Aku mulai berpikir bahwa jalan yang kutempuh tampaknya salah. Variabel minor yang tidak kupertimbangkan; identitas Yuna, kedekatan Nox dan Alina, karakter sesungguhnya, bahkan ketertarikan Caius. Seharusnya aku tidak gegabah. Mengerti, ‘kan? Langsung bertindak tanpa memperhatikan perihal jalan cerita. Lalu, wow selamat! Aku pantas dinobatkan sebagai putri-payah-versi-majalah-pecundang. Membaca situasi bukan termasuk kemahiranku. Kalau boleh jujur, aku payah (dua kali kusebutkan kata buruk ini. Sungguh keterlaluan). Satu-satunya yang kutakutkan saat menyadari diriku terlahir, dalam kehidupan kedua, sebagai antagonis novel picisan ialah, kematian. Ya. Semua makhluk hidup pada akhirnya akan menemui ajal, tetapi lain cerita mati konyol karena cemburu. Seburuk-buruknya mati, sekarat karena

