Brian saat ini tengah berdiri di depan pintu kamar Aruna. Tapi dirinya hanya diam tanpa mengetuk pintu yang ada di depannya saat ini. Tapi tatapannya tak beralih dari pintu yang ada di depannya. Brian ragu untuk mengetuk pintu itu. Takut, kalau Aruna akan kembali menolak dan mengusirnya seperti kemarin. Tapi dirinya rindu pada sosok mungil pemilik nama Aruna yang sudah mengisi relung hatinya selama ini. Tapi rasa rindunya sudah membuat dadanya terasa sesak. Selama seminggu ini tak ada lagi senyuman manis yang biasa dirinya lihat setiap hari. Tak ada lagi sikap manja yang selalu membuatnya tersenyum kala melihat sikap sang pujaan hati. Brian menghela nafas, lalu menghembuskannya secara perlahan. Dirinya mencoba untuk menenangkan dirinya dan mengumpulkan keberaniannya untuk mengetuk pintu

