Syalala.
Saat kais memberhentikan kereta, jantungku mulai berdebum kencang. Bahkan suara musik terdengar dari luar istana. Satu per satu kami ke luar. Prajurit berjejer di sisi tangga utama. Mereka semua mengenakan zirah berjambul kuning. Kepala tertutup ketopong. Masing-masing menggenggam tombak. Joseph meraih tangan Inocia, senyum bahagia tak lepas di wajah.
“Alina, tidak keberatan, ‘kan, bila Ayah bersama Ibunda?”
Padahal itu pasti siasat Joseph agar Raja tidak melaksanakan jurus serong dan tikung kepada Inocia nantinya. Ya, teruskan saja. Aku hanya peran pembantu dalam percintaan kalian. Teruskan. Aku tidak keberatan.
Sebenarnya aku keberatan. Gaun ini memberatkan langkahku! Dasar gaun jahat! Nantikan pembalasanku!
“Ayah, tidak perlu cemas. Aku akan mengikuti di belakang kalian sebagai pengiring.”
Inocia tertawa. “Alina, jangan cemberut. Kau pasti akan mendapat ajakan dansa dari seseorang.”
Dansa? Bakat dansaku cuma satu: Menginjak.
“Tentu,” kataku semanis mungkin. “Pasti ada seseorang yang bersedia menerima kakinya kuinjak.”
Setelahnya tidak ada percakapan. Kami bergerak menuju istana.
Lampu bunga terpasang di setiap sisi bangunan. Bunga-bunga segar. Meja yang dipenuhi makanan. Pelayan yang hilir mudik melayani tamu. Oh, ada pemain musik. Semua terlihat sibuk. Apa lagi yang perlu kujelaskan? Inocia dan Joseph? Mereka bertemu kenalan dan mulai memperbincangkan bisnis. Aku terpaksa menyingkir ke bagian makanan. Sibuk mengambil piring dan mengisinya dengan kue, manisan, kue, manisan, kue, manisan. Ini cara terbaik menghindari percakapan. Aku hanya ingin mengisi perut dan pulang secepatnya. Kalian tidak boleh membuang kesempatan makan enak. Seumur hidup mungkin aku tidak akan menikmati suasana makan di tempat romantis. Lihatlah gadis-gadis yang berkerumun, sibuk bergosip, dan akulah yang sepertinya dijadikan bahan pembicaraan. Feudalisme sungguh patut dipertanyakan manfaatnya.
Lalu, suasana mendadak hening. Bentara menyuarakan kehadiran Caius. Sontak, semua gadis memasang pose elegan. Biarkan saja mereka berebut perhatian Caius. Aku, si antagonis yang ingin menjadi karakter sampingan, akan undur diri ke pojok. Semoga tidak ada yang melihatku. Izinkan aku menikmati makanan. Oke, adios.
Caius mengenakan pakaian mewah bernuansa putih. Jubah berbulu tersampir di bahu, lengkap dengan lambang bulan dan sayap yang disulam dengan benang emas. Kenapa aku bisa tahu? Ingat, ‘kan, aku pembaca budiman yang tidak sombong. Raja pun mengenakan pakaian serupa, tetapi berwarna biru dan hitam. Mahkota bertengger di kepala dan ia menggenggam tongkat kebesaran kerajaan. Pidato dan basa-basi. Aku tidak terlalu memperhatikan yang diucapkan Caius dan Raja karena di setiap kesempatan. Tentu saja kupastikan tidak ada yang memperhatikanku. Aku makan. Mataku sibuk mencari kehadiran Yuna. Tapi, sejauh ini aku tidak bisa menemukannya. Bahkan kehadiran Nox pun belum tercium.
Ke mana perginya tokoh utama?
Halo, siapa yang bisa menjawab pertanyaanku?
Nox, mungkinkah kau sudah bertemu Yuna dan mulai pendekatan awal?
Ya sudah. Aku menyerah.
Acara dansa pun dimulai. Gadis-gadis memasang sinyal “tolong ajak aku berdansa”. Caius berdiri, mengabaikan teriakan nelangsa tanpa suara. Dia sibuk melayani tamu kenegaraan. Di saat aku yakin tidak akan menemui Nox, di sanalah ... aku melihat Penyihir Rugal. Pria itu mengenakan busana bernuansa hitam, kontras dengan rambut peraknya yang panjang menjuntai. Di samping si penyihir, kulihat penampakan pria/pemuda lain; berambut pirang, mengenakan baju serupa tapi beda warna, dan sialnya: Aku tidak bisa melihat wajahnya!
Setelah berusaha mengerahkan ilmu terawang. Nihil, target tidak terdeteksi, Akhirnya aku tidak ingin mencari tahu.
Tidak ada makanan yang ingin kugasak lantaran perutku nanti bisa meledak. Entah berapa lama aku terdiam menatap balkon sebelum memutuskan pergi ke sana. Udara terasa sejuk. Langit cerah berbintang. Bulan bahkan tanpa malu menunjukkan senyumnya kepadaku. Bulan purnama. Sempurna. Bundar. Mirip keju dengan kawah-kawahnya. Dulu kukira bulan bisa dimakan, ternyata ilmu pengetahuan alam menjelaskan betapa konyol pikiranku.
“Acara ini minta ampun membosankannya.”
“Kapan kau akan berubah?”
Suara ini. Suara seorang lelaki muda. Aku berbalik, menatap pemuda berambut pirang. Sepasang mata berwarna lavendel balas menatapku. Angin seakan berhenti berembus atau mungkin kulitku terlampau mati rasa. Satu-satunya yang kurasakan ialah, detak jantungku.
“Nox?”
“Nona, aku merindukanmu.”
Dulu aku bisa membalas ucapan Nox dengan gurauan, tetapi kini, memaksa satu kata keluar dari bibir pun teramat sulit.
Hening. Kubiarkan Nox menghampiriku. Dia tampak ... lain. Lebih dewasa. Tangannya yang bersarung tangan putih meraih tanganku, mengecup punggung tangan, dan seketika kurasakan kupu-kupu beterbangan di perutku!
Kenapa kau begitu, Nox?
“Aku selalu memimpikan pertemuan kita, Peri Mawarku.”
Peri mawar? Aku bukan peri mawarmu, Nox.
“Nox, kukira ... kau tidak datang.”
Nox tampaknya tidak ingin beranjak dari hadapanku. Tatapannya terasa panas dan seolah mengupas satu per satu rahasia yang kumiliki. “Aku ingin menemuimu.”
Astaga! Apa aku salah taktik? Semoga dia tidak berencana melenyapkanku. Nox, masih banyak cita-cita yang belum kucapai. Tolong jangan jadi algojoku. “Kau, ‘kan, bisa menemuiku. Di rumah.” Idih, rasanya kata “di rumah” terkesan seperti ajakan m***m. Kenapa Nox harus setampan ini? Aku tidak terima!
“Aku tidak bisa,” jawabnya, lesu. “Guru melarangku pergi ke Pemukiman Bangsawan.”
“Oh.”
“Dia ingin agar aku fokus ke pelatihan. Sebenarnya aku ingin mengirimimu surat, tapi tidak ada kesempatan.”
“Tidak apa-apa, Nox. Aku mengerti.”
“Nona, kau tidak marah?”
Aku menggeleng. “Tidak boleh marah kepada teman.”
Mungkin aku berhalusinasi. Sesaat aku bisa melihat senyum kekecewaan terpeta di bibir Nox.
“Maukah kau berdansa denganku?” tanyanya sembari menyodorkan tangan. “Satu dansa?”
Tidak. Keahlianku masih sangat buruk dan aku tidak ingin dikutuk jadi kutu busuk. “Nox, maaf, aku tidak bisa berdansa.”
“Oh, aku mengerti.” Perlahan ia menarik tangannya kembali. “Kau tidak ingin berdansa denganku.”
“Bukan,” kataku menjelaskan, “aku takut menginjak kakimu. Nox, sungguh aku tidak berniat melukaimu.”
“Aku tidak keberatan dilukai olehmu.”
Nox? Mungkinkah kau penganut paham sadho-masho? “Aku serius.”
“Aku juga serius.”
“Beratku sebanding dengan gajah.”
“Aku bisa menanggungnya.”
“Nanti aku sering menginjakmu.”
“Tidak masalah.”
“Aku gadis paling jelek yang akan menurunkan pamormu di kalangan gadis bangsawan.”
“Aku tidak butuh mereka, yang kuinginkan hanya dirimu. Peri Mawarku.”
Jantungku, oh jantungku yang malang. Sepertinya malam ini jantungku perlu berolahraga. “Nox, kenapa kau jadi tukang rayu?”
“Hanya dirimu,” katanya menegaskan. “Satu-satunya yang pernah dan ingin kurayu.”
Jantung berdetak kencang. Dalam bayangan jantungku menuliskan surat pengunduran diri.
Tidak sanggup.