Ke Sekolah Dara

1605 Kata
Adam beringsut karena tidak nyaman dengan keberadaan Fany, wanita bertubuh sintal itu tidak segan meletakkan tangannya di paha Adam agar Adam tidak beringsut lagi. Dengan kaki yang disilangkan ke atas, semakin terlihat kulit mulus wanita itu. Perasaan Adam semakin tidak enak, akhirnya dia berdiri, "Maaf, aku harus pulang," ujar Adam seraya berjalan ke mobilnya. Fany mengejar Adam dan tiba-tiba dia terjatuh karena memakai sepatu hak tinggi. Adam menoleh, dia bingung harus apa, jika menolongnya berarti dia akan bersentuhan dengan wanita itu. Lelaki mana yang tidak tergoda dengan wanita berpakaian minim seperti itu. Melihat Fany meringis kesakitan, Adam akan seperti lelaki yang jahat karena membiarkan wanita itu. Saat ada seorang wanita yang berjalan melewatinya, dia meminta wanita itu membantu Fany berdiri. Adam segera meninggalkan tempat itu, dengan tatapan kesal dari Fany. "Mari, saya bantu, Mbak," ucap seorang wanita yang dipanggil Adam tadi. "Tidak usah, aku bisa sendiri," ketus Fany sembari berdiri dan mengumpat. Adam segera melajukan mobilnya untuk segera pulang, perasaannya menjadi tidak enak apalagi tadi meninggalkan April dalam keadaan bersedih. Adam membuka pintu pelan agar tidak mengganggu pemilik mimpi di rumahnya. Sayup-sayup terdengar suara rengekan Dara, entah kenapa bocah kecil itu belum tidur. Ditajamkan pendengarannya untuk mengtahui rengekan putri kecilnya itu. Adam mendekatkan diri di depan pintu kamar. "Dara pengen sekolah, Dara 'kan sudah besar." Suara Dara membuat Adam tersadar kalau putrinya sudah besar. 'Adam, kemana saja kamu selama ini," batinnya. "Iya, besok kita bilang Ayah. Sekarang Dara tidur dulu." Suara April terdengar menenangkan Dara. "Aku mau bilang Ayah sekarang." Dara semakin merengek. Adam tersenyum mendengarnya. Dara memang persis seperti Arumi, jika punya keinginan, pasti tidak berhenti merengek kalau belum dituruti. Adam merasa kasihan dengan April, dia masih terlalu muda untuk menjadi wanita dewasa karena Dara. Adam begitu salut dengan kesabaran April menghadapi putrinya. Hubungan mereka sudah seperti ibu dan anak, pikir Adam. Namun, seketika dia menolak perasaan itu, tidak mungkin ada yang bisa menggantikan Arumi sebagai istri maupun sebagai ibu. April hanya sebagai pengasuh Dara, begitulah Adam mengelak perasaannya. Rengekan Dara masih terdengar, akhirnya Adam mengetuk pintu kamar mereka. April membukakan pintu kamar dan langsung menundukkan wajahnya, gara-gara menangis tadi, kini dia malu menampakkan wajahnya di hadapan lelaki dewasa itu. Adam langsung masuk dan menghampiri putrinya yang merajuk. "Kenapa belum tidur?" tanya Adam lembut. Dara langsung memeluk ayahnya, "Dara mau tidur sama Ayah, sama Tante April juga," rengek Dara. Mereka berdua tersentak mendengar permintaan Dara, April langsung menggeleng cepat. "Dara, Tante itu bukan Ibunya Dara, jadi kita tidak boleh tidur bersama," terang Adam. Dia tidak menyangka Dara mengatakan itu, padahal Dara tadi merengek karena ingin sekolah. "Kata teman-teman, Dara nggak boleh sekolah kalau nggak punya ibu." Dara mengerucutkan bibirnya. "Siapa yang bilang?" tanya Adam terheran. "Ryan sama Billa," jawab gadis kecil itu sedih. "Pril?" Adam mempertanyakan pada April. "Tadi Dara minta menelpon mereka, Kak," jawab April. Adam mengangkat tubuh putrinya dan meletakkannya di pangkuannya. Diusapnya rambut sang putri lalu menciumnya. "Sayang, yang mereka katakan itu tidak benar. Dara boleh sekolah meskipun tidak punya Ibu, 'kan ada Ayah." Adam berusaha menjelaskan pada putrinya. "Tapi Dara pengen punya Ibu." Mendengar ucapan putrinya, hatinya terasa sesak, dia tidak pernah menyangka jika putrinya merindukan sosok ibu. Dia pikir, bersama eyang putrinya