Gara-gara Kamu

1092 Kata
Mas Ari menunjukkan sebuah plastik. Wajahnya muram, bahkan aku bisa melihat urat leher dan rahangnya mengencang. Aku harus jawab apa? "Bukan apa-apa," balasku asal. Lalu, masuk dan duduk di pinggir ranjang. Pikiranku melayang saat mengingat sebuah kecurigaan meskipun belum tahu apakah benar aku mengalaminya. "Bukan apa-apa gimana? Ini, kan, punya kamu. Coba jelaskan ini obat apa? Kamu sakit? Kamu beli di mana obat beginian? Jangan sampai kamu tambah sakit dan aku yang kerepotan nanti!" Aku masih diam tergugu. Ucapan Mas Ari semakin membuat kepalaku sakit. Badan sudah terasa meriang, dia malah mencemoh terus. Aku mulai menarik selimut dan melingkar di atas tempat tidur. "Rin!" "Rin! Malah tidur dia." Aku masih bisa mendengar suara decakan dari mulutnya. Terdengar benturan-benturan barang, mungkin dia sedang menatanya sendiri. Baru setelah beberapa saat terlelap, aku merasakan tempat tidur ini memantul-mantul. Kubuka mata sedikit, terlihat tubuh Mas Ari berpeluh tampak lelah. Dia langsung tidur. "Mas Ari!" "Mas! Kamu di rumah?" Suara dari luar sana begitu keras, sepertinya aku mengenalinya. Mumpung Mas Ari tidur, aku kasih kejutan saja wanita itu. Pintu kamar memang sedikit terbuka. Aku segera menutup diri dengan selimut bersama Mas Ari. "Mas Ari, kamu di dalam?" Aku membuka mata sedikit ketika wanita itu membuka pintunya dengan lebar. Betapa dia terkejut melihatku tengah memeluk Mas Ari. "Mas Ariiiiii!" Teriakan yang begitu kencang memekik telinga. Wanita itu berhasil membuat Mas Ari terperanjat dan bangkit dari tidurnya. Mas Ari yang hendak mengejar wanita itu langsung kutarik tangannya. "Mas, mau ngapain?" "Lepaskan aku, Rin! Gara-gara kamu Rina jadi marah dan salah paham." Mas Ari menghempaskan tanganku. "Salah paham bagaimana, Mas? Kamu itu suamiku, bukan suami dia!" "Tapi, aku mencintai dia bukan kamu!" Mas Ari menghilang dari pandangan mata. Dia mengejar wanita itu. Terlihat dari jendela yang tertutup korden. Mereka tampak berseteru dan Mas Ari terus mengejarnya. Sudah jelas, Mas Ari menginginkan aku kembali hanya untuk maksud tertentu. Aku yakin, dia tertekan menikah denganku. Kulihat lagi pakaian yang sudah dijemur sejak tadi. Lumayan kering, aku bisa memakainya lagi. Pintu segera kututup dan pergi pulang. Kebetulan sekali lewat warteg, aku pun membeli sebungkus nasi dan berniat memakannya nanti di kontrakan. Berjalan dengan kantung plastik berisi makanan yang terayun, aku menyusuri trotoar. Jalan dengan setengah melamun, sampai tak menyadari bahwa ada kubangan air bekas hujan yang dilewati oleh sebuah mobil. Alhasil, air kotor tadi mengenaiku. Dua kali sudah terkena malang. Mungkin, aku memang cocok di tempat yang rendah. "Kamu enggak apa-apa?" Seseorang menghampiriku. Dia keluar dari mobil mewahnya. "Enggak," balasku masih dengan tatapan lemas. Hanya memastikan diriku baik-baik saja. "Rumah kamu di mana biar saya antar," tanya lelaki itu lagi. Setelah mendongak, betapa terkejut ternyata aku mengenalinya. Dia .... "Kenapa diam saja? Ayo, saya antar. Kamu mau ke mana? Maaf, ya, saya enggak tau kalau tadi ad air bekas hujan." Pria itu begitu bersahaja. Lembut dan sopan meski dengan orang yang tidak dia kenal. "Enggak apa-apa, Pak. Bapak lanjut saja, saya kebetulan mau pulang. Enggak ke mana-mana." Aku mengangkat tangan sebagai penolakan atas tawarannya. "Saya benar-benar enggak enak. Begini saja, ini ada sedikit buat ganti cucian ke laundry. Kalau kurang, kamu bilang saja." "Enggak usah, Pak. Enggak usah!" Aku menangkupkan kedua tangan lagi. "Eh, tapi ...." Pria itu menatapku lekat. Bukan pada wajahku melainkan pada pakaian. "Ini mirip sekali dengan seragam karyawan saya. Apa kamu kerja di ...." "Iya, saya kerja di kantor Bapak. Saya bagian office girl." "Oh. Maaf, ya? Bukan saya bermaksud menghina, tapi terimalah ini. Sebagai tanda maaf, ya?" Dia terus memaksa. Pria bernama lengkap Raphael Aditama itu tetap menyerahkan beberapa lembaran merah padaku. "Makasih banyak, Pak. Duh, saya jadi enggak enak. Udah izin pulang awal, malah dapat ini." Aku tak meneruskan menyebut itu bonus atau sebagai permintaan maaf. "Udah enggak apa-apa. Biar saya antar, ya? Ayo, masuk." Dia membuka pintu mobilnya. Meski sudah kukatakan kalau pakaian ini kotor, dia tetap terus memintaku masuk. Kami mengobrol sedikit tentang kerjaan dan dia sama sekali tak menyinggung tentang hidupku. Tinggal dengan siapa, sudah menikah atau belum dan tidak memandang kasta. Mungkin, dia sudah paham atau memang sudah pernah merasakan menjadi sepertiku yang sebatang kara. "Saya turun di sini saja, Pak." "Di sini? Oh, kamu tinggal di daerah sini?" Pria berwajah oriental itu lantas menghentikan mobilnya. Dia ikut turun dan memastikanku hingga tepat di depan kontrakan. *** "Kemarin enggak balik lagi, kenapa?" Susi bertanya saat kami sama-sama membersihkan lantai lorong. Pagi-pagi sekali, aku dan dia sudah datang karena mengejar lembur sampai malam nanti. Hasilnya cukup lumayan untuk makan berhari-hari. "Ada halangan aja. Pak Ari katanya yang akan bilang ke Bu Risma, kemarin. Tapi, enggak tau udah apa belum. Aku langsung pulang aja soalnya. Badanku sakit semua." "Loh, lu sama Pak Ari ketemu di mana? Kenapa bisa klop begitu? Dia itu terkenal jutek. Apalagi sama karyawan baru." Aku bingung harus menjelaskan bagaimana. Jangan sampai semua tahu kalau aku dan Mas Ari adalah suami istri. Bisa tamat riwayatku. Dia pasti mengamuk nanti. Kami melanjutkan lagi mengepel sebagian lantai sesuai bagian masing-masing. Kebetulan sekali, Susi mengganti kain pel yang memang sudah waktunya. Aku menunggunya di lorong sepi dengan menyandar dinding. "Hai, kamu sendirian?" Direktur utama datang. Dia mengulas senyum padaku. Aku pun membalas dengan hal yang sama disertai dengan tubuh sedikit membungkuk. "Iya, Pak. Nunggu temen ambil alat." Pria itu memberikan isyarat pada ajudannya yang berdiri di belakang sana. Lantas segera mereka pergi. Suasana semakin tak enak ketika pria berkemeja putih dilapisi rompi hitam itu mulai mendekat lagi. Aku semakin tak tenang, berharap Susi segera datang. "Pak, saya mau lihat teman saya dulu." Aku hampir melewatinya. "Tunggu," cegahnya membuatku semakin bimbang. "Nanti siang, tolong ke ruangan saya, ya? Ada yang mau saya katakan." Ha, aku sedikit terkejut. Bersama itu pula, Susi datang sambil menutup mulutnya. Mungkin juga kaget karena ini kali pertamanya, aku bicara dengan pria dewasa itu di kantor. Setelah sebelumnya sangat jarang melihat pria itu. "Baik, Pak." Pak Raphael melanjutkan lagi langkah kakinya. Melihat itu, Susi segera menghampiri. Gadis bertubuh semok itu menoel lenganku dan membisik sesuatu, "Wih, ngomong apaan tadi Pak Raphael? Kelihatannya, akrab bener kalian. Aku sempat dengar dikit." Susi tertawa. "Hus, jangan sembarang! Nanti kalau orangnya dengar, bisa gawat kita. Aku cuman diminta bersihkan ruangannya aja kali. Siang nanti disuruh ke sana." Susi mengangguk. Selesai membersihkan di sana, kami kembali. Sama seperti kemarin, aku harus melihat kemesraan suami sendiri dengan wanita lain. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Mungkin mereka sudah baikan lagi. Aku sengaja pura-pura tak melihat dan menghindar meski hati terasa perih menggores lagi. Aku tidak bisa begini terus. Aku juga tak mau mendapat dosa setiap hari karena pergi darinya. Aku harus menemui keluarga Mas Ari untuk membicarakan semua ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN