Thomas melihat Iren yang saat ini tengah berjalan ke arahnya. Entah mengapa bayang-bayang tubuh polos Iren kembali berputar di otaknya. Iren melihat ada dua piring nasi goreng di atas meja makan. “Kakak bisa masak?” tanyanya sambil mengernyitkan dahinya. Seorang Thomas bisa masak, bagi Iren itu sangat mustahil. Tapi sekarang di atas meja makannya terdapat dua piring nasi goreng yang mungkin sudah mulai dingin. “Temani gue makan. Gue tau lo pasti juga belum makan.” “Aku sudah makan tadi,” ucap Iren berbohong karena setelah itu perutnya mulai berbunyi minta untuk segera diisi. “Gue tau lo bohong. Duduklah. Gue gak tau masakah gue sama seperti selera lo apa gak. Tapi lo tenang aja, gue gak masukin racun atau obat perangsang dalam makanan itu,” ucap Thomas lalu kembali menyuap satu suap n

