9

1286 Kata
Anyir darah mendominasi aroma yang kuhirup. Tangan terdiam di sisi tubuh—tidak berani bergerak, mematung, dan kehilangan keberanian. Satu-satunya yang patut disuyukuri ialah, Emily memilih menunduk dan tidak berani melihat mayat para pengejar kami.  Sebenarnya aku ingin berkata, “Hai, Emily. Di depan ada Penyihir Rugal. Bukankah kau berencana melakukan pendekatan? Oh Emily, sekarang merupakan saatnya. Tunjukkan cintamu. Jangan dipendam.”  Mataku terfokus kepada Penyihir Rugal. Tampan, mematikan. Dia mengenakan jubah hitam yang mungkin sengaja ia pilih guna mencerminkan suasana kematian di sekitarnya. Atau mungkin, dia tidak mengerti fasion. Tahu, ‘kan, hitam terkesan menyeramkan. “Howa lihat aku memakai hitam. Jauhi aku.” Seperti itu. “Kau tidak ingin menangis?” Walaupun nada bicara terkesan santai, tapi sepertinya ia tidak bermaksud ramah terhadapku. “Putri Joseph, sekarang kau sudah besar, ya.” Tanda-tanda psikopat. Satu, tidak ada penyesalan setelah membunuh manusia di hadapan anak di bawah umur. Halo saudara-saudara sekalian, aku masih di bawah umur. Dua, beraninya dia membiarkan mayat tergeletak sembarangan di dekat gadis sepolos aku. (Tidak bermaksud menyombong, ya. Hatiku seputih melati, apalagi jiwaku ... oh, aku lupa. jiwaku sehitam p****t panci yang tidak pernah digosok.) Setidaknya ia bisa memanggil keamanan sebelum bertindak. Tiga, membunuh tanpa ragu bahkan menggunakan metode barbar. Empat, (isi sendiri deskripsi yang menurut kalian sesuai dengan tipikal musuh masyarakat).  Bukan seperti ini rencanaku. Tolong, Om Rugal (jangan tertipu wajahnya. Memang dari luar ia kelihatan seperti berusia sekitar dua puluhan, namun sebenarnya usia Penyihir Rugal jauh di atas Raja). Tolong izinkan aku hidup damai. Setelah berhasil membina hubungan baik dengan algojo 1 dan 2, aku tidak berencana melakukan hubungan bilateral dengan algojo 3. Kenapa nasibku tidak seindah Yuna? Yuna, ada di mana kau? Tidakkah kau ingin menanmbah daftar cowok keren dalam kerajaan harem milikmu?  “Dulu,” kata Penyihir Rugal sembari menunjuk langit, atau mungkin ia menunjuk malaikat maut, atau mungkin ia memanggil pencatat kuota nyawa. “Kau sekecil ini,” katanya menyejajarkan tinggiku selutut. “Bocah cengeng yang selalu menempel kepada Joseph. Nah, apa sekarang kau ingin menangis?” “Kenapa aku harus menangis?” Kalau maksudnya melihat mayat bisa menciutkan nyali maka ia salah besar. Aku pernah melihat hal yang jauh lebih buruk daripada berandalan yang mati termutilasi. “Tuan, tolong singkirkan jenazah mereka.” “Kauberani memerintahku?” Astaga, padahal aku sudah menggunakan kata tolon, tapi tampaknya masih terdengar kurang sopan di telinga Penyihir Rugal. “Maaf,” kataku terburu-buru. “Maksudku ... begini ... terima kasih telah menyelamatkan kami. Mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan dan maaf, kami sebaiknya melapor ke keamanan dan segera pulang.” Aku mengutuk penulis! Teganya dia menciptakan karakter sadis, narsis, tukang perintah. Dunia ini membutuhkan manusia berempati yang bisa mengerti kemalangan sesamanya. Tidak perlu menambah daftar penjahat dan pria sadis. Apa gunanya wajah tampan, tetapi sifat minus di bawah standar kemanusiaan? Percuma! Dengarkan aku, kerupawanan itu.... “Sudah dibereskan,” kata Penyihir Rugal sembari menjentikkan jari. Terdengar suara poof dan mayat beserta darahnya pun hilang. Nah, mungkin Penyihir Rugal sedang waras. Syukurlah.  “Terima kasih,” kataku. Kuraih tangan Emily. Wow, dia gemetar. Begitu takutnya hingga mengabaikan Penyihir Rugal. Ia langsung merapatkan tubuh kepadaku sembari terisak. “Maaf, merepotkan Anda. Sepertinya kami benar-benar harus pergi.” “Kapan-kapan berkunjunglah ke Menara Sihir.” Enak saja. Tidak mau. Menara Sihir tempat yang tidak diperuntukkan bagi orang biasa. Sudah jelas posisiku tidak penting dan hanya “mantan tokoh antagonis”. Mana mungkin mereka mempersilakanku? Sebenarnya aku ingin tertawa, tapi takut nyawa melayang. Sungguh tidak lucu. Tidak lucu. TIDAK LUCU!  “Tuan, sepertinya tawaran Anda terlalu eklusif dan mahal.” Seulas senyum tersungging di bibirnya. “Katakan, aku mengundangmu.” Sontak bulu halus di leherku pun berdiri. Sensasi merinding seolah bertemu hantu guling pun mengguncangku. Bahkan, rasa bergidik ini jauh lebih menakutkan daripada ulangan mendadak.  “Tuan, terima kasih.” Setelahnya aku menarik Emily pergi bersamaku. Kami tidak menoleh ke belakang. Aku bahkan tidak peduli tatapan panas Penyihir Rugal yang terus terarah ke punggungku. Satu-satunya yang kuinginkan hanyalah pulang secepatnya.  *** Joseph meningkatkan keamanan. Kini barang yang kubutuhkan selalu dipesan dan diantar langsung ke rumah. Tidak ada jalan-jalan. Tidak ada cuci mata. Sebagai anak baik, aku pun menurut dan tidak mengeluh. Hari demi hari kuhabiskan belajar dan membuat boneka. Sebagian boneka dijual sementara sisanya diberikan secara gratis kepada kenalan Inocia. Suatu saat aku iseng membuat boneka Raja dan malangnya Inocia mengirim boneka tersebut ke istana. Lalu, hadiah tak terduga datang.  “Sayang, apa yang harus kita lakukan dengan semua hadiah mewah ini?” Joseph terpana menatap tumpukan kotak hadiah yang diletakkan di ruang tamu. Sebagian berisi perhiasan mewah yang kuduga nilainya bisa membuat jiwa miskinku merana, beberapa berisi kosmetik, adapula yang berisi pakaian, dan sisanya aku tidak ingin tahu. Barangkali Raja mewarisi sifat boros dari leluhurnya. “Alina bisa langsung mencobanya,” Inocia menyarankan. Ia meraih gaun merah berhias permata berbentuk mawar. (Aku benci mawar! Berhentilah menyuruhku mengenakan busana tersebut!) “Sayang, sini.” “Ibunda, sebaiknya kita kembalikan semuanya.” “Aku setuju,” Joseph menyahut, senang. “Ayah bisa membelikan yang lebih bagus dari ini.” “Joseph, harga satu permata yang ada di gaun ini setara satu kota.” Perutku mulas. Sebaiknya barang semahal itu tidak diberikan kepadaku.  “Seharusnya kau tidak mengirimkan boneka itu.” Joseph duduk, tak mampu memandang tumpukan hadiah pemberian Raja Narsis. “Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Aku mencoba meraih buku yang disampul kulit. Yah, setidaknya ada satu pemberian Raja yang kusukai. “Dia hanya meminta undangan debut Alina.” Aku dan Joseph terperangah. Biasanya Raja tidak akan menghadiri acara debut orang biasa. Tapi, bila Raja datang ke acara debutku.... Hancur rencana hidup santaiku! “Bolehkah aku mengundang Nox, Ayah?” “Dia mungkin tidak bisa hadir.” “Kata siapa?” Inocia mengedip. “Dia pasti bersedia menghadiri acara putriku.” Sebenarnya rencanaku seperti ini: Nox akan bertemu Caius → Mereka berkenalan → Lalu mereka berteman → Mungkin mereka akan merasa cocok → Aku dilupakan. Hore! Rencanaku sukses. “Apa Tuan Flaming juga akan diundang?” “Mungkin,” Joseph menjawab. “Sekadar formalitas. Ada baiknya kita mengirim undangan.” Rene Flaming? Apakah yang mereka maksud paman Yuna? Apa Yuna akan hadir di acaraku? Berarti aku tidak boleh menyiakan keberuntungan pertemuan cinta segitiga antara Yuna, Caius, dan Nox. Aku akan berusaha mempersatukan mereka dalam mahligai cinta. Lalu, setelahnya aku bisa kabur ke zona aman.  “Ayah, bolehkah aku memakai gaun—” “Alina,” Inocia memotong. “Bagaimana kalau kau mengenakan busana bernuansa mawar?” Oke. *** Malam itu aku bermimpi. Nox dan aku. Kami berdua mengenakan pakaian bernuansa putih. Langit bersemburat oranye. Sejauh mata memandang terbentang ribuan kuntum bunga liar yang tengah mekar. Angin berembus, menerbangkan aneka kelopak bunga.  “Alina....” Nox menggenggam tanganku. Jemariku tampak mungil dalam genggaman tangannya. Rumput terasa lembut di bawah kakiku yang tak mengenakan alas apa pun. “Alina....” Suara gelegar memekakkan telinga. Langit berganti ungu muram. Angin terasa perih setiap kali berembus. Bunga-bunga sekarat ... layu ... mati.  “Caius?” Sosok yang kini menggenggam tanganku berganti Caius. Jubah hitamnya berkibar seakan sayap malaikat maut terbentang menutup angkasa. Tatapan Caius terasa menusuk walau senyum tersungging di wajahnya. Aku berusaha melepaskan cengkeraman tangan Caius, tapi ia bersikukuk mempertahankan. “Lepaskan aku!” “Alina, jangan tinggalkan aku.” Tanah berguncang. Pohon dan tanaman berduri tumbuh menggantikan bunga-bunga elok. Di setiap cabang pohon, bertenggerlah gagak bermata merah. mereka mangaok, menatapku dengan sorot menuduh.  “Tidak! Aku tidak mau!” “Alina, kau dan aku terikat takdir.” “Caius, lepaskan aku!” “Alina....” Caius menarikku jatuh ke dalam kegelapan. Kelam. Tidak ada cahaya penerang. Ia merengkuhku dalam ketiadaan. Bahkan, samar-samar aku mendengarnya berbisik, “Alina, kau milikku selamanya.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN