Rasa lega menghampiri Xia He kala sudah selesai membersihkan diri di kolam pemandian.
Rambut hitam nan panjangnya masih terlihat basah. Tidak berniat sama sekali mengeringkan rambutnya karena menurutnya rambut basah itu sangat menyenangkan.
Gadis itu berjalan menuju dapur untuk mengisi perutnya yang terasa lapar.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya ia sampai di tempat tujuan.
Para dayang yang bertugas di sana tidak menyambut kedatangannya sama sekali. Mereka hanya melirik sekilas dan setelah itu kembali melanjutkan acara gosip mereka.
Xia He yang diperlakukan seperti itu memutar bola mata malas.
Dengan langkah besar dan wajah kesalnya, ia mendekati sekumpulan dayang di sana dan mengeluarkan aura penuh intimidasinya.
"Kalian ini digaji di sini untuk memasakkan majikan kalian makanan!" Sentaknya.
Para dayang itu berhenti bergosip dan menatap Xia He malas.
"Bukannya malah menggosip tidak jelas dan mengabaikan tuan kalian yang ingin makan. Kalian mau membuat tuan kalian mati kelaparan, hah?!" Sentaknya lagi.
Salah satu dayang berdecak keras dan menyahut dengan santainya. "Kalau kau lapar, masak lah sendiri. Jangan menyusahkan kami, sampah."
Xia He semakin kesal mendengar perkataan dayang tersebut.
"Kalau tidak ingin disusahkan oleh ku, pergi lah kalian dari kediaman ini! Pintu keluar terbuka lebar untuk kalian." Jawab Xia He penuh penekanan.
Para dayang menatap Xia He tajam. "Kau tidak punya hak mengusir kami dari sini."
Xia He tertawa licik. "Tidak punya hak?" Ia berjalan mendekati pisau dapur yang berbagai macam. Mengambil salah satunya dan menelitinya. "Sepertinya pisau ini cukup untuk merobek mulut berbisa kalian."
Para dayang melotot kaget.
"Cepat masak atau pisau ini akan merobek mulut kalian tanpa ampun dan aku tidak bercanda sama sekali." Ancamnya penuh intimidasi sehingga para dayang langsung bergegas memasak.
"Makanannya harus enak! Awas saja kalau tidak enak, jari-jari kalian akan ku potong satu persatu." Ujarnya dengan senyuman manis yang mengerikan.
Para dayang bergidik ngeri mendengar perkataan gila Xia He.
Entah kenapa mereka yakin Xia He tidak main-main dengan ucapannya. Makanya mereka langsung mengerjakan tugas.
Sembari menunggu, Xia He duduk di salah satu kursi sambil melahap buah apel.
Tangannya terus memainkan pisau sehingga semakin mengintimidasi dayang.
Para dayang takut tiba-tiba pisau itu sudah menancap saja di punggung mereka kalau mereka tidak serius dalam memasak.
Menurut mereka, meskipun Xia He itu lemah dan sering sakit-sakitan. Xia He itu sangat bodoh. Contohnya mengejar-ngejar pangeran mahkota tanpa tahu malu. Sudah ditolak dan dipermalukan, tetap saja mengejar-ngejar pangeran mahkota tersebut. Bisa saja kan Xia He benar-benar menyakiti mereka tanpa memikirkan akibatnya.
"Nona, kenapa Anda meninggalkan saya sendirian?" Tanya Mu Nian dengan raut wajah sedih.
Xia He hanya melirik sekilas sembari terus mengunyah apelnya.
"Saya menunggu Anda dengan setia di sana seperti orang bodoh tapi Anda tidak kunjung kembali. Saya bahkan sampai di usir oleh pemilik toko dari sana, Nona."
'bodo amat' batin Xia He tidak peduli.
"Kenapa Nona tidak kunjung kembali? Apakah nona berniat membuang saya? Apa salah saya, nona?"
Xia He menoleh malas. "Aku lupa." Sahutnya singkat.
Mu Nian tercengang tidak percaya. "Kenapa Anda bisa melupakan saya, nona?"
"Tentu saja karena kau bukan orang penting dalam hidupku. Sudah, sudah! Jangan drama lagi! Lebih baik kau segera mengganti pakaian jelekmu itu dan bersihkan kamarku. Saat aku kembali nanti, kamarku sudah harus bersih kinclong!"
Mu Nian terdiam dengan wajah kecut mendengar perkataan Xia He.
Melihat keterdiaman dayang satu itu, Xia He mengerutkan keningnya kesal. "Kenapa masih di sini?! Cepat pergi sana!"
Mu Nian tiba-tiba menangis sehingga membuat Xia He menghela nafas kasar.
"Kenapa Nona berubah?" Tanya Mu Nian seolah menjadi gadis paling tersakiti di dunia.
"Jangan drama di sini! Pergi!!"
Mu Nian langsung berlari meninggalkan Xia He dengan wajah berderai air mata. Dan Xia He tahu bahwasanya gadis itu hanya sedang drama. Tujuan Mu Nian drama tentu saja untuk menarik simpatinya. Sayang sekali, dia tidak merasakan simpati sama sekali. Ia malah merasa geli dengan tingkah sok tersakiti Mu Nian. "Benar-benar Menggelikan."
Bersambung...