Gugat Cerai

1021 Kata
Aku mengernyitkan dahi, yuk? Kok bisa Mas Ikbal malah bangkit dan bersiap untuk pergi? Apa ia akan mengantarkan aku? "Yuk kemana?" tanyaku. "Ke pengadilan kan?" jawab Mas Ikbal. "Aku sendiri aja," tolakku. "Udah, kamu tuh gak usah kebanyakan nolak rejeki." Mas Ikbal menarik tanganku agar bisa mengikuti langkanhnya. Pria ini memang tak pernah menyerah dan selalu keras kepala. "Lulu ...!" Seseorang menyentakku dengan suara lantang. Suara yang aku kenali sebagai kakak iparku, kakak perempuan Mas Angga. "Ada apa ini?" tanya beliau. Aku tak mengerti harus bagaimana menjelaskan semuanya pada Mbak Risa, apalagi jelas aku tertangkap tengah berdua bersama Mas Ikbal yang juga adalah saudara sepupu Mas Angga. "Udah, gak ada yang perlu di jelasin. Aku pikir saat Angga ngomong tentang perselingkuhan kamu itu semua bohong ya, tega kamu sampe bunuh anak kamu sendiri demi hubungan terlarang ini!" Mbak Risa benar-benar tak memberikan aku kesempatan untuk mengatakan apapun. Beliau menunjukan rasa kecewa yang teramat dalam. Namun, tunggu. Mengapa Mbak Risa mengatakan tentang perselingkuhan yang aku lakukan? Apa Mas Angga telah mengatakan kebohongan di depan keluarganya? "Mbak, semua gak seperti apa yang kamu pikir!" sentak Mas Ikbal. "Udah Bal, kamu gak usah banyak alasan. Kasihan Diva yang tinggal nunggu waktu buat hubungan kalian, kamu jangan bodoh. Jangan mau tergoda sama wanita su*dal seperti dia!" Mbak Risa menunjuk wajahku dengan sorot mata tajam penuh amarah. Cobaan apalagi ini, mengapa Mas Angga begitu tega memfitnah aku seperti ini? "Yuk Lu, gak usah perduliin orang yang cuma memandang sesuatu dari satu sisi!" Mas Ikbal kembali menarik tanganku dan membawaku pergi menjauh dari Mbak Risa. Kakak iparku itu bertambah marah, ia semakin emosi melihat apa yang Mas Ikbal lakukan. Sementara itu Mas Ikbal justru tidak perduli dengan teriakan Mbak Risa yang menyuruh kami untuk berhenti. "Masuk aja Lu," perintah Mas Ikbal. Aku sempat menolak keinginannya agar aku masuk kedalam mobilnya, tapi Mas Ikbal nampak serius saat menyuruhku untuk masuk. "Sudah Lu, masuk saja. Kamu harus tahu gimana keluarga Angga yang sebenarnya," ucap Mas Ikbal. Aku masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu, kemudian diikuti Mas Ikbal yang duduk di belakang kemudi. "Kamu mungkin gak tahu Lu, keluarga suami kamu itu liciknya bukan main," jelas Mas Ikbal. Aku mengernyitkan alis, "Licik gimana Mas?" tanyaku penasaran. "Kamu tahu kenapa keluarga besar mertua kamu gak ada yang mau kumpul pas kamu nikah?" cerca Mas Ikbal. Aku menggeleng, saat pernikahan itu memang aku merasa sedikit keanehan. Keluarga Mas Ikbal nampak tidak harmonis, meski mereka selalu mengatakan bahwa keluarga besar iri dengan kesusksesan yang di raih oleh orangtua Mas Ikbal. Namun, aku juga tak tahu pasti apa yang membuat pesta meriah itu hanya di hadiri oleh beberapa keluarga saja. Padahal, keluargaku yang tidak terlalu banyak saja sangat ramai ketika pesta di adakan di rumahku. "Aku kasih tahu kamu ya Lu, Tante Septi itu bikin rumah kamu sama Angga bukan dari tender proyek yang Om Sandi menangkan. Aku yakin kamu akan terkejut saat tahu dari mana mereka dapet uang itu," ungkap Mas Ikbal yang masih menggantung. Sebulan setelah menikah, orangtua Mas Ikbal memang membuatkan aku dan suamiku rumah. Rumah yang cukup mewah untuk pasangan pengantin baru seperti kami berdua. Namun, karena menurut Mas Angga itu semua bentuk dari rasa syukur