"Kalung ini kah penyebabnya? Tapi masa iya sih kalung ini kalung ajaib seperti di dalam dongeng-dongeng?"
Xia He menatap intens kalung yang melingkar indah di lehernya. Menatapnya lamat-lamat dengan pikiran bercabang.
"Apa mungkin ini kalung ajaib yang bisa mengabulkan semua permintaan?"
Gadis cantik itu meraup wajahnya kasar. "Bisa-bisanya kehidupanku penuh dengan keajaiban sekarang."
Tak mau ambil pusing, ia pun melupakan masalah itu dan mengalihkan pikirannya ke hal lain.
Ia kembali ke kasur. Menghempaskan tubuhnya di sana. Bersiap untuk memasuki alam mimpi lagi, akan tetapi niatnya tidak tercapai akibat diserang panah secara tiba-tiba.
Untung saja ia refleks menghindar sehingga tubuh sexynya tidak tertusuk panah.
"Siapa yang menyerang ku di pagi yang indah ini?!" Sentaknya kesal seraya mendekati jendela tanpa merasa takut sama sekali. Namun, dia tetap berhati-hati. Maklum, dia tidak ingin tubuhnya meninggalkan bekas luka.
Xia He menoleh ke sana ke mari, tapi tidak menemukan siapa pun di sekitar sana. Begitu sunyi dan sepi.
"Buat orang yang menyerang ku tadi, fucekk!" Umpatnya dengan jari tengah yang terangkat lalu menutup jendela penuh emosi.
Setelah menutup jendela, Xia He kembali ke tempat tidur. Tidak berniat untuk sarapan sama sekali meskipun perutnya sudah minta di isi.
Yah, begitu lah dia.
Dia lebih menuruti rasa malasnya dibandingkan dengan menuruti perutnya yang minta diisi.
Sementara itu, di luar kediaman Xia He. Lebih tepatnya di atas batang pohon.
Seorang pria tampan sedang tersenyum miring melihat jendela kamar Xia He.
Pria tampan itu tidak menyangka akan disuguhkan dengan tontonan menarik hari ini.
Pertama, dia melihat Xia He yang katanya seorang gadis buruk rupa ternyata seorang gadis cantik.
Kedua, dia melihat tingkah Xia He yang sangat berbeda dari rumor.
Ketiga, tingkah Xia He sangat lah lucu.
Dia menjadi tertarik dengan gadis itu dan niat awalnya yang ingin mencelakai berbalik ingin melindungi.
Mulai sekarang, Xia He adalah miliknya dan siapa pun yang menganggu Xia He adalah musuhnya.
Musuh yang akan ia hancurkan tanpa tersisa sedikit pun.
Tidak lama setelah itu, akhirnya pria itu pun pergi dari sana. Berniat menyusun rencana untuk memiliki gadis itu seutuhnya.
****
Sesosok gadis bertudung hijau terlihat sedang menatap was-was di sekitarnya.
Gerak geriknya begitu hati-hati akibat takut ketahuan oleh orang lain.
Kala Tidak melihat siapa pun di sana, ia langsung berlari ke gerbang belakang kediaman.
Berlari sekencang mungkin sebelum ada orang melihatnya keluar dari sana.
Dan yah, gadis cantik itu adalah Xia He. Ia berniat untuk keluar dari kediaman. Tujuannya adalah jalan-jalan sore.
Dengan hanfu hijau dan rambut terurai bebas, dia terus berlari kencang sampai keluar dari kediaman.
Helaan nafas lega keluar dari mulutnya kala sudah jauh dari Kediaman Perdana Mentri He.
Ia berjalan pelan sembari mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat berlari.
"Huh, capek." Keluhnya seraya mengipasi wajahnya yang kepanasan.
"Aku berhenti sebentar aja kali ya." Gumamnya lagi.
Akhirnya, dia pun berhenti di salah satu kursi sambil menyandarkan punggungnya ke Sandaran kursi.
Wajahnya mendongak, menatap langit sore yang sangat indah.
Para burung tampak terbang secara berkelompok disertai dengan suara mereka. Seolah mereka sedang mengobrol satu sama lain.
Senyuman menghiasi bibirnya. "Suasana hatiku semakin membaik melihat semua ini." Merentangkan tangannya dan menarik nafas dalam-dalam.
"Aduhh!" Ringisnya kala sebuah benda keras mengenai punggungnya. Dengan secepat kilat ia pun berbalik untuk melihat si pelaku.
"Heh! Kau yang melemparkan bola ini padaku?!" Tanyanya kesal dengan tatapan tajam.
Bukannya menjawab, orang yang ditanyai Xia He malah tertunduk dalam seperti sedang mengheningkan cipta. "Maaf, kak. Aku tidak sengaja." Ujarnya gemetar. Tiba-tiba wajah orang itu terangkat dan matanya menatap lurus Xia He. Sepasang bola mata nan indah milik orang itu terlihat berkaca-kaca.
Xia He mendadak terdiam melihat hal itu. Bukan, bukan. Maksudnya ia terdiam melihat sosok orang yang dimarahinya tersebut.
Orang yang dimarahinya itu adalah seorang pria tampan berambut perak. Tubuhnya besar dan gagah. Wajahnya putih dan mulus disertai dengan alis hitam nan tebal. Bibirnya pun terlihat sangat kissable. Dan yang paling terpenting, pakaian pria itu terlihat seperti pakaian orang berada.
Pria itu adalah pria tertampan yang pernah Xia He lihat selama hidupnya!
"Pangeran Anming bodoh! Jangan membuat masalah lagi atau saya akan mengadukan Anda ke kaisar."
Xia He mengerjap pelan.
Jadi, orang yang di depannya ini Pangeran Anming, tunangannya?!
Bersambung....