Melalui jendela di lantai dua, aku mengamati orang-orang menyampaikan salam perpisahan. Kereta kuda perak terpakir di pekarangan. Joseph dan Inocia mengucapkan sesuatu kepada Nox (kubilang sesuatu karena haloooo ingat, kan, aku manusia biasa? Tidak memiliki pendengaran super). Dia terlihat tampan untuk ukuran bocah lima belas tahun. Kemeja abu-abu, celana denim, rompi hitam, dan topi. Tidak ada koper. Kemungkinan semua barang bawaan Nox sudah dimasukkan ke dalam tas gendong yang sekarang ia kenakan.
“Nona, kenapa Anda tidak mengantar Nox?” Emily, pelayan wanita yang dipekerjakan Joseph, berdiri di sampingku, ikut mengintip. “Dia pasti senang melihatmu.”
“Tidak perlu,” jawabku. “Nox pasti mengerti.”
Dia pasti mengerti. Kami, kan, sudah menjadi sahabat. Tidak ada dendam, permusuhan, apalagi rencana pelenyapan karakter-mantan-antagonis.
“Sayang sekali gaun motif lavendel yang Anda kenakan. Pagi ini aku sengaja mengepang rambutmu agar terlihat seperti peri bunga.”
Sebenarnya aku ingin berkata, “Kalian tidak pernah membiarkanku memilih baju dan model rambut.” Namun, sebagai Alina versi revolusi, tidak baik menyinggung perasaan siapa pun bahkan pelayan sekalipun. Tampaknya hal semacam ini remeh di mata sebagian manusia, tapi andai kita berpikir tidak hanya berdasarkan kepentingan pribadi maka pastilah dunia menjadi tempat terindah yang pernah ada. Orang lupa bahwa sebagai manusia sudah sepatutnya kita mengedepankan musyawarah demi terwujudnya mufakat, tetapi kenyataan di lapangan (khususnya pengalaman di kehidupan lalu milikku) individu licik berkeliaran di setiap lapisan masyarakat; mulai dari penjual bumbu dapur di pasar hingga kelas kakap berdasi; satu sama lain sibuk saling menjatuhkan dan korup.
“Kau lihat pria berambut perak yang berdiri di dekat Nox?”
Emily mendengus. “Dia terlalu tampan sebagai penyihir.”
Tolong jangan mengajari anak di bawah umur mengenai penampilan seseorang. Emily, tidak bisakah kita menilai seseorang berdasarkan perilaku dan bukannya penampilan luar? Seperti filosofi “hati-hati saat memilih jambu air”. Lezat di luar ternyata dalamnya busuk.
“Penyihir Rugal menakutkan.”
“Nona, dia sangat tampan.”
“Ayahku lebih tampan.” Tampan versiku ialah, lelaki baik hati yang tidak suka membunuh. Penyihir Rugal tidak termasuk. Pokoknya dia tidak tercatat dalam kategori pria tampan baik hati dan tidak sombong. “Sepertinya mereka akan segera berangkat.”
Nox menengadah, menatap langsung ke jendelaku. Dia melambaikan tangan—perpisahan.
Sampai jumpa.
Kubalas lambaian tangan Nox. Aku akan merindukan kebersamaan yang kami lewati. Dia akan menjadi penyihir tampan ternama, bertemu Yuna, dan menjadi pesaing si putra mahkota. Yuna akan menjadi hal utama dan terpenting bagi Nox. Hanya Yuna, bukan Alina. Aku, Alina versi 0.4, akan berusaha menjauhi skenario picisan; tidak ada jatuh cinta, jangan sampai bertemu putra mahkota, dan merintis bisnis dagang. Selamat tinggal, Nox. Semoga kau menemukan cinta sejatimu dalam diri Yuna. Adios.
“Wah, Nona. Lihat. Lihat. Pria itu melihatku. Haruskah kulambaikan tangan?”
Entah mengapa tatapanku beralih ke Penyihir Rugal. Tampaknya ia melihat ke arahku dan bodohnya aku masih melambaikan tangan. Hei, Tuan! Lambaian tangan ini bukan untukmu! Penyihir Rugal terus menatapku seolah lambaian tangan anak kecil terlalu manis untuk dilewatkan. Hawa dingin menjalari tubuh. Aku tak sanggup melihat si penyihir. Alhasil aku kabur, bersembunyi di belakang Emily.
Jangan lihat aku. Jangan lihat aku.
“Nona, mereka sudah berangkat.”
Kereta telah melaju, meninggalkan kediaman Joseph.
“Penyihir Rugal sangat tampan,” Emily memuji. Kedua tanganya terkatup seolah akan berdoa, rona merah menghias pipi, dan aku bisa melihat bunga imajinasi bermekaran di sekitar tubuhnya. “Rambut perak. Wajah rupawan. Aku rela dikutuk asalkan oleh Penyihir Rugal.”
Kasihan Emily. Sejatinya cinta itu bukan perkara rupa, melainkan kesungguhan komitmen.
***
Dua minggu berlalu semenjak kepergian Nox. Dua minggu kulewati dengan belajar. Joseph menyewa tutor dan dimulailah materi, teori, rumus, dan konsep pelajaran kebangsawanan. Untungnya semua pengajar tipikal manusia ramah atau mungkin itu karena pesona imut milikku. Hampir saja aku mati bosan lantaran terlalu merindukan Nox. Biasanya dia akan menemaniku berkeliling, bermain dengan anjing, berkebun, dan sekarang semua itu tinggal kenangan.
Lalu, di suatu pagi Joseph mengajakku pergi ke Distrik Kuil. Kami—aku, Joseph, dan Emily—berangkat bersama menggunakan kereta pribadi. Kusir menghela kuda hingga melaju melewati jalanan. Ayahku mengenakan setelan lengkap bernuansa biru sementara aku didandani ala peri mawar biru. Aku rindu celana jins dan kaus oblong. Sesampainya di Kuil Bulan (masyarakat Arcadion memuja dewi bulan) Joseph menggandengku dan berkata, “Kau ingin bertemu dewi?”
Joseph, yang bisa bertemu dewi itu hanya orang mati. “Tidak.”
“Kenapa?”
“Aku ingin main.” Maaf ya, aku tidak sanggup bertemu pendeta mana pun. Mereka selalu memberiku permen jahe. Semisal kutolak pasti jatuhnya tidak sopan. Kalian mengerti, ‘kan, tata krama? Lagi pula, tolonglah seseorang menegur pendeta Kuil Bulan agar menyiapkan permen manis, penuh glukosa, dan bukannya permen jahe. “Emily, main.”
“Alina, tidak inginkah kau menemani Ayah?”
Oke, sebagai anak berbakti aku tidak akan menolak permintaan Joseph. Kuraih tangannya dan sebagai bonus: Aku tersenyum.
Joseph meminta Emily menunggu sementara kami masuk, maksudku mendaki anak tangga, ke dalam kuil. Dinding-dinding berlukiskan makhluk-makhluk sihir dengan aneka warna menyapa di sepanjang perjalanan. Lantai pualam tampak mengilap diterpa cahaya surya. Beberapa kali kami terpaksa berhenti ketika bertemu orang yang kami kenal (yang Joseph kenal). Setelah melewati bagian pertama bangunan, kamu langsung menuju pusat kuil yakni, pusat kuil. Maaf, pengetahuanku terbatas. Ingat, kan, aku hanya bocah sepuluh tahun yang kurang bergaul.
Tidak seperti bagian pertama, di bagian ini terdapat sebatang pohon berwarna putih yang tumbuh tepat di pusat kuil. Tidak ada langit-langit, rumput hijau tumbuh subur. Konon pohon itu merupakan penjelmaan Dewi Bulan ketika berkunjung ke dunia. Siapa pun yang ingin hajatnya dikabulkan tinggal mengikat pita biru di salah satu tangkai pohon tersebut.
Seorang pendeta muda segera menghampiri Joseph. Ia bercakap sebentar kemudian ketika menyadari kehadiranku, pendeta itu memberiku permen jahe. Sudah kuduga ini akan terjadi! Tolong musnahkan penemu permen jahe! Aku bosan dengan permen pedas ini.
“Terima kasih,” kata Joseph kepada pendeta itu.
Pendeta mempersilakan kami mendekati pohon. Seorang wanita setelah mengikatkan pita ke cabang terdekat segera pergi dan membiarkan kami melaksanakan doa. Joseph memejamkan mata, hening dan membiarkanku melongo menatap pita biru di setiap cabang.
“Alina, tolong bantu Ayah mengikat pita,” katanya sembari mengangsurkan pita biru sepanjang dua telapak tangan orang dewasa. “Dewi pasti mau mendengar doamu.”
Semoga dewi bersedia menjauhkanku dari putra mahkota dan skandal dan dendam dan cinta picisan dan masalahnya.
“Gendong,” kataku, memelas. “Gendong.”
Joseph terkekeh, ia meraih tubuhku, mengangkatnya ke cabang terdekat.
Beberapa helai pita menampar pipiku ketika angin berembus. Susah payah kuikatkan pita, sesekali ranting menyentuh kulit seiring perjuanganku menunaikan tugas suci.
“Selesai!”
“Terima kasih, Alina.” Joseph mencium pipiku dan senyum bahagia tak lekang dari wajahnya. “Sekarang kita bisa pulang.”
“Joseph, apa itu kau?”
Joseph berbalik, menatap langsung si penyapa. “Yang Mulia?” Saat memberi hormat pun Joseph tidak menurunkanku, ia membungkuk, memberi salam kepada pria yang ada di hadapannya. “Maafkan kelancangan hamba.”
Raja Arcadion mengenakan busana kebangsawanan bernuansa biru. Lambang bulan dan sepasang sayap tersulam di bagian depan pakaian. Pengawal berseragam biru mengapit di sepanjang sisi kanan dan kiri; masing-masing membawa pedang yang terikat di sabuk. Di antara pria dewasa terdapat sesosok bocah lelaki yang berdiri di dekat Raja.
Ternyata Dewi Bulan tidak mendengar doaku.
“Joseph, jangan formal seperti itu,” kata Raja sembari mendekat. “Kita kawan waktu di akademi.”
“Yang Mulia, tidak patut bersikap gegabah seperti itu.”
Suara tawa tak pernah absen ketika Raja berbicara. Pria itu jelas tidak peduli protokol kerajaan dan memilih mengutarakan pendapat: “Kau tidak berubah.”
“Terima kasih atas pujiannya.”
“Bagaimana kabar Inocia?”
Saat menyebut nama Ibu, selama sekian detik aku bisa menangkap kerinduan yang terpancar di kedua mata Raja. Dahulu ia memiliki perasaan terhadap Inocia, tetapi perasaan lelaki itu tidak berbalas lantaran bagi Inocia hatinya hanyalah milik Joseph seorang. Ini membuktikan bahwa ketampanan dan jabatan tidak selalu menjadi faktor utama dalam hubungan percintaan.
“Baik,” Joseph menjawab. “Semoga Anda berkenan mengunjungi gubukku yang tidak seberapa indahnya dibanding kediaman Yang Mulia.”
“Joseph, kalau kau terus merendah seperti itu, maka akan kujatuhkan hukuman kepadamu karena menyakiti perasaanku.”
“Hamba tidak berani.”
“Kau selalu terikat aturan,” Raja mencibir, “seharusnya kau bisa menikmati hidup yang indah ini.”
“Hamba tidak berani melanggar peraturan.”
Raja terdiam sejenak ketika melihatku. “Dia mirip Inocia.”
“Alina, beri salam kepada Yang Mulia.”
Ayah, apa aku harus menari di hadapan Raja agar dia tidak menjatuhiku hukuman pancung?
Alih-alih memberi salam, aku memilih tersenyum dan tidak berakata apa pun. Jiwaku terancam! Calon pembunuh nomor dua ada di dekatku! Tolong singkirkan dia!
“Dia manis sekali,” kata Raja. “Bolehkah aku menggendongnya?”
Ayah, tolong jangan izinkan bapak dari pembunuh anakmu ini menyentuhku!
“Tapi, Yang Mulia....”
“Joseph, aku tidak akan melemparnya ke kandang buaya.”
Tolong jangan lempar aku ke kandang buaya! Masih banyak impian yang belum aku wujudkan!
Joseph membiarkan Raja meraihku. Tangannya tidak seramping Joseph, kekar dan sepertinya berotot. Joseph tidak memelihara kumis dan janggut, sementara Raja memiliki kumis dan janggut yang tumbuh subur layaknya surai singa.
Aku menatap mahkota yang memantulkan cahaya matahari. Selama sekian detik aku yakin Raja mencoba melihat Inocia dalam diriku. Mungkin dia mencoba menyembuhkan luka dalam hatinya, berharap kenangan yang ia miliki takkan menghantui mimpi di setiap malam.
“Kau mirip ibumu,” katanya sembari tersenyum.
Senyum manis, kataku dalam hati. Ayo tersenyum. Kupaksa senyum timbul secara alami di bibir.
Raja tertawa, senang. “Alina, beri salam kepada Caius.” Ia berlutut, menyejajarkanku dengan bocah lelaki berambut hitam. “Ayo beri salam.”
Saat ini aku ingin menangis dan memaki takdir. Halooooo! Dia calon pembunuh urutan pertama yang harus kujauhi!
Bocah itu hanya diam, menatapku dengan sepasang mata sedingin es.
“Caius,” Raja membujuk, “coba kausapa Alina.”
Caius diam. Tidak memperlihatkan reaksi apa pun.
“Yang Mulia, tolong putriku masih kecil.”
“Caius tahun ini berusia tiga belas tahun.”
Aku tidak peduli usia anakmu, wahai raja yang agung! Tolong kembalikan aku ke pelukan ayahku!
“Caius....”
Kukira bocah itu akan menikamku dengan kebungkamannya, tetapi ia menunduk dan memberi hormat. “Salam, Nona.”
“Lihat, dia sopan dan tidak kalah manisnya dari Alina.”
Masa bodoh, aku ingin kembali ke pelukan ayahku!
Tapi, aku tidak bisa menyuarakan keinginanku. Adapun yang kulakukan hanyalah tersenyum, menatap Caius yang tertegun (semoga aku tidak salah lihat), kemudian aku berkata, “Salam, Pangeran Caius.” Nada suara yang kugunakan sangat ramah dan imut. Semoga dia tidak mencatatku sebagai salah satu musuh di masa depan. Caius, mari kita lupakan dendam apa pun di antara kita.
“Andai Alina putriku,” kata Raja sembari memelukku. “Sudah pasti dia tidak kuizinkan ke luar istana.”
“Yang Mulia, dia putriku.”
Semoga di masa depan aku tidak perlu bertemu Raja dan Putranya.