mertuaku, jadi aku tak pernah lagi menanyakan darimana mereka memiliki uang. Lagipula, rasanya tidak etis saat menantu yang baru masuk ke dalam keluarga ini tiba-tiba menanyakan tentang keuangan keluarga ini. "Memangnya mertuaku dapat uang darimana?" tanyaku semakin penasaran. Mas Ikbal tersenyum sinis, sorot kebencian jelas terpancar dari kedua mata itu. Aku benar-benar tak pernah melihat ia seperti ini sebelumnya. "Tante Septi itu jual tanah yang ada di pusat kota, dia tega ngelakuin semua sebelum eyang meninggal. Setelah dia jual, dia malah gak mau ngerawat Eyang putri. Ban*sat emang mertua kamu!" Aku terkejut bukan main saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut pria yang terlihat pendiam. Aku pun sedikit ragu dengan apa yang ia ceritakan. Setahuku, mertuaku tidak mau merawat ibunya karena sikap ibunya yang dulu pernah menyia-nyiakan beliau saat masih kecil, semacam dendam pribadi. "Kamu mau percaya ya monggo, engga percaya ya aku gak akan maksa. Terserah kamu aja sih," ucap Mas Ikbal. Aku hanya tersenyum getir, entah harus bagaimana menanggapi ucapannya karena aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Aku hanya takut Mas Ikbal tengah memanfaatkan keadaan saat ini. Yang pasti ia tahu aku tengah merasa benci pada suamiku. Meski begitu, aku harus bisa berpikir jernih. Kalaupun memang benar Mas Angga dan keluarganya licik seperti apa yang Mas Ikbal katakan, aku benar-benar merasa beruntung karena bisa terlepas dengan hubungan toxic seperti ini. Setelah sampai di pengadilan, aku meminta Mas Ikbal untuk pergi dan tidak menungguku. Aku hanya tak ingin menimbulkan fitnah yang lebih besar jika ada yang melihat Mas Ikbal mengantarkan aku ke pengadilan. Aku segera mendaftarkan gugatan perceraian, bagaimanapun aku benar-benar tak ingin lagi mengingat semua tentang masalalu yang begitu menyakitkan. Setelah ini, mungkin aku akan mengunjungi makam putriku. Atau mungkin esok aku akan pergi bersama ibu, bayi malang yang seharusnya kini sudah berada di dalam pelukanku justru harus pergi selamanya karena keegoisan ayah kandungnya. "Lucia Safira!" Pengeras suara memanggil namaku, aku segera mendekat ke arah petugas yang mencatat perceraian. "Tunggu sampai ada undangan dari pengadilan ya," jelasnya. Aku mengangguk kemudian bergegas pergi meninggalkan gedung tersebut. Dalam perjalanan pulang dengan menaiki ojek online, aku melihat sebuah pemandangan yang membuat aku harus mengingat semua tentang suamiku. Dengan jelas aku melihat Mas Angga keluar dari sebuah pusat perbelanjaan bersama seorang wanita, ia terlihat bahagia. Bahkan, ia pergi bersama ibu mertuaku yang sama sekali tidak menanyakan kabarku setelah kejadian kemarin. Tidakkah mereka merasa kehilangan anakku juga? Mas Angga adalah ayah dari anak yang aku kandung, tapi kenapa ia seolah tidak perduli dengan kepergian anakku? Malang sekali nasibmu Nak, tak di akui oleh keluarga ayahmu. Semoga engkau bahagia disana bersama bidadari yang menemanimu di surga. "Pak, boleh menepi sebentar?" tanyaku pada driver ojek online yang membawaku. Sebelum lampu lalulintas berubah menjadi hijau, beliau mau menepikan motor maticnya. "Terima kasih ya Pak, sebentar saja." Aku langsung mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar Mas Angga dan wanita selingkuhannya. Entah dimana pikiran ibu mertuaku sehingga beliau bisa merestui hubungan terlarang putranya yang sudah berstatus suami orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN