Aku menundukkan wajah, menghindari tatapan Brenda yang seperti menunggu jawaban dari kami. Genta sendiri juga nggak langsung menanggapi pertanyaan Maya, dia malah sibuk mengunyah makanannya. Ayolah, jawaban apa yang harus aku jawab untuk pertanyaan yang menjebak seperti ini? "Kelihatannya?" Genta balik bertanya dengan wajah nggak peduli. Dia kemudian meneguk air mineralnya. Ini semua salah Genta karena nggak pernah mau mendengarkan perkataanku. Aku sudah berkali-kali meminta agar dia menjaga sikapnya saat berada di kantor, tapi tampaknya dia memang sengaja melakukan ini semua. "Kalau kami memang pacaran, memang ada yang salah?" tanyanya kemudian. Nadanya tetap saja terdengar cuek. Sedangkan aku sudah hampir kehabisan napas menunggu reaksi dari Maya dan Brenda. "Nggak sih, Mas. Cuma pena