itu sudah cukup menggantikan sosok ibu dan Dara hanya butuh kasih sayangnya saja saat ini. "Dara 'kan punya Ibu, tapi Ibu Dara sudah ada di surga." Diusapnya lembut rambut putrinya penuh rasa sayang. Gadis sekecil itu tidak pernah merasakan kasih sayang ibunya, pikir Adam. "Kata Billa, Ayah sama Ibu itu tidurnya bareng. Dara pengen Ayah tidur bareng Dara dan Tante April biar Tante bisa jadi Ibunya Dara," ujar gadis polos itu. Ucapan Dara membuat April salah tingkah, padahal tadi sudah dijelaskan, tapi kenapa gadis itu malah mengatakan pada ayahnya. "Sayang, bukan seperti itu. Kalau Tante jadi ibunya Dara, Ayah harus menikah dulu sama Tante," ucap Adam berusaha meluruskan pemahaman putrinya. "Ayah nikah saja sama Tante, nanti Dara bilang sama Eyang, pasti boleh." "Sayang, Tante April itu masih kecil, jadi tidak bisa jadi Ibunya Dara," kilah Adam yang seketika membuat April menelan ludahnya, tenggorokannya terasa tercekat. "Iya, 'kan, Tante?" Adam bertanya pada April untuk membenarkan ucapannya. April semakin salah tingkah, dia sangat kesal karena Adam menganggapnya masih kecil. "Pril?" ulang Adam. April berpikir sejenak, kalau dia meng-iyakan ucapan Adam, berarti tidak ada harapan baginya untuk menjadi istri Adam, tapi kalau dia mengatakan perasaannya, bukankah itu memalukan. "Ih, siapa bilang aku masih kecil," protes April. Akhirnya dia memberanikan diri mengatakannya meskipun sebenarnya dia tidak percaya diri. Dia selalu ingat ucapan Alifa, kalau dia harus memulai. Adam tersentak mendengar jawaban April, "Apa maksudmu?" tanyanya pada April. "Aku, 'kan sudah 23 tahun, bukan anak kecil," jawab April sembari salah tingkah. "Hore … berarti Tante April bisa jadi Ibunya Dara, ye!" Bocah berponi itu berteriak riang. April tersenyum puas mendapat dukungan dari Dara sedangkan Adam, dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Sesekali matanya melirik gadis ingusan itu yang terlihat begitu riang, dia benar-benar tidak mengerti dengan April. Mana mungkin April bisa berpikir sejauh itu. Menjadi ibunya Dara. Adam menggeleng, dia menepis segala kemungkinan yang terjadi. "Tante, aku mau telpon Eyang," pinta Dara sambil menarik tangan April. "Ini sudah malam, besok saja," jawab April. "Nggak mau, Dara maunya sekarang, biar Ayah sama Tante menikah sekarang," rengek Dara. Uhuk! Adam terbatuk mendengar penuturan polos putrinya, semakin lama dia di sana semakin tidak bisa mengelak permintaan putrinya. "Pril, kamu jelaskan sama Dara. Aku pusing," ujar Adam kemudian meninggalkan kamar itu. Adam segera menuju kamarnya, dia semakin dibuat pusing oleh putrinya. Dia segera mengganti bajunya dan merebahkan diri. Namun, tiba-tiba saja permintaan Dara membuatnya tersenyum, dia berpikir bahwa April yang sudah mempengaruhi Dara. *** Seperti biasa, Dara dan April sudah menunggunya di ruang makan. Dara menyambut Ayahnya dengan senyum cerianya. "Selamat pagi, Ayah!" Suara riang Dara semakin membuat suasana hati Adam semakin baik. "Selamat pagi, Sayang. Apa kamu tidur nyenyak?" tanya Adam sembari mencubit pipi putrinya. "Iya, Ayah. Dara 'kan tidur sama Ibu," jawab Dara tanpa merasa bersalah. April menjadi salah tingkah, semalam mereka memang sedang bermain ibu dan anak, tapi bocah kecil itu malah memanggilnya ibu. "Ibu?" Adam mengernyit. "Iya, Tante April 'kan sekarang jadi Ibunya Dara," jawab Dara polos. Adam langsung tersedak, April segera mengambilkan air minum untuk Adam. Adam menatap April meminta penjelasan, April menggeleng. Dia tidak berani mengatakan kalau semalam mereka memang bermain ibu dan anak. "Kamu pasti yang mengajarinya, ya," lirih Adam sedikit mendekati April. "Tidak, Kak," elak April, meskipun sebenarnya dia sangat senang dipanggil Ibu oleh Dara. Adam masih tidak percaya dengan jawaban April, mana mungkin gadis sekecil itu tiba-tiba memanggil April ibu, pikir Adam. "Nanti, jam istirahat kantor kalian bersiap. Kita ke sekolah Dara," ujar Adam. "Dara sekolah, Yah?" tanya Dara dengan mata berbinar. "Iya, nanti siap-siap, ya, Ayah jemput," ucap Adam. "Pril, kamu siapkan Dara, kamu juga harus siap, pakai baju yang sopan jangan seperti anak kecil," sambung Adam. April menatap Adam yang tengah menghabiskan makanannya, hatinya serasa berbunga-bunga mendengar ucapan Adam. Apa mungkin dia akan dijadikan ibunya Dara, pikir April. . Jam istirahat. Adam izin untuk mendaftarkan putrinya ke sekolah dan sekalian berbelanja perlengkapan sekolah putrinya. Adam segera melajukan mobilnya untuk menjemput putrinya. Dia sebelumnya sudah menghubungi pihak sekolah untuk mendaftarkan Dara. Adam menekan klakson saat sudah berada di depan pagar rumah. April yang sudah bersiap sejak setengah jam yang lalu langsung keluar sembari menggandeng Dara. Adam keluar membukakan pintu, matanya tak berkedip saat melihat April begitu anggun dengan tunik yang dia belikan waktu di Mall. April terlihat lebih dewasa memakai tunik itu, apalagi rambut panjangnya diikat rapi ke belakang. Sudah pantas menjadi ibunya Dara, pikiran itu terlintas di benaknya Adam, tapi segera ditepisnya. "Ibu, nanti kalau Dara ke sekolah, Ibu ikut Ayah saja biar ada temannya," celoteh Dara masih terbawa permainannya. Gadis kecil itu bahkan tidak bisa membedakan antara bermain dan sungguhan. April tersipu malu karena Dara masih memanggilnya ibu, padahal April sudah melarangnya untuk tidak memanggilnya ibu saat tidak sedang bermain. Adam menatap jok belakang dari kaca spion sambil menggeleng atas kekonyolan April dan putrinya. Sesekali dia juga melirik April yang terlihat berbeda saat ini. Mobil memasuki pelataran gedung sekolah. Dara bersorak girang saat Adam membukakan pintu mobil. "Ayah, Dara sekolah di sini?" tanya Dara dengan mata berbinar. Matanya menyusuri setiap sudut sekolah. Dara begitu senang saat terlihat anak-anak seumurannya bermain di tempat bermain yang begitu luas. "Ayo, kita ke ruang guru dulu," ajak Adam sembari menggandeng tangan putrinya. Mereka bertiga saling bergandengan tangan seperti sebuah keluarga. "Selamat siang, Pak, Bu, mari silahkan duduk," sapa Rahma--salah satu guru di sekolah itu. Mereka duduk bersebelahan, Dara menempel manja pada April. "Siapa namanya?" tanya Rahma sambil menjawil pipi Dara yang menggemaskan. "Namaku Dara," jawab Dara dengan suara lantang. "Ini Ayah dan Ibunya Dara," ucap Dara lagi yang membuat Adam dan April tersentak. "Bukan, Bu." Adam menyahuti ucapan Dara. "Ayah, Tante April 'kan mau jadi ibunya Dara," protes Dara. Rahma tersenyum melihat tingkah mereka, melihat data pribadi Dara, Rahma sudah tahu kalau Adam adalah orang tua tunggal.Saat melihat kedatangan mereka bertiga, mereka memang seperti keluarga. "Maaf, Bu, jangan dengarkan ucapan Dara," ujar Adam sambil salah tingkah. "Tidak apa-apa, Pak. Mudah-mudahan segala urusannya lancar, jangan lupa kabari kami atas hari bahagianya," tukas Rahma. "Pasti, Bu," jawab April, tanpa dia sadari Adam semakin salah tingkah. Setelah membayar administrasi, mereka pamit pulang. Adam masih kepikiran ucapan April yang membenarkan pertanyaan guru Dara. Ingin sekali Adam menegurnya saat itu, tapi dia takut akan menyakiti hati April. Akhirnya dia diam saja membiarkan Dara dan April masih bermain ibu dan anak. Setelah dari sekolah Dara, Adam membelikan perlengkapan sekolah Dara kemudian mengantar mereka pulang. Adam masih merasa risih saat Dara memanggil April dengan panggilan ibu, sedangkan April malah terlihat senang dipanggil Ibu oleh Dara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN