Seperti janjinya tadi saat di telepon. Kini Brian sudah berada di depan rumahnya. Rumah yang dulu dirinya tempati bersama dengan Iren—istrinya. Brian menatap bangunan dua lantai yang saat ini ada di depannya. Ia menghela nafas panjang, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu rumah itu. Ia lalu membuka pintu rumah itu secara perlahan. Tatapannya mengedar ke seluruh ruangan. Dengan langkah pelan, Brian mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu. Ia melihat seorang wanita paruh baya yang tak lain asisten rumah tangga yang dirinya pekerjakan untuk mengurus rumahnya. “Bi, dimana Iren?” “Aku disini, Kak.” Kini Iren tengah menuruni anak tangga. Sejak tadi dirinya melihat dari balkon kamarnya saat mobil Brian sudah berhenti di depan rumah mereka. Tapi Iren mengernyitkan dahinya, saa

