Waktu terus berlalu, kini hubungan Brian dan Iren semakin hari semakin baik. Iren bahagia dengan perubahan sikap Brian, dirinya semakin yakin, kalau Brian tak lagi memikirkan mantan kekasihnya itu. Apalagi Brian sudah mulai menerima dirinya sebagai istrinya seutuhnya. “Kak, aku berharap, tak lama lagi akan ada suara tangis anak kecil di rumah ini.” Iren menyandarkan kepalanya di bahu Brian. Mereka baru saja menjalankan tugas mereka sebagai sepasang suami istri. Iren dan Brian sama-sama merasa lelah, karena tenaga mereka sama-sama terkuras habis. “Aku belum siap mempunyai anak, Ren. Kamu masih kuliah juga.” “Tapi aku gak ingin menundanya, Kak. Aku ingin sekali mengandung anak Kakak.” Iren bahkan harus mendongakkan wajahnya guna menatap wajah tampan sang suami. Brian menghela nafas, di